alexametrics
24.1 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Masih Utamakan Pesanan meski Ruko Hampir Ambrol

Setelah dilanda banjir beberapa pekan lalu, musibah kembali melanda Kabupaten Jember. Kini, masyarakat Jember dihadapkan dengan ambruknya sembilan ruko di kawasan Jompo. Kejadian tersebut tentu mengakibatkan sesak di dada, terutama bagi para pedagang yang terdampak. Apa yang akan mereka lakukan demi melanjutkan kehidupan?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keringat bercampur debu menyelimuti wajah-wajah sejumlah masyarakat di sekitar Jembatan Jompo, kemarin (2/3) siang. Mereka berbondong-bondong menyaksikan backhoe alias ekskavator yang sedang meratakan tanah di sekitar reruntuhan ruko dekat Kali Jompo. Kejadian yang merobohkan sedikitnya sembilan ruko tersebut ternyata juga membuat pemilik ruko lain terdampak.

Salah satunya adalah Agus Sugimianto, 53. Adik dari pemilik usaha jahit Fani Bagaspati tersebut harus rela memindahkan sejumlah barang ada di tokonya, yang berjarak hanya 15 meter dari batas ruko yang ambrol. Untungnya, dia tak sendirian saat mengosongkan barang-barang di dalam ruko. Bersama tiga orang pesuruh dan satu orang dari Pemkab Jember, mereka bergotong royong menyelesaikan tugas itu.

Dia menjelaskan bahwa sang kakak sedang berada di pendapa untuk mengikuti rapat. Rapat itu bakal membahas kelanjutan ruko pascaambruk kemarin (2/3) sekitar pukul 03.30. “Toko ini milik kakak saya. Namanya adalah Kiki Handiyono,” tutur pria 53 tahun tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Agus menuturkan, dia dan kakaknya membeli ruko ini pada 1980 silam dengan harga Rp 25 juta. Kemudian, dicicil sebesar Rp 48 ribu per bulan. “Sekarang cicilannya menjadi Rp 200 ribu,” ungkap warga Perumahan Kodim di Jalan Brawijaya, Kelurahan Jubung Lor, Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, tersebut.

Sebelumnya, dirinya membuka usaha di Pasar Johar. Namun, karena ada penggusuran, Agus dan kakaknya pindah ke Jompo pada 1980. Saat itu tak ada kendala yang berarti. “Hanya masalah parkir saja,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keringat bercampur debu menyelimuti wajah-wajah sejumlah masyarakat di sekitar Jembatan Jompo, kemarin (2/3) siang. Mereka berbondong-bondong menyaksikan backhoe alias ekskavator yang sedang meratakan tanah di sekitar reruntuhan ruko dekat Kali Jompo. Kejadian yang merobohkan sedikitnya sembilan ruko tersebut ternyata juga membuat pemilik ruko lain terdampak.

Salah satunya adalah Agus Sugimianto, 53. Adik dari pemilik usaha jahit Fani Bagaspati tersebut harus rela memindahkan sejumlah barang ada di tokonya, yang berjarak hanya 15 meter dari batas ruko yang ambrol. Untungnya, dia tak sendirian saat mengosongkan barang-barang di dalam ruko. Bersama tiga orang pesuruh dan satu orang dari Pemkab Jember, mereka bergotong royong menyelesaikan tugas itu.

Dia menjelaskan bahwa sang kakak sedang berada di pendapa untuk mengikuti rapat. Rapat itu bakal membahas kelanjutan ruko pascaambruk kemarin (2/3) sekitar pukul 03.30. “Toko ini milik kakak saya. Namanya adalah Kiki Handiyono,” tutur pria 53 tahun tersebut.

Agus menuturkan, dia dan kakaknya membeli ruko ini pada 1980 silam dengan harga Rp 25 juta. Kemudian, dicicil sebesar Rp 48 ribu per bulan. “Sekarang cicilannya menjadi Rp 200 ribu,” ungkap warga Perumahan Kodim di Jalan Brawijaya, Kelurahan Jubung Lor, Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, tersebut.

Sebelumnya, dirinya membuka usaha di Pasar Johar. Namun, karena ada penggusuran, Agus dan kakaknya pindah ke Jompo pada 1980. Saat itu tak ada kendala yang berarti. “Hanya masalah parkir saja,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keringat bercampur debu menyelimuti wajah-wajah sejumlah masyarakat di sekitar Jembatan Jompo, kemarin (2/3) siang. Mereka berbondong-bondong menyaksikan backhoe alias ekskavator yang sedang meratakan tanah di sekitar reruntuhan ruko dekat Kali Jompo. Kejadian yang merobohkan sedikitnya sembilan ruko tersebut ternyata juga membuat pemilik ruko lain terdampak.

Salah satunya adalah Agus Sugimianto, 53. Adik dari pemilik usaha jahit Fani Bagaspati tersebut harus rela memindahkan sejumlah barang ada di tokonya, yang berjarak hanya 15 meter dari batas ruko yang ambrol. Untungnya, dia tak sendirian saat mengosongkan barang-barang di dalam ruko. Bersama tiga orang pesuruh dan satu orang dari Pemkab Jember, mereka bergotong royong menyelesaikan tugas itu.

Dia menjelaskan bahwa sang kakak sedang berada di pendapa untuk mengikuti rapat. Rapat itu bakal membahas kelanjutan ruko pascaambruk kemarin (2/3) sekitar pukul 03.30. “Toko ini milik kakak saya. Namanya adalah Kiki Handiyono,” tutur pria 53 tahun tersebut.

Agus menuturkan, dia dan kakaknya membeli ruko ini pada 1980 silam dengan harga Rp 25 juta. Kemudian, dicicil sebesar Rp 48 ribu per bulan. “Sekarang cicilannya menjadi Rp 200 ribu,” ungkap warga Perumahan Kodim di Jalan Brawijaya, Kelurahan Jubung Lor, Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, tersebut.

Sebelumnya, dirinya membuka usaha di Pasar Johar. Namun, karena ada penggusuran, Agus dan kakaknya pindah ke Jompo pada 1980. Saat itu tak ada kendala yang berarti. “Hanya masalah parkir saja,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/