alexametrics
27.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Menanti Sekolah Masuk Zona Hijau

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pembukaan kembali aktivitas belajar mengajar tatap muka di sekolah harus melalui serangkaian tahapan panjang, bahkan sangat ketat. Tidak mudah bagi sekolah untuk melaluinya. Terlebih, sekolah-sekolah yang berada di lingkungan Dinas Pendidikan atau Kementerian Agama, mereka terikat dengan segala ketetapan atau aturan terbaru selama pandemi.

Salah satu persyaratan menyebutkan bahwa sekolah boleh dibuka jika satuan pendidikan tersebut berada di area aman dan tidak terdampak atau zona hijau. Persyaratan itu disebut-sebut cukup berat. Sebab, berdasarkan fakta di lapangan, Jember sampai hari ini mayoritas masih zona oranye dan kuning. Kalaupun ada satuan pendidikan yang masuk zona hijau, hal itu tidak bertahan lama, karena fluktuasi kondisi yang tidak menentu tiap harinya.

Ketua PGRI Jember Supriyono mengakui, saat ini sulit bagi sekolah untuk bisa kembali aktif. Selain memang faktor kondisi di lapangan, faktor kesiapan sekolah memang belum memungkinkan. Dirinya menilai, harus ada upaya optimalisasi ke arah pembelajaran daring saja, sambil menanti situasi pulih dari pandemi.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Tantangan terberatnya di sana. Sekolah dibuka, berisiko jadi klaster baru. Tidak dibuka, maka harus berani mengambil pilihan mengoptimalkan pembelajaran daring selama ini,” bebernya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pembukaan kembali aktivitas belajar mengajar tatap muka di sekolah harus melalui serangkaian tahapan panjang, bahkan sangat ketat. Tidak mudah bagi sekolah untuk melaluinya. Terlebih, sekolah-sekolah yang berada di lingkungan Dinas Pendidikan atau Kementerian Agama, mereka terikat dengan segala ketetapan atau aturan terbaru selama pandemi.

Salah satu persyaratan menyebutkan bahwa sekolah boleh dibuka jika satuan pendidikan tersebut berada di area aman dan tidak terdampak atau zona hijau. Persyaratan itu disebut-sebut cukup berat. Sebab, berdasarkan fakta di lapangan, Jember sampai hari ini mayoritas masih zona oranye dan kuning. Kalaupun ada satuan pendidikan yang masuk zona hijau, hal itu tidak bertahan lama, karena fluktuasi kondisi yang tidak menentu tiap harinya.

Ketua PGRI Jember Supriyono mengakui, saat ini sulit bagi sekolah untuk bisa kembali aktif. Selain memang faktor kondisi di lapangan, faktor kesiapan sekolah memang belum memungkinkan. Dirinya menilai, harus ada upaya optimalisasi ke arah pembelajaran daring saja, sambil menanti situasi pulih dari pandemi.

“Tantangan terberatnya di sana. Sekolah dibuka, berisiko jadi klaster baru. Tidak dibuka, maka harus berani mengambil pilihan mengoptimalkan pembelajaran daring selama ini,” bebernya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pembukaan kembali aktivitas belajar mengajar tatap muka di sekolah harus melalui serangkaian tahapan panjang, bahkan sangat ketat. Tidak mudah bagi sekolah untuk melaluinya. Terlebih, sekolah-sekolah yang berada di lingkungan Dinas Pendidikan atau Kementerian Agama, mereka terikat dengan segala ketetapan atau aturan terbaru selama pandemi.

Salah satu persyaratan menyebutkan bahwa sekolah boleh dibuka jika satuan pendidikan tersebut berada di area aman dan tidak terdampak atau zona hijau. Persyaratan itu disebut-sebut cukup berat. Sebab, berdasarkan fakta di lapangan, Jember sampai hari ini mayoritas masih zona oranye dan kuning. Kalaupun ada satuan pendidikan yang masuk zona hijau, hal itu tidak bertahan lama, karena fluktuasi kondisi yang tidak menentu tiap harinya.

Ketua PGRI Jember Supriyono mengakui, saat ini sulit bagi sekolah untuk bisa kembali aktif. Selain memang faktor kondisi di lapangan, faktor kesiapan sekolah memang belum memungkinkan. Dirinya menilai, harus ada upaya optimalisasi ke arah pembelajaran daring saja, sambil menanti situasi pulih dari pandemi.

“Tantangan terberatnya di sana. Sekolah dibuka, berisiko jadi klaster baru. Tidak dibuka, maka harus berani mengambil pilihan mengoptimalkan pembelajaran daring selama ini,” bebernya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/