25.9 C
Jember
Friday, 9 June 2023

Perjuangkan Hak Informasi Tunarungu dengan Jadi Jubir

Kepedulian Toni Muhammad Rijal kepada disabilitas tunarungu menjadikan alasan dia konsisten menjadi juru bicara isyarat (JBI) di Jember. Motivasinya tak lain memberikan hak informasi kepada tunarungu.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pria kelahiran 1999 itu diberkati rasa kemanusiaan yang tinggi. Saat duduk di bangku kuliah pada salah satu perguruan tinggi di Jember tahun 2019, Toni, panggilan akrabnya, berada satu ruangan dengan seorang penyandang tunarungu. Dia sangat ingin sekali berkomunikasi dengan teman tunarungu tersebut. Namun, karena keterbatasan, rupanya komunikasi tidak semudah dilakukan kepada orang normal lainnya.

BACA JUGA : Periksa Kesehatan Calon Pengantin untuk Cegah dan Tekan Angka Stunting

Di sisi lain, pria asal Desa Serut, Kecamatan Panti ini menyaksikan sebagian orang sangat lancar berkomunikasi dengan tunarungu, menggunakan bahasa isyarat. Hal ini merupakan awal Toni mempelajari bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan teman tunarungu. Toni mulai mengajak teman tunarungu yang satu kelas itu untuk berbicara. Dia pun berupaya keras untuk memahamkan komunikasinya. Di samping itu, dia juga mencari pelatihan belajar bahasa isyarat yang profesional.

Mobile_AP_Rectangle 2

Perlahan, Toni mulai memahami bentuk-bentuk gerakan isyarat dan maknanya. Kemudian, dia melatih pengetahuan bahasanya itu kepada teman tunarungu di kelasnya, setiap hari. “Pada saat itu pula, saya banyak bertemu dengan disabilitas tunarungu, sehingga saya bisa belajar langsung kepada mereka,” katanya saat diwawancara Jawa Pos Radar Jember.

Saat itu, Toni sudah mulai lihai berkomunikasi dengan tunarungu. Hingga dia mulai berani menerima undangan sebagai penerjemah dalam suatu acara besar di Jember. Rasa grogi dan tidak percaya diri mengelabui Toni saat itu. pasalnya, dia baru pertama berdiri di panggung untuk menerjemahkan bahasa menggunakan isyarat. “Sebelumnya kan hanya komunikasi biasa ya, tidak formal. Nah, waktu pertama itu kayak tidak percaya diri. Tapi, alhamdulillah lancar, karena saya niatkan untuk membantu mereka mendapatkan informasi,” terangnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pria kelahiran 1999 itu diberkati rasa kemanusiaan yang tinggi. Saat duduk di bangku kuliah pada salah satu perguruan tinggi di Jember tahun 2019, Toni, panggilan akrabnya, berada satu ruangan dengan seorang penyandang tunarungu. Dia sangat ingin sekali berkomunikasi dengan teman tunarungu tersebut. Namun, karena keterbatasan, rupanya komunikasi tidak semudah dilakukan kepada orang normal lainnya.

BACA JUGA : Periksa Kesehatan Calon Pengantin untuk Cegah dan Tekan Angka Stunting

Di sisi lain, pria asal Desa Serut, Kecamatan Panti ini menyaksikan sebagian orang sangat lancar berkomunikasi dengan tunarungu, menggunakan bahasa isyarat. Hal ini merupakan awal Toni mempelajari bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan teman tunarungu. Toni mulai mengajak teman tunarungu yang satu kelas itu untuk berbicara. Dia pun berupaya keras untuk memahamkan komunikasinya. Di samping itu, dia juga mencari pelatihan belajar bahasa isyarat yang profesional.

Perlahan, Toni mulai memahami bentuk-bentuk gerakan isyarat dan maknanya. Kemudian, dia melatih pengetahuan bahasanya itu kepada teman tunarungu di kelasnya, setiap hari. “Pada saat itu pula, saya banyak bertemu dengan disabilitas tunarungu, sehingga saya bisa belajar langsung kepada mereka,” katanya saat diwawancara Jawa Pos Radar Jember.

Saat itu, Toni sudah mulai lihai berkomunikasi dengan tunarungu. Hingga dia mulai berani menerima undangan sebagai penerjemah dalam suatu acara besar di Jember. Rasa grogi dan tidak percaya diri mengelabui Toni saat itu. pasalnya, dia baru pertama berdiri di panggung untuk menerjemahkan bahasa menggunakan isyarat. “Sebelumnya kan hanya komunikasi biasa ya, tidak formal. Nah, waktu pertama itu kayak tidak percaya diri. Tapi, alhamdulillah lancar, karena saya niatkan untuk membantu mereka mendapatkan informasi,” terangnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pria kelahiran 1999 itu diberkati rasa kemanusiaan yang tinggi. Saat duduk di bangku kuliah pada salah satu perguruan tinggi di Jember tahun 2019, Toni, panggilan akrabnya, berada satu ruangan dengan seorang penyandang tunarungu. Dia sangat ingin sekali berkomunikasi dengan teman tunarungu tersebut. Namun, karena keterbatasan, rupanya komunikasi tidak semudah dilakukan kepada orang normal lainnya.

BACA JUGA : Periksa Kesehatan Calon Pengantin untuk Cegah dan Tekan Angka Stunting

Di sisi lain, pria asal Desa Serut, Kecamatan Panti ini menyaksikan sebagian orang sangat lancar berkomunikasi dengan tunarungu, menggunakan bahasa isyarat. Hal ini merupakan awal Toni mempelajari bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan teman tunarungu. Toni mulai mengajak teman tunarungu yang satu kelas itu untuk berbicara. Dia pun berupaya keras untuk memahamkan komunikasinya. Di samping itu, dia juga mencari pelatihan belajar bahasa isyarat yang profesional.

Perlahan, Toni mulai memahami bentuk-bentuk gerakan isyarat dan maknanya. Kemudian, dia melatih pengetahuan bahasanya itu kepada teman tunarungu di kelasnya, setiap hari. “Pada saat itu pula, saya banyak bertemu dengan disabilitas tunarungu, sehingga saya bisa belajar langsung kepada mereka,” katanya saat diwawancara Jawa Pos Radar Jember.

Saat itu, Toni sudah mulai lihai berkomunikasi dengan tunarungu. Hingga dia mulai berani menerima undangan sebagai penerjemah dalam suatu acara besar di Jember. Rasa grogi dan tidak percaya diri mengelabui Toni saat itu. pasalnya, dia baru pertama berdiri di panggung untuk menerjemahkan bahasa menggunakan isyarat. “Sebelumnya kan hanya komunikasi biasa ya, tidak formal. Nah, waktu pertama itu kayak tidak percaya diri. Tapi, alhamdulillah lancar, karena saya niatkan untuk membantu mereka mendapatkan informasi,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca