alexametrics
23 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Benarkah Penghasilan Minim Sebabkan Perceraian ?

Mobile_AP_Rectangle 1

Selain itu, Nur Chozin juga menyinggung faktor terjadinya perceraian paling mendominasi. Salah satunya adalah dipicu faktor perselisihan dalam rumah tangga pasutri, yang angkanya selama 2021 tembus 2.890 perkara. Terbanyak kedua dipicu karena faktor ekonomi keluarga, yang tembus sebanyak 2.785 perkara. “Perselisihan internal keluarga menjadi penyebab paling banyak terjadinya kasus perceraian,” terang pria yang juga Hakim Juru Bicara PA Jember ini.

Jika ditarik lebih jauh, faktor ekonomi tersebut juga menjadi biang permasalahan atau perselisihan di internal keluarga. Terkadang suami tidak memiliki pemasukan tetap, lalu muncul keguncangan hingga berujung pertikaian di antara pasutri. Lebih-lebih, tingginya kasus cerai tersebut sedikit banyak juga dipengaruhi faktor pandemi. “Sepanjang tahun ini kondisi masih pandemi, sebagian orang sulit bekerja dan itu berpengaruh terhadap keharmonisan keluarga hingga membuat pasutri bercerai,” imbuhnya.

Dalam data resmi yang dikeluarkan Humas PA Jember, tercatat total kasus perceraian selama tahun 2021 sebanyak 5.891 perkara. Perincian faktor-faktor penyebabnya sebagai berikut; zina 2, mabuk 3, judi 8, dihukum penjara 6, poligami 4, KDRT 21, cacat badan 1, kawin paksa 2, murtad 6, meninggalkan salah satu pihak 163 perkara. Terbanyak disumbang faktor perselisihan dan pertengkaran terus-menerus yang tembus 2.890, dan faktor ekonomi 2.785 perkara. (mau/c2/rus)

- Advertisement -

Selain itu, Nur Chozin juga menyinggung faktor terjadinya perceraian paling mendominasi. Salah satunya adalah dipicu faktor perselisihan dalam rumah tangga pasutri, yang angkanya selama 2021 tembus 2.890 perkara. Terbanyak kedua dipicu karena faktor ekonomi keluarga, yang tembus sebanyak 2.785 perkara. “Perselisihan internal keluarga menjadi penyebab paling banyak terjadinya kasus perceraian,” terang pria yang juga Hakim Juru Bicara PA Jember ini.

Jika ditarik lebih jauh, faktor ekonomi tersebut juga menjadi biang permasalahan atau perselisihan di internal keluarga. Terkadang suami tidak memiliki pemasukan tetap, lalu muncul keguncangan hingga berujung pertikaian di antara pasutri. Lebih-lebih, tingginya kasus cerai tersebut sedikit banyak juga dipengaruhi faktor pandemi. “Sepanjang tahun ini kondisi masih pandemi, sebagian orang sulit bekerja dan itu berpengaruh terhadap keharmonisan keluarga hingga membuat pasutri bercerai,” imbuhnya.

Dalam data resmi yang dikeluarkan Humas PA Jember, tercatat total kasus perceraian selama tahun 2021 sebanyak 5.891 perkara. Perincian faktor-faktor penyebabnya sebagai berikut; zina 2, mabuk 3, judi 8, dihukum penjara 6, poligami 4, KDRT 21, cacat badan 1, kawin paksa 2, murtad 6, meninggalkan salah satu pihak 163 perkara. Terbanyak disumbang faktor perselisihan dan pertengkaran terus-menerus yang tembus 2.890, dan faktor ekonomi 2.785 perkara. (mau/c2/rus)

Selain itu, Nur Chozin juga menyinggung faktor terjadinya perceraian paling mendominasi. Salah satunya adalah dipicu faktor perselisihan dalam rumah tangga pasutri, yang angkanya selama 2021 tembus 2.890 perkara. Terbanyak kedua dipicu karena faktor ekonomi keluarga, yang tembus sebanyak 2.785 perkara. “Perselisihan internal keluarga menjadi penyebab paling banyak terjadinya kasus perceraian,” terang pria yang juga Hakim Juru Bicara PA Jember ini.

Jika ditarik lebih jauh, faktor ekonomi tersebut juga menjadi biang permasalahan atau perselisihan di internal keluarga. Terkadang suami tidak memiliki pemasukan tetap, lalu muncul keguncangan hingga berujung pertikaian di antara pasutri. Lebih-lebih, tingginya kasus cerai tersebut sedikit banyak juga dipengaruhi faktor pandemi. “Sepanjang tahun ini kondisi masih pandemi, sebagian orang sulit bekerja dan itu berpengaruh terhadap keharmonisan keluarga hingga membuat pasutri bercerai,” imbuhnya.

Dalam data resmi yang dikeluarkan Humas PA Jember, tercatat total kasus perceraian selama tahun 2021 sebanyak 5.891 perkara. Perincian faktor-faktor penyebabnya sebagai berikut; zina 2, mabuk 3, judi 8, dihukum penjara 6, poligami 4, KDRT 21, cacat badan 1, kawin paksa 2, murtad 6, meninggalkan salah satu pihak 163 perkara. Terbanyak disumbang faktor perselisihan dan pertengkaran terus-menerus yang tembus 2.890, dan faktor ekonomi 2.785 perkara. (mau/c2/rus)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/