alexametrics
22.3 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Jahit Pakai Tangan, Produktif karena Disukai Anak-Anak

Banyak cara untuk memulai sebuah usaha. Arie Yusnita yang sempat iseng membuat aksesori putrinya, kini menjadi pembuat handicraft yang mampu bersaing dengan produk-produk lain.

Mobile_AP_Rectangle 1

Mengetahui hal itu, Yusnita mulai mengembangkan produksinya dengan menggunakan kain flanel. Sekitar dua tiga tahun berlalu, dirinya kemudian mengenal media sosial. Selain bereksperimen model-model pembuatan handicraft, perempuan yang tinggal di RT 3 RW 36 ini akhirnya mulai menjualnya secara online. “Dulu hanya jual ke sekolah anak-anak. Orang banyak tahu dari mulut ke mulut. Setelah itu, banyak yang tahu setelah saya pakai medsos,” ungkapnya.

Demi mengembangkan usahanya, Yusnita kemudian ikut dalam perkumpulan perajin handicraft. Melalui pertukaran pengalaman yang rata-rata bisa secara autodidak, kemudian semakin berkembang. Yusnita pun memutuskan untuk menjadi spesialis handicraft berbahan dasar kain flanel. Buatan Yusnita pun kian berkembang dan mampu bersaing dengan produk-produk lain.

Jenis handicraft yang dibuat pun semakin variatif. Model-model yang dibikin pun semakin ciamik. Misalnya, membuat celengan menyerupai kue ulang tahun dengan kain flanel. “Alhamdulillah, saya pernah juara satu membuat celengan. Sampai sekarang saya pun masih membuat. Jadi, handicraft ini ada yang saya buat untuk stok, ada juga yang hanya menunggu pesanan,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Keterbatasan, menurut Yusnita, bukanlah menjadi sebuah soal. Sejak 2014 hingga bertemu Jawa Pos Radar Jember, beberapa waktu lalu, dirinya mengaku belum bisa menjahit. Kendati demikian, Yusnita mampu menyelesaikan seluruh pekerjaan hanya menyulam dengan tangan. “Mesin jahit tidak punya. Ada keinginan agar bisa menjadi penjahit, tetapi belum kesampaian karena belum bisa beli alatnya,” ucapnya.

Sekalipun penyelesaian handicraft-nya hanya dengan sulaman tangan, tetapi produksinya sudah terjual ke banyak tempat. Orang Jakarta, Kalimantan, bahkan dari beberapa kabupaten kota lain banyak yang melakukan pemesanan handicraft kepadanya. “Kalau bisa menjahit, mungkin lebih cepat. Tetapi saya mengalir saja. Saya lakukan apa yang saya bisa walaupun masih menyulam,” pungkasnya.

- Advertisement -

Mengetahui hal itu, Yusnita mulai mengembangkan produksinya dengan menggunakan kain flanel. Sekitar dua tiga tahun berlalu, dirinya kemudian mengenal media sosial. Selain bereksperimen model-model pembuatan handicraft, perempuan yang tinggal di RT 3 RW 36 ini akhirnya mulai menjualnya secara online. “Dulu hanya jual ke sekolah anak-anak. Orang banyak tahu dari mulut ke mulut. Setelah itu, banyak yang tahu setelah saya pakai medsos,” ungkapnya.

Demi mengembangkan usahanya, Yusnita kemudian ikut dalam perkumpulan perajin handicraft. Melalui pertukaran pengalaman yang rata-rata bisa secara autodidak, kemudian semakin berkembang. Yusnita pun memutuskan untuk menjadi spesialis handicraft berbahan dasar kain flanel. Buatan Yusnita pun kian berkembang dan mampu bersaing dengan produk-produk lain.

Jenis handicraft yang dibuat pun semakin variatif. Model-model yang dibikin pun semakin ciamik. Misalnya, membuat celengan menyerupai kue ulang tahun dengan kain flanel. “Alhamdulillah, saya pernah juara satu membuat celengan. Sampai sekarang saya pun masih membuat. Jadi, handicraft ini ada yang saya buat untuk stok, ada juga yang hanya menunggu pesanan,” tuturnya.

Keterbatasan, menurut Yusnita, bukanlah menjadi sebuah soal. Sejak 2014 hingga bertemu Jawa Pos Radar Jember, beberapa waktu lalu, dirinya mengaku belum bisa menjahit. Kendati demikian, Yusnita mampu menyelesaikan seluruh pekerjaan hanya menyulam dengan tangan. “Mesin jahit tidak punya. Ada keinginan agar bisa menjadi penjahit, tetapi belum kesampaian karena belum bisa beli alatnya,” ucapnya.

Sekalipun penyelesaian handicraft-nya hanya dengan sulaman tangan, tetapi produksinya sudah terjual ke banyak tempat. Orang Jakarta, Kalimantan, bahkan dari beberapa kabupaten kota lain banyak yang melakukan pemesanan handicraft kepadanya. “Kalau bisa menjahit, mungkin lebih cepat. Tetapi saya mengalir saja. Saya lakukan apa yang saya bisa walaupun masih menyulam,” pungkasnya.

Mengetahui hal itu, Yusnita mulai mengembangkan produksinya dengan menggunakan kain flanel. Sekitar dua tiga tahun berlalu, dirinya kemudian mengenal media sosial. Selain bereksperimen model-model pembuatan handicraft, perempuan yang tinggal di RT 3 RW 36 ini akhirnya mulai menjualnya secara online. “Dulu hanya jual ke sekolah anak-anak. Orang banyak tahu dari mulut ke mulut. Setelah itu, banyak yang tahu setelah saya pakai medsos,” ungkapnya.

Demi mengembangkan usahanya, Yusnita kemudian ikut dalam perkumpulan perajin handicraft. Melalui pertukaran pengalaman yang rata-rata bisa secara autodidak, kemudian semakin berkembang. Yusnita pun memutuskan untuk menjadi spesialis handicraft berbahan dasar kain flanel. Buatan Yusnita pun kian berkembang dan mampu bersaing dengan produk-produk lain.

Jenis handicraft yang dibuat pun semakin variatif. Model-model yang dibikin pun semakin ciamik. Misalnya, membuat celengan menyerupai kue ulang tahun dengan kain flanel. “Alhamdulillah, saya pernah juara satu membuat celengan. Sampai sekarang saya pun masih membuat. Jadi, handicraft ini ada yang saya buat untuk stok, ada juga yang hanya menunggu pesanan,” tuturnya.

Keterbatasan, menurut Yusnita, bukanlah menjadi sebuah soal. Sejak 2014 hingga bertemu Jawa Pos Radar Jember, beberapa waktu lalu, dirinya mengaku belum bisa menjahit. Kendati demikian, Yusnita mampu menyelesaikan seluruh pekerjaan hanya menyulam dengan tangan. “Mesin jahit tidak punya. Ada keinginan agar bisa menjadi penjahit, tetapi belum kesampaian karena belum bisa beli alatnya,” ucapnya.

Sekalipun penyelesaian handicraft-nya hanya dengan sulaman tangan, tetapi produksinya sudah terjual ke banyak tempat. Orang Jakarta, Kalimantan, bahkan dari beberapa kabupaten kota lain banyak yang melakukan pemesanan handicraft kepadanya. “Kalau bisa menjahit, mungkin lebih cepat. Tetapi saya mengalir saja. Saya lakukan apa yang saya bisa walaupun masih menyulam,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/