alexametrics
26.5 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Tarif Baru untuk Gunung Sadeng

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, Radar Jember – Salah satu aset Pemkab Jember berupa Gunung Sadeng di Kecamatan Puger, keberadaannya terus dioptimalkan sebagai salah satu sumber pemasukan terhadap pos PAD (pendapatan asli daerah). Pasalnya, beberapa tahun terakhir Pemkab Jember hanya menerima segelintir retribusi dari daerah yang memiliki luasan konsesi tambang sekitar 190 hektare lebih tersebut.

BACA JUGA : Pria di Jember Ditangkap saat Tunggu Pelanggan Depan Warung Lalapan

Semula, tarif kontribusi ke pemerintah daerah hanya berlaku 5 persen. Kini tarif itu dinaikkan berlipat-lipat. Hal itu dilakukan setelah Pemkab Jember mengumpulkan perusahaan-perusahan tambang untuk diberi tahu tentang tarif baru kontribusi daerah terkait eksploitasi kapur di Gunung Sadeng.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sekretaris Daerah Jember Mirfano mengonfirmasi, tarif kontribusi bagi daerah dinaikkan dari semula Rp 2.000 menjadi Rp 39.500 per ton kapur. “Pemberlakuan tarif baru adalah hasil perhitungan atau appraisal dari KJPP berdasarkan Permendagri Nomor 19 Tahun 2016,” kata Mirfano, setelah bertemu dengan sejumlah pengusaha tambang di Gunung Sadeng.

Menurut Mirfano, mayoritas perusahaan menyatakan setuju mengikuti aturan terbaru. Namun, hanya Pabrik Semen Imasco yang menolak ketentuan tersebut. Korporasi asal Tiongkok itu bersikukuh dengan nominal penyetoran ke daerah yang mengacu pada aturan lama, yakni 5 persen.

Pihak Imasco dalam rapat tersebut beralasan bahwa tarif baru tidak memiliki landasan hukum yang kuat. Bahkan, Imasco diuraikan bakal memilih jalur litigasi untuk melakukan perlawanan dan mengancam menutup pabrik semen apabila harus membayar pembaruan tarif kontribusi untuk daerah.

Namun demikian, diakui Mirfano, Pemkab Jember tidak merasa keberatan dan siap meladeni upaya hukum yang hendak ditempuh Imasco. “Kami siap mewakili pemerintah berhadapan di pengadilan dengan Imasco. Silakan saja Imasco menutup pabrik, karena mereka juga minim kontribusi yang tidak sepadan dengan dampak kerusakan lingkungan maupun kerusakan jalan akibat kendaraan berat muatan semen,” tegas Mirfano.

- Advertisement -

SUMBERSARI, Radar Jember – Salah satu aset Pemkab Jember berupa Gunung Sadeng di Kecamatan Puger, keberadaannya terus dioptimalkan sebagai salah satu sumber pemasukan terhadap pos PAD (pendapatan asli daerah). Pasalnya, beberapa tahun terakhir Pemkab Jember hanya menerima segelintir retribusi dari daerah yang memiliki luasan konsesi tambang sekitar 190 hektare lebih tersebut.

BACA JUGA : Pria di Jember Ditangkap saat Tunggu Pelanggan Depan Warung Lalapan

Semula, tarif kontribusi ke pemerintah daerah hanya berlaku 5 persen. Kini tarif itu dinaikkan berlipat-lipat. Hal itu dilakukan setelah Pemkab Jember mengumpulkan perusahaan-perusahan tambang untuk diberi tahu tentang tarif baru kontribusi daerah terkait eksploitasi kapur di Gunung Sadeng.

Sekretaris Daerah Jember Mirfano mengonfirmasi, tarif kontribusi bagi daerah dinaikkan dari semula Rp 2.000 menjadi Rp 39.500 per ton kapur. “Pemberlakuan tarif baru adalah hasil perhitungan atau appraisal dari KJPP berdasarkan Permendagri Nomor 19 Tahun 2016,” kata Mirfano, setelah bertemu dengan sejumlah pengusaha tambang di Gunung Sadeng.

Menurut Mirfano, mayoritas perusahaan menyatakan setuju mengikuti aturan terbaru. Namun, hanya Pabrik Semen Imasco yang menolak ketentuan tersebut. Korporasi asal Tiongkok itu bersikukuh dengan nominal penyetoran ke daerah yang mengacu pada aturan lama, yakni 5 persen.

Pihak Imasco dalam rapat tersebut beralasan bahwa tarif baru tidak memiliki landasan hukum yang kuat. Bahkan, Imasco diuraikan bakal memilih jalur litigasi untuk melakukan perlawanan dan mengancam menutup pabrik semen apabila harus membayar pembaruan tarif kontribusi untuk daerah.

Namun demikian, diakui Mirfano, Pemkab Jember tidak merasa keberatan dan siap meladeni upaya hukum yang hendak ditempuh Imasco. “Kami siap mewakili pemerintah berhadapan di pengadilan dengan Imasco. Silakan saja Imasco menutup pabrik, karena mereka juga minim kontribusi yang tidak sepadan dengan dampak kerusakan lingkungan maupun kerusakan jalan akibat kendaraan berat muatan semen,” tegas Mirfano.

SUMBERSARI, Radar Jember – Salah satu aset Pemkab Jember berupa Gunung Sadeng di Kecamatan Puger, keberadaannya terus dioptimalkan sebagai salah satu sumber pemasukan terhadap pos PAD (pendapatan asli daerah). Pasalnya, beberapa tahun terakhir Pemkab Jember hanya menerima segelintir retribusi dari daerah yang memiliki luasan konsesi tambang sekitar 190 hektare lebih tersebut.

BACA JUGA : Pria di Jember Ditangkap saat Tunggu Pelanggan Depan Warung Lalapan

Semula, tarif kontribusi ke pemerintah daerah hanya berlaku 5 persen. Kini tarif itu dinaikkan berlipat-lipat. Hal itu dilakukan setelah Pemkab Jember mengumpulkan perusahaan-perusahan tambang untuk diberi tahu tentang tarif baru kontribusi daerah terkait eksploitasi kapur di Gunung Sadeng.

Sekretaris Daerah Jember Mirfano mengonfirmasi, tarif kontribusi bagi daerah dinaikkan dari semula Rp 2.000 menjadi Rp 39.500 per ton kapur. “Pemberlakuan tarif baru adalah hasil perhitungan atau appraisal dari KJPP berdasarkan Permendagri Nomor 19 Tahun 2016,” kata Mirfano, setelah bertemu dengan sejumlah pengusaha tambang di Gunung Sadeng.

Menurut Mirfano, mayoritas perusahaan menyatakan setuju mengikuti aturan terbaru. Namun, hanya Pabrik Semen Imasco yang menolak ketentuan tersebut. Korporasi asal Tiongkok itu bersikukuh dengan nominal penyetoran ke daerah yang mengacu pada aturan lama, yakni 5 persen.

Pihak Imasco dalam rapat tersebut beralasan bahwa tarif baru tidak memiliki landasan hukum yang kuat. Bahkan, Imasco diuraikan bakal memilih jalur litigasi untuk melakukan perlawanan dan mengancam menutup pabrik semen apabila harus membayar pembaruan tarif kontribusi untuk daerah.

Namun demikian, diakui Mirfano, Pemkab Jember tidak merasa keberatan dan siap meladeni upaya hukum yang hendak ditempuh Imasco. “Kami siap mewakili pemerintah berhadapan di pengadilan dengan Imasco. Silakan saja Imasco menutup pabrik, karena mereka juga minim kontribusi yang tidak sepadan dengan dampak kerusakan lingkungan maupun kerusakan jalan akibat kendaraan berat muatan semen,” tegas Mirfano.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/