alexametrics
26.5 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Sempat Ditentang Ortu, Kini Targetkan Bikin Buku Puisi

Mobile_AP_Rectangle 1

Sejak SMP, Salman Al Fariz telah kepincut syair karya Chairil Anwar. Dia kemudian mewujudkan kegemarannya pada dunia sastra dengan mencipta puisi dan cerpen. Hingga akhirnya, penyandang tunadaksa ini mendalami seni teater dan bergabung dengan komunitas sastra. Namun ternyata, di tengah perjalanan, Salman sempat terhadang restu orang tua. Bagaimana perjuangannya?

Dian Cahyani, Ambulu, Radar Jember

Wajah Salman menatap langit-langit serambi Masjid Jamik Ambulu. Dia berusaha mengingat-ingat kembali kapan persisnya mulai menyukai puisi. Salman mengernyit. Kerutan-kerutan di dahinya tampak bertemu antara satu dengan yang lain. “Sejak SMP, saya sudah suka puisi,” katanya, memecah kebekuan siang itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kepada Jawa Pos Radar Jember, ia mengaku, saat itu dirinya mulai giat mengirim karya ke mading sekolah. Namun, hobinya dalam menikmati sastra tak banyak orang tahu dan memperhatikan. Padahal, semasa sekolah ia rajin menulis bait-bait puisi dan beberapa cerita pendek (cerpen). Karya itu hanya dinikmatinya sendiri. Kecuali, jika karyanya diterima untuk diterbitkan dalam mading sekolah.

Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Kalimat ini cocok disematkan pada Salman. Sebab, sejak SD, dia sudah gemar membaca. Langganan buku yang dibacanya adalah kumpulan cerpen dan novel.  Dari sini, Salman punya banyak perbendaharaan kata untuk menyusun diksi yang baik.

Selain bersastra dalam tulisan, Salman juga memberanikan diri dengan mulai berkecimpung dalam sastra teater. Dia masuk di kegiatan ekstrakurikuler sekolah sejak bangku SMP hingga kini. Bagi Salman, memasuki seni teater merupakan proses belajar hidup yang sesungguhnya. Sebab, di ruang teater dirinya dihadapkan oleh banyak watak dan dituntut bisa menyesuaikan diri.

Sama halnya dengan kehidupan, Salman merasa, manusia akan dihadapkan dengan berbagai watak manusia lain dan dituntut untuk bisa berdamai dengan keadaan. Inilah pelajaran nomor wahid yang Salman petik dari seni teater. “Jadi, bagiku seni teater ini refleksi bersosial secara nyata di masyarakat,” ujar pria yang tinggal di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Ambulu, tersebut.

- Advertisement -

Sejak SMP, Salman Al Fariz telah kepincut syair karya Chairil Anwar. Dia kemudian mewujudkan kegemarannya pada dunia sastra dengan mencipta puisi dan cerpen. Hingga akhirnya, penyandang tunadaksa ini mendalami seni teater dan bergabung dengan komunitas sastra. Namun ternyata, di tengah perjalanan, Salman sempat terhadang restu orang tua. Bagaimana perjuangannya?

Dian Cahyani, Ambulu, Radar Jember

Wajah Salman menatap langit-langit serambi Masjid Jamik Ambulu. Dia berusaha mengingat-ingat kembali kapan persisnya mulai menyukai puisi. Salman mengernyit. Kerutan-kerutan di dahinya tampak bertemu antara satu dengan yang lain. “Sejak SMP, saya sudah suka puisi,” katanya, memecah kebekuan siang itu.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, ia mengaku, saat itu dirinya mulai giat mengirim karya ke mading sekolah. Namun, hobinya dalam menikmati sastra tak banyak orang tahu dan memperhatikan. Padahal, semasa sekolah ia rajin menulis bait-bait puisi dan beberapa cerita pendek (cerpen). Karya itu hanya dinikmatinya sendiri. Kecuali, jika karyanya diterima untuk diterbitkan dalam mading sekolah.

Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Kalimat ini cocok disematkan pada Salman. Sebab, sejak SD, dia sudah gemar membaca. Langganan buku yang dibacanya adalah kumpulan cerpen dan novel.  Dari sini, Salman punya banyak perbendaharaan kata untuk menyusun diksi yang baik.

Selain bersastra dalam tulisan, Salman juga memberanikan diri dengan mulai berkecimpung dalam sastra teater. Dia masuk di kegiatan ekstrakurikuler sekolah sejak bangku SMP hingga kini. Bagi Salman, memasuki seni teater merupakan proses belajar hidup yang sesungguhnya. Sebab, di ruang teater dirinya dihadapkan oleh banyak watak dan dituntut bisa menyesuaikan diri.

Sama halnya dengan kehidupan, Salman merasa, manusia akan dihadapkan dengan berbagai watak manusia lain dan dituntut untuk bisa berdamai dengan keadaan. Inilah pelajaran nomor wahid yang Salman petik dari seni teater. “Jadi, bagiku seni teater ini refleksi bersosial secara nyata di masyarakat,” ujar pria yang tinggal di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Ambulu, tersebut.

Sejak SMP, Salman Al Fariz telah kepincut syair karya Chairil Anwar. Dia kemudian mewujudkan kegemarannya pada dunia sastra dengan mencipta puisi dan cerpen. Hingga akhirnya, penyandang tunadaksa ini mendalami seni teater dan bergabung dengan komunitas sastra. Namun ternyata, di tengah perjalanan, Salman sempat terhadang restu orang tua. Bagaimana perjuangannya?

Dian Cahyani, Ambulu, Radar Jember

Wajah Salman menatap langit-langit serambi Masjid Jamik Ambulu. Dia berusaha mengingat-ingat kembali kapan persisnya mulai menyukai puisi. Salman mengernyit. Kerutan-kerutan di dahinya tampak bertemu antara satu dengan yang lain. “Sejak SMP, saya sudah suka puisi,” katanya, memecah kebekuan siang itu.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, ia mengaku, saat itu dirinya mulai giat mengirim karya ke mading sekolah. Namun, hobinya dalam menikmati sastra tak banyak orang tahu dan memperhatikan. Padahal, semasa sekolah ia rajin menulis bait-bait puisi dan beberapa cerita pendek (cerpen). Karya itu hanya dinikmatinya sendiri. Kecuali, jika karyanya diterima untuk diterbitkan dalam mading sekolah.

Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Kalimat ini cocok disematkan pada Salman. Sebab, sejak SD, dia sudah gemar membaca. Langganan buku yang dibacanya adalah kumpulan cerpen dan novel.  Dari sini, Salman punya banyak perbendaharaan kata untuk menyusun diksi yang baik.

Selain bersastra dalam tulisan, Salman juga memberanikan diri dengan mulai berkecimpung dalam sastra teater. Dia masuk di kegiatan ekstrakurikuler sekolah sejak bangku SMP hingga kini. Bagi Salman, memasuki seni teater merupakan proses belajar hidup yang sesungguhnya. Sebab, di ruang teater dirinya dihadapkan oleh banyak watak dan dituntut bisa menyesuaikan diri.

Sama halnya dengan kehidupan, Salman merasa, manusia akan dihadapkan dengan berbagai watak manusia lain dan dituntut untuk bisa berdamai dengan keadaan. Inilah pelajaran nomor wahid yang Salman petik dari seni teater. “Jadi, bagiku seni teater ini refleksi bersosial secara nyata di masyarakat,” ujar pria yang tinggal di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Ambulu, tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/