alexametrics
27.6 C
Jember
Monday, 4 July 2022

Masih Bertahan di Tenda Pengungsian

Sebanyak 108 KK, Mayoritas Pekerja Kebun

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Banjir bandang yang menerjang Perkebunan Kalijompo, Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi, akhir pekan kemarin (1/2), membuat akses jalan ke kebun terputus. Tak hanya itu, sekitar 108 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 334 jiwa masih bertahan di tenda pengungsian yang terletak di lapangan Perkebunan Kalijompo. Para pengungsi banjir bandang ini mayoritas adalah pekerja perkebunan.

Mereka memilih tetap berada di pengungsian karena khawatir terjadi banjir bandang susulan. Apalagi kalau sore sudah mendung, warga lebih memilih tinggal di tenda penampungan ketimbang pulang ke rumah masing-masing.

Asbaya, mengatakan, dirinya saat terjadi banjir bandang berada di rumahnya di Desa Banjarsengon, Sukorambi. Kala itu, dia mendengar suara gemuruh air sungai. Setelah ditengok, rupanya air berwarna keruh itu membawa material lumpur, batu dan kayu hingga membuat keluarganya panik.

Mobile_AP_Rectangle 2

Beruntung, pihak kebun sigap mengevakuasi warga menuju lapangan. “Saat itu ada suara pengumuman dari pelantang suara masjid agar segera menyelamatkan diri,” ujar perempuan 45 tahun tersebut.

Hal senada juga disampaikan Komariah, 30, warga Banjarsengon. Dia bersama suami, anak, ibu dan bapaknya, langsung berlari ke lokasi lebih tinggi ketika mengetahui ada air bah datang dari hulu sungai. “Kami takut hanyut, karena air sungai sangat deras dan keruh. Bau lumpurnya juga sangat menyengat,” ujarnya. Komariah merasa beruntung petugas kebun segera membawa keluarganya ke lokasi pengungsian.

Kendati saat ini telah aman di lokasi pengungsiang, tapi dua perempuan ini sama-sama mengaku penasaran dengan kondisi rumahnya. Apakah terdampak banjir atau tidak. Mereka pun berharap, rumah yang ditinggalkannya tidak terendam banjir. “Kalau kondisi tidak hujan lagi, kami mau kembali ke rumah,” kata Asbaya.

Karyawan Pabrik Diliburkan

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Banjir bandang yang menerjang Perkebunan Kalijompo, Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi, akhir pekan kemarin (1/2), membuat akses jalan ke kebun terputus. Tak hanya itu, sekitar 108 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 334 jiwa masih bertahan di tenda pengungsian yang terletak di lapangan Perkebunan Kalijompo. Para pengungsi banjir bandang ini mayoritas adalah pekerja perkebunan.

Mereka memilih tetap berada di pengungsian karena khawatir terjadi banjir bandang susulan. Apalagi kalau sore sudah mendung, warga lebih memilih tinggal di tenda penampungan ketimbang pulang ke rumah masing-masing.

Asbaya, mengatakan, dirinya saat terjadi banjir bandang berada di rumahnya di Desa Banjarsengon, Sukorambi. Kala itu, dia mendengar suara gemuruh air sungai. Setelah ditengok, rupanya air berwarna keruh itu membawa material lumpur, batu dan kayu hingga membuat keluarganya panik.

Beruntung, pihak kebun sigap mengevakuasi warga menuju lapangan. “Saat itu ada suara pengumuman dari pelantang suara masjid agar segera menyelamatkan diri,” ujar perempuan 45 tahun tersebut.

Hal senada juga disampaikan Komariah, 30, warga Banjarsengon. Dia bersama suami, anak, ibu dan bapaknya, langsung berlari ke lokasi lebih tinggi ketika mengetahui ada air bah datang dari hulu sungai. “Kami takut hanyut, karena air sungai sangat deras dan keruh. Bau lumpurnya juga sangat menyengat,” ujarnya. Komariah merasa beruntung petugas kebun segera membawa keluarganya ke lokasi pengungsian.

Kendati saat ini telah aman di lokasi pengungsiang, tapi dua perempuan ini sama-sama mengaku penasaran dengan kondisi rumahnya. Apakah terdampak banjir atau tidak. Mereka pun berharap, rumah yang ditinggalkannya tidak terendam banjir. “Kalau kondisi tidak hujan lagi, kami mau kembali ke rumah,” kata Asbaya.

Karyawan Pabrik Diliburkan

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Banjir bandang yang menerjang Perkebunan Kalijompo, Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi, akhir pekan kemarin (1/2), membuat akses jalan ke kebun terputus. Tak hanya itu, sekitar 108 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 334 jiwa masih bertahan di tenda pengungsian yang terletak di lapangan Perkebunan Kalijompo. Para pengungsi banjir bandang ini mayoritas adalah pekerja perkebunan.

Mereka memilih tetap berada di pengungsian karena khawatir terjadi banjir bandang susulan. Apalagi kalau sore sudah mendung, warga lebih memilih tinggal di tenda penampungan ketimbang pulang ke rumah masing-masing.

Asbaya, mengatakan, dirinya saat terjadi banjir bandang berada di rumahnya di Desa Banjarsengon, Sukorambi. Kala itu, dia mendengar suara gemuruh air sungai. Setelah ditengok, rupanya air berwarna keruh itu membawa material lumpur, batu dan kayu hingga membuat keluarganya panik.

Beruntung, pihak kebun sigap mengevakuasi warga menuju lapangan. “Saat itu ada suara pengumuman dari pelantang suara masjid agar segera menyelamatkan diri,” ujar perempuan 45 tahun tersebut.

Hal senada juga disampaikan Komariah, 30, warga Banjarsengon. Dia bersama suami, anak, ibu dan bapaknya, langsung berlari ke lokasi lebih tinggi ketika mengetahui ada air bah datang dari hulu sungai. “Kami takut hanyut, karena air sungai sangat deras dan keruh. Bau lumpurnya juga sangat menyengat,” ujarnya. Komariah merasa beruntung petugas kebun segera membawa keluarganya ke lokasi pengungsian.

Kendati saat ini telah aman di lokasi pengungsiang, tapi dua perempuan ini sama-sama mengaku penasaran dengan kondisi rumahnya. Apakah terdampak banjir atau tidak. Mereka pun berharap, rumah yang ditinggalkannya tidak terendam banjir. “Kalau kondisi tidak hujan lagi, kami mau kembali ke rumah,” kata Asbaya.

Karyawan Pabrik Diliburkan

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/