alexametrics
26 C
Jember
Wednesday, 26 January 2022

Ini Dia Hakikat Penting dalam Jiwa Karateka Jember

Diawali Split agar Tendangan Melejit

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – KARATE menjadi olahraga yang tengah digeluti oleh Mayang Ananda Putri. Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember (Unej) ini adalah karateka kumite yang sebelumnya turun di nomor under 55 kilogram. Dalam seleksi cabang olahraga (cabor) karate tersebut, Mayang lolos dan siap menatap training center (TC) dalam persiapan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim.

Perempuan 20 tahun ini mengaku, untuk tetap menjaga konsistensi sebagai seorang karateka pada usia remaja adalah hal yang berat. “Waktu SMA mulai nakal tidak latihan,” ucapnya. Pada usia tersebut, dia mengaku, menjadi usia terberat dalam menentukan apakah terus untuk menjadi karateka atau tidak.

Mayang kembali fokus ke dunia karate karena melihat medali yang selama ini dikumpulkan. “Ya, kalau mau berhenti itu harus ingat pertama kali memulai. Rasanya sayang kalau berhenti begitu saja. Apalagi sejak TK telah mengenal karate,” imbuhnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jurus atau gerakan karate bagi Mayang juga mudah dilakukan, termasuk melakukan tendangan dengan target kepala. Justru yang berat adalah mulai dewasa melakukan gerakan semacam itu, jika tidak terus diasah. “Kalau semakin dewasa itu tidak selentur waktu kecil. Jadi, harus setiap hari latihan,” terangnya.

Menu wajib latihan yang dilakukan Mayang adalah split. Gerakan pemanasan tersebut tidak boleh ditinggalkan, karena itu menjaga kelenturan otot. “Kalau dua hari saja tidak latihan, termasuk tidak split, rasanya itu kembali ke nol lagi. Latihannya kembali mulai dari nol,” jelasnya. Karena itu, setiap hari yang dilakukan Mayang adalah split.

Sekretaris Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (Forki) Jember Siswandi mengatakan, dalam pertandingan karate kumite, gerakan yang mudah mendapatkan poin adalah pukulan. Namun, untuk mendapatkan poin besar adalah lewat serangan dari kaki atau tendangan. “Kalau tendangan ke badan itu dapat poin dua dan kepala poin tiga. Pukulan hanya dapat satu poin,” ucapnya.

Dia menjelaskan, karate memang bukan olahraga yang mengedepankan serangan tendangan semata. Namun, kombinasi keduanya. Oleh karena itu, tendangan juga harus dikuasai karena mendapatkan poin lebih tinggi daripada pukulan.

Atlet yang kerap mendapatkan poin lewat tendangan berarti bukan karateka sembarangan. Artinya, saat melancarkan serangan tendangan juga harus berpikir lebih matang lagi. Sebab, untuk melepaskan tendangan butuh waktu lebih lama ketimbang pukulan. Sehingga, lawan bisa menangkis, menghindar, hingga berbalik menyerang.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – KARATE menjadi olahraga yang tengah digeluti oleh Mayang Ananda Putri. Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember (Unej) ini adalah karateka kumite yang sebelumnya turun di nomor under 55 kilogram. Dalam seleksi cabang olahraga (cabor) karate tersebut, Mayang lolos dan siap menatap training center (TC) dalam persiapan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim.

Perempuan 20 tahun ini mengaku, untuk tetap menjaga konsistensi sebagai seorang karateka pada usia remaja adalah hal yang berat. “Waktu SMA mulai nakal tidak latihan,” ucapnya. Pada usia tersebut, dia mengaku, menjadi usia terberat dalam menentukan apakah terus untuk menjadi karateka atau tidak.

Mayang kembali fokus ke dunia karate karena melihat medali yang selama ini dikumpulkan. “Ya, kalau mau berhenti itu harus ingat pertama kali memulai. Rasanya sayang kalau berhenti begitu saja. Apalagi sejak TK telah mengenal karate,” imbuhnya.

Jurus atau gerakan karate bagi Mayang juga mudah dilakukan, termasuk melakukan tendangan dengan target kepala. Justru yang berat adalah mulai dewasa melakukan gerakan semacam itu, jika tidak terus diasah. “Kalau semakin dewasa itu tidak selentur waktu kecil. Jadi, harus setiap hari latihan,” terangnya.

Menu wajib latihan yang dilakukan Mayang adalah split. Gerakan pemanasan tersebut tidak boleh ditinggalkan, karena itu menjaga kelenturan otot. “Kalau dua hari saja tidak latihan, termasuk tidak split, rasanya itu kembali ke nol lagi. Latihannya kembali mulai dari nol,” jelasnya. Karena itu, setiap hari yang dilakukan Mayang adalah split.

Sekretaris Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (Forki) Jember Siswandi mengatakan, dalam pertandingan karate kumite, gerakan yang mudah mendapatkan poin adalah pukulan. Namun, untuk mendapatkan poin besar adalah lewat serangan dari kaki atau tendangan. “Kalau tendangan ke badan itu dapat poin dua dan kepala poin tiga. Pukulan hanya dapat satu poin,” ucapnya.

Dia menjelaskan, karate memang bukan olahraga yang mengedepankan serangan tendangan semata. Namun, kombinasi keduanya. Oleh karena itu, tendangan juga harus dikuasai karena mendapatkan poin lebih tinggi daripada pukulan.

Atlet yang kerap mendapatkan poin lewat tendangan berarti bukan karateka sembarangan. Artinya, saat melancarkan serangan tendangan juga harus berpikir lebih matang lagi. Sebab, untuk melepaskan tendangan butuh waktu lebih lama ketimbang pukulan. Sehingga, lawan bisa menangkis, menghindar, hingga berbalik menyerang.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – KARATE menjadi olahraga yang tengah digeluti oleh Mayang Ananda Putri. Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember (Unej) ini adalah karateka kumite yang sebelumnya turun di nomor under 55 kilogram. Dalam seleksi cabang olahraga (cabor) karate tersebut, Mayang lolos dan siap menatap training center (TC) dalam persiapan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim.

Perempuan 20 tahun ini mengaku, untuk tetap menjaga konsistensi sebagai seorang karateka pada usia remaja adalah hal yang berat. “Waktu SMA mulai nakal tidak latihan,” ucapnya. Pada usia tersebut, dia mengaku, menjadi usia terberat dalam menentukan apakah terus untuk menjadi karateka atau tidak.

Mayang kembali fokus ke dunia karate karena melihat medali yang selama ini dikumpulkan. “Ya, kalau mau berhenti itu harus ingat pertama kali memulai. Rasanya sayang kalau berhenti begitu saja. Apalagi sejak TK telah mengenal karate,” imbuhnya.

Jurus atau gerakan karate bagi Mayang juga mudah dilakukan, termasuk melakukan tendangan dengan target kepala. Justru yang berat adalah mulai dewasa melakukan gerakan semacam itu, jika tidak terus diasah. “Kalau semakin dewasa itu tidak selentur waktu kecil. Jadi, harus setiap hari latihan,” terangnya.

Menu wajib latihan yang dilakukan Mayang adalah split. Gerakan pemanasan tersebut tidak boleh ditinggalkan, karena itu menjaga kelenturan otot. “Kalau dua hari saja tidak latihan, termasuk tidak split, rasanya itu kembali ke nol lagi. Latihannya kembali mulai dari nol,” jelasnya. Karena itu, setiap hari yang dilakukan Mayang adalah split.

Sekretaris Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (Forki) Jember Siswandi mengatakan, dalam pertandingan karate kumite, gerakan yang mudah mendapatkan poin adalah pukulan. Namun, untuk mendapatkan poin besar adalah lewat serangan dari kaki atau tendangan. “Kalau tendangan ke badan itu dapat poin dua dan kepala poin tiga. Pukulan hanya dapat satu poin,” ucapnya.

Dia menjelaskan, karate memang bukan olahraga yang mengedepankan serangan tendangan semata. Namun, kombinasi keduanya. Oleh karena itu, tendangan juga harus dikuasai karena mendapatkan poin lebih tinggi daripada pukulan.

Atlet yang kerap mendapatkan poin lewat tendangan berarti bukan karateka sembarangan. Artinya, saat melancarkan serangan tendangan juga harus berpikir lebih matang lagi. Sebab, untuk melepaskan tendangan butuh waktu lebih lama ketimbang pukulan. Sehingga, lawan bisa menangkis, menghindar, hingga berbalik menyerang.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca