alexametrics
23.5 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Berhasil Kendalikan Inflasi

Jember di Bawah Jatim dan Nasional

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perkembangan indeks harga konsumen (IHK) atau inflasi di Kabupaten Jember ditutup manis pada 2019. Tingkat inflasi sebesar 2,04 persen sepanjang 2019 masih berada di bawah inflasi Jawa Timur (Jatim) serta nasional yang terbukukan 2,12 persen dan 2,71 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jember Arif Joko Sutejo menjelaskan, pada Desember 2019 kemarin, Jember mengalami inflasi sebesar 0,54 persen. Jika diakumulasi, selama 2019 inflasi Jember tercatat 2,04 persen.

Selain di bawah Jatim dan nasional, besaran inflasi Jember juga di bawah Banyuwangi sebesar 2,32 persen. Kendati begitu, angkanya tetap lebih besar daripada Probolinggo yang terbukukan 1,99 persen, Kediri 1,83 persen, atau Malang 1,93 persen.

Mobile_AP_Rectangle 2

Besaran inflasi 2,04 persen tersebut juga lebih rendah dari inflasi 2018 lalu sebesar 2,95 persen, dan tahun 2017 sebesar 3,52 persen. “Sumbangsih inflasi di Jember masih didominasi oleh volatile foods,” jelasnya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember Hestu Wibowo mengatakan, inflasi pada Desember 2019 ini, Jember justru menjadi kota kedua tertinggi setelah Surabaya sebesar 0,60 persen. Walau begitu, dilihat dari kalender inflasi selama 2019, Jember masih di bawah Jatim bahkan nasional. “Akhirnya, 2019 Jember mampu mengendalikan inflasi dan pada bulan tertentu sempat mengalami deflasi seperti Februari dan Maret,” tuturnya.

Besaran inflasi 2,04 persen selama 2019, menurut Hestu, sesuai dengan proyeksi yang dibuat BI Jember. “Kami proyeksikan inflasi Jember ini antara 1,97–2,07 persen,” jelas Hestu. Inflasi Jember mampu dikendalikan karena tidak ada tekanan terlalu besar dari administration price dan volatile foods.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perkembangan indeks harga konsumen (IHK) atau inflasi di Kabupaten Jember ditutup manis pada 2019. Tingkat inflasi sebesar 2,04 persen sepanjang 2019 masih berada di bawah inflasi Jawa Timur (Jatim) serta nasional yang terbukukan 2,12 persen dan 2,71 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jember Arif Joko Sutejo menjelaskan, pada Desember 2019 kemarin, Jember mengalami inflasi sebesar 0,54 persen. Jika diakumulasi, selama 2019 inflasi Jember tercatat 2,04 persen.

Selain di bawah Jatim dan nasional, besaran inflasi Jember juga di bawah Banyuwangi sebesar 2,32 persen. Kendati begitu, angkanya tetap lebih besar daripada Probolinggo yang terbukukan 1,99 persen, Kediri 1,83 persen, atau Malang 1,93 persen.

Besaran inflasi 2,04 persen tersebut juga lebih rendah dari inflasi 2018 lalu sebesar 2,95 persen, dan tahun 2017 sebesar 3,52 persen. “Sumbangsih inflasi di Jember masih didominasi oleh volatile foods,” jelasnya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember Hestu Wibowo mengatakan, inflasi pada Desember 2019 ini, Jember justru menjadi kota kedua tertinggi setelah Surabaya sebesar 0,60 persen. Walau begitu, dilihat dari kalender inflasi selama 2019, Jember masih di bawah Jatim bahkan nasional. “Akhirnya, 2019 Jember mampu mengendalikan inflasi dan pada bulan tertentu sempat mengalami deflasi seperti Februari dan Maret,” tuturnya.

Besaran inflasi 2,04 persen selama 2019, menurut Hestu, sesuai dengan proyeksi yang dibuat BI Jember. “Kami proyeksikan inflasi Jember ini antara 1,97–2,07 persen,” jelas Hestu. Inflasi Jember mampu dikendalikan karena tidak ada tekanan terlalu besar dari administration price dan volatile foods.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Perkembangan indeks harga konsumen (IHK) atau inflasi di Kabupaten Jember ditutup manis pada 2019. Tingkat inflasi sebesar 2,04 persen sepanjang 2019 masih berada di bawah inflasi Jawa Timur (Jatim) serta nasional yang terbukukan 2,12 persen dan 2,71 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jember Arif Joko Sutejo menjelaskan, pada Desember 2019 kemarin, Jember mengalami inflasi sebesar 0,54 persen. Jika diakumulasi, selama 2019 inflasi Jember tercatat 2,04 persen.

Selain di bawah Jatim dan nasional, besaran inflasi Jember juga di bawah Banyuwangi sebesar 2,32 persen. Kendati begitu, angkanya tetap lebih besar daripada Probolinggo yang terbukukan 1,99 persen, Kediri 1,83 persen, atau Malang 1,93 persen.

Besaran inflasi 2,04 persen tersebut juga lebih rendah dari inflasi 2018 lalu sebesar 2,95 persen, dan tahun 2017 sebesar 3,52 persen. “Sumbangsih inflasi di Jember masih didominasi oleh volatile foods,” jelasnya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember Hestu Wibowo mengatakan, inflasi pada Desember 2019 ini, Jember justru menjadi kota kedua tertinggi setelah Surabaya sebesar 0,60 persen. Walau begitu, dilihat dari kalender inflasi selama 2019, Jember masih di bawah Jatim bahkan nasional. “Akhirnya, 2019 Jember mampu mengendalikan inflasi dan pada bulan tertentu sempat mengalami deflasi seperti Februari dan Maret,” tuturnya.

Besaran inflasi 2,04 persen selama 2019, menurut Hestu, sesuai dengan proyeksi yang dibuat BI Jember. “Kami proyeksikan inflasi Jember ini antara 1,97–2,07 persen,” jelas Hestu. Inflasi Jember mampu dikendalikan karena tidak ada tekanan terlalu besar dari administration price dan volatile foods.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/