alexametrics
30.9 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Pria dari Jember ini Siap Saingi Robot Google

Cita-citanya Saingi Robot Google dengan Suara Penuh Rasa

Mobile_AP_Rectangle 1

AJUNG, RADARJEMBER.ID – SEJAK duduk di sekolah dasar, Wildan yakin suaranya mirip dengan Proklamator RI, Sukarno. Wildan kecil cukup antusias menirukan gaya Sukarno saat membacakan teks proklamasi dan kala berpidato. Selain itu, dia juga gemar dengan public speaking. Ia cukup pede tampil di depan publik dalam berbagai kesempatan. Misalnya saat ikut ajang lomba pidato.

“Aku juga banyak ikut organisasi. Sampai akhirnya sering mengikuti pelatihan MC,” tutur mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) itu. Di dunia perfilman lokal, Wildan adalah seorang desainer grafis dan sutradara film. Namun, kini dirinya juga menjadi seorang penyulih suara.

Wildan, Graphic Designer yang Kepincut Jadi Dubber

Selama mengikuti pelatihan dan organisasi, Wildan pun sadar jika kemampuan berbicara dan mengendalikan tone suara memiliki dampak bagi pendengar secara psikologis. Menurutnya, untuk menarik audiens tidak cukup hanya dengan konten. Namun, juga karakter dan kuat tidaknya suara yang dimiliki.

Mobile_AP_Rectangle 2

Wildan juga menganggap kemampuan orasi dan karakter suara yang dimilikinya adalah aset yang ia temukan secara autodidak. Kemudian, dia mulai mengasah kemampuan suaranya itu ketika menempuh kuliah di Malang. Saat itu, Wildan mengambil jurusan desain grafis. Namun, ia sering kongkow dan mengikuti kegiatan mahasiswa komunikasi. Kebetulan saat itu, kampusnya telah berafiliasi dengan salah satu radio terkemuka di Indonesia yang memiliki kantor biro di Malang.

“Beberapa dosen dan teman-teman juga banyak yang mengatakan kalau aku punya bakat di situ,” kisah laki-laki kelahiran Lumajang, 13 Juni 1995, yang kini tinggal di Kecamatan Ajung itu.

Namun, kemampuan suaranya sempat tidak berkembang setelah ia menyelesaikan studi di Malang yang hanya setahun itu. Sebab, fokusnya teralihkan pada kesibukan desain. Sampai akhirnya pada 2015 lalu ia masuk kuliah di IAIN Jember atau sekarang menjadi Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) dengan mengambil Program Studi Komunikasi dan Penyiaran.

Namun, lagi-agi, bakatnya tidak berkembang dengan baik karena dunia sulih suara di Jember masih minim. Walaupun saat itu radio kampus sudah eksis, tapi Wildan lebih memilih fokus pada dunia perfilman. Mulai saat itu, dirinya mulai pesimistis dengan kemampuan dan bakatnya tersebut. “Radio ada di kampus. Tapi, aku tidak minat di sana. Aku malah minat di film karena bisa banyak belajar di sana. Lebih general,” kata Wildan.

- Advertisement -

AJUNG, RADARJEMBER.ID – SEJAK duduk di sekolah dasar, Wildan yakin suaranya mirip dengan Proklamator RI, Sukarno. Wildan kecil cukup antusias menirukan gaya Sukarno saat membacakan teks proklamasi dan kala berpidato. Selain itu, dia juga gemar dengan public speaking. Ia cukup pede tampil di depan publik dalam berbagai kesempatan. Misalnya saat ikut ajang lomba pidato.

“Aku juga banyak ikut organisasi. Sampai akhirnya sering mengikuti pelatihan MC,” tutur mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) itu. Di dunia perfilman lokal, Wildan adalah seorang desainer grafis dan sutradara film. Namun, kini dirinya juga menjadi seorang penyulih suara.

Wildan, Graphic Designer yang Kepincut Jadi Dubber

Selama mengikuti pelatihan dan organisasi, Wildan pun sadar jika kemampuan berbicara dan mengendalikan tone suara memiliki dampak bagi pendengar secara psikologis. Menurutnya, untuk menarik audiens tidak cukup hanya dengan konten. Namun, juga karakter dan kuat tidaknya suara yang dimiliki.

Wildan juga menganggap kemampuan orasi dan karakter suara yang dimilikinya adalah aset yang ia temukan secara autodidak. Kemudian, dia mulai mengasah kemampuan suaranya itu ketika menempuh kuliah di Malang. Saat itu, Wildan mengambil jurusan desain grafis. Namun, ia sering kongkow dan mengikuti kegiatan mahasiswa komunikasi. Kebetulan saat itu, kampusnya telah berafiliasi dengan salah satu radio terkemuka di Indonesia yang memiliki kantor biro di Malang.

“Beberapa dosen dan teman-teman juga banyak yang mengatakan kalau aku punya bakat di situ,” kisah laki-laki kelahiran Lumajang, 13 Juni 1995, yang kini tinggal di Kecamatan Ajung itu.

Namun, kemampuan suaranya sempat tidak berkembang setelah ia menyelesaikan studi di Malang yang hanya setahun itu. Sebab, fokusnya teralihkan pada kesibukan desain. Sampai akhirnya pada 2015 lalu ia masuk kuliah di IAIN Jember atau sekarang menjadi Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) dengan mengambil Program Studi Komunikasi dan Penyiaran.

Namun, lagi-agi, bakatnya tidak berkembang dengan baik karena dunia sulih suara di Jember masih minim. Walaupun saat itu radio kampus sudah eksis, tapi Wildan lebih memilih fokus pada dunia perfilman. Mulai saat itu, dirinya mulai pesimistis dengan kemampuan dan bakatnya tersebut. “Radio ada di kampus. Tapi, aku tidak minat di sana. Aku malah minat di film karena bisa banyak belajar di sana. Lebih general,” kata Wildan.

AJUNG, RADARJEMBER.ID – SEJAK duduk di sekolah dasar, Wildan yakin suaranya mirip dengan Proklamator RI, Sukarno. Wildan kecil cukup antusias menirukan gaya Sukarno saat membacakan teks proklamasi dan kala berpidato. Selain itu, dia juga gemar dengan public speaking. Ia cukup pede tampil di depan publik dalam berbagai kesempatan. Misalnya saat ikut ajang lomba pidato.

“Aku juga banyak ikut organisasi. Sampai akhirnya sering mengikuti pelatihan MC,” tutur mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) itu. Di dunia perfilman lokal, Wildan adalah seorang desainer grafis dan sutradara film. Namun, kini dirinya juga menjadi seorang penyulih suara.

Wildan, Graphic Designer yang Kepincut Jadi Dubber

Selama mengikuti pelatihan dan organisasi, Wildan pun sadar jika kemampuan berbicara dan mengendalikan tone suara memiliki dampak bagi pendengar secara psikologis. Menurutnya, untuk menarik audiens tidak cukup hanya dengan konten. Namun, juga karakter dan kuat tidaknya suara yang dimiliki.

Wildan juga menganggap kemampuan orasi dan karakter suara yang dimilikinya adalah aset yang ia temukan secara autodidak. Kemudian, dia mulai mengasah kemampuan suaranya itu ketika menempuh kuliah di Malang. Saat itu, Wildan mengambil jurusan desain grafis. Namun, ia sering kongkow dan mengikuti kegiatan mahasiswa komunikasi. Kebetulan saat itu, kampusnya telah berafiliasi dengan salah satu radio terkemuka di Indonesia yang memiliki kantor biro di Malang.

“Beberapa dosen dan teman-teman juga banyak yang mengatakan kalau aku punya bakat di situ,” kisah laki-laki kelahiran Lumajang, 13 Juni 1995, yang kini tinggal di Kecamatan Ajung itu.

Namun, kemampuan suaranya sempat tidak berkembang setelah ia menyelesaikan studi di Malang yang hanya setahun itu. Sebab, fokusnya teralihkan pada kesibukan desain. Sampai akhirnya pada 2015 lalu ia masuk kuliah di IAIN Jember atau sekarang menjadi Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) dengan mengambil Program Studi Komunikasi dan Penyiaran.

Namun, lagi-agi, bakatnya tidak berkembang dengan baik karena dunia sulih suara di Jember masih minim. Walaupun saat itu radio kampus sudah eksis, tapi Wildan lebih memilih fokus pada dunia perfilman. Mulai saat itu, dirinya mulai pesimistis dengan kemampuan dan bakatnya tersebut. “Radio ada di kampus. Tapi, aku tidak minat di sana. Aku malah minat di film karena bisa banyak belajar di sana. Lebih general,” kata Wildan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/