alexametrics
30.3 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Sambut Puasa dengan Hati Berbunga

- Waktu Berbeda, Tujuan Tetap Sama

- Ramadan Momen Perbaikan Ilmu dan Takwa

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suka cita menyambut Ramadan 1443 H/2022 M sudah bergema di mana-mana. Dari sudut kota hingga pelosok desa. Kepadatan kendaraan di ruas-ruas jalan raya belakangan ini pun seolah kian menambah kesan antusias masyarakat, khususnya umat muslim, dalam penyambutan bulan puasa dengan hati yang berbunga. “Mari Ramadan ini kita sambut dengan suka cita. Dan terpenting juga, kita menyambut dengan ilmu dan kesadaran,” pinta KH Abdul Haris, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jember.

Baca Juga : Hai Gen-Z, Lakukan ini Biar Ramadan Makin Awesome

Pentingnya menyambut Ramadan dengan ilmu dan kesadaran itu, menurut Kiai Haris, karena Ramadan bisa disebut sebagai bulan untuk me-recovery atau perbaikan. Sebab, Ramadan adalah bulan yang agung yang diberkahi. Sahrun adzim mubarak, yang di dalamnya terdapat banyak fadilah, kemuliaan, dan keutamaan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Beberapa di antaranya, lanjut Haris, adanya malam Lailatul Qadar yang memiliki keutamaan seperti halnya ibadah 1.000 bulan atau setara 83 tahun 4 bulan yang merupakan umur standar manusia. Lalu, pahala ibadah sunah yang setara dengan ibadah wajib, dan ibadah wajib yang dilipatgandakan pahalanya 70 kali, serta masih banyak lagi.
Keutamaan dan pahala yang berlipat itu, menurutnya, belum tentu ditemukan di bulan-bulan lainnya selain Ramadan. Di situlah pentingnya menyambut Ramadan dengan ilmu dan kesadaran. “Kalau seandainya kesadaran itu dipakai untuk menyambut Ramadan, insyaallah kita tidak akan banyak melakukan hal-hal yang sia-sia,” kata Kiai Haris, meyakinkan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suka cita menyambut Ramadan 1443 H/2022 M sudah bergema di mana-mana. Dari sudut kota hingga pelosok desa. Kepadatan kendaraan di ruas-ruas jalan raya belakangan ini pun seolah kian menambah kesan antusias masyarakat, khususnya umat muslim, dalam penyambutan bulan puasa dengan hati yang berbunga. “Mari Ramadan ini kita sambut dengan suka cita. Dan terpenting juga, kita menyambut dengan ilmu dan kesadaran,” pinta KH Abdul Haris, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jember.

Baca Juga : Hai Gen-Z, Lakukan ini Biar Ramadan Makin Awesome

Pentingnya menyambut Ramadan dengan ilmu dan kesadaran itu, menurut Kiai Haris, karena Ramadan bisa disebut sebagai bulan untuk me-recovery atau perbaikan. Sebab, Ramadan adalah bulan yang agung yang diberkahi. Sahrun adzim mubarak, yang di dalamnya terdapat banyak fadilah, kemuliaan, dan keutamaan.

Beberapa di antaranya, lanjut Haris, adanya malam Lailatul Qadar yang memiliki keutamaan seperti halnya ibadah 1.000 bulan atau setara 83 tahun 4 bulan yang merupakan umur standar manusia. Lalu, pahala ibadah sunah yang setara dengan ibadah wajib, dan ibadah wajib yang dilipatgandakan pahalanya 70 kali, serta masih banyak lagi.
Keutamaan dan pahala yang berlipat itu, menurutnya, belum tentu ditemukan di bulan-bulan lainnya selain Ramadan. Di situlah pentingnya menyambut Ramadan dengan ilmu dan kesadaran. “Kalau seandainya kesadaran itu dipakai untuk menyambut Ramadan, insyaallah kita tidak akan banyak melakukan hal-hal yang sia-sia,” kata Kiai Haris, meyakinkan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suka cita menyambut Ramadan 1443 H/2022 M sudah bergema di mana-mana. Dari sudut kota hingga pelosok desa. Kepadatan kendaraan di ruas-ruas jalan raya belakangan ini pun seolah kian menambah kesan antusias masyarakat, khususnya umat muslim, dalam penyambutan bulan puasa dengan hati yang berbunga. “Mari Ramadan ini kita sambut dengan suka cita. Dan terpenting juga, kita menyambut dengan ilmu dan kesadaran,” pinta KH Abdul Haris, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jember.

Baca Juga : Hai Gen-Z, Lakukan ini Biar Ramadan Makin Awesome

Pentingnya menyambut Ramadan dengan ilmu dan kesadaran itu, menurut Kiai Haris, karena Ramadan bisa disebut sebagai bulan untuk me-recovery atau perbaikan. Sebab, Ramadan adalah bulan yang agung yang diberkahi. Sahrun adzim mubarak, yang di dalamnya terdapat banyak fadilah, kemuliaan, dan keutamaan.

Beberapa di antaranya, lanjut Haris, adanya malam Lailatul Qadar yang memiliki keutamaan seperti halnya ibadah 1.000 bulan atau setara 83 tahun 4 bulan yang merupakan umur standar manusia. Lalu, pahala ibadah sunah yang setara dengan ibadah wajib, dan ibadah wajib yang dilipatgandakan pahalanya 70 kali, serta masih banyak lagi.
Keutamaan dan pahala yang berlipat itu, menurutnya, belum tentu ditemukan di bulan-bulan lainnya selain Ramadan. Di situlah pentingnya menyambut Ramadan dengan ilmu dan kesadaran. “Kalau seandainya kesadaran itu dipakai untuk menyambut Ramadan, insyaallah kita tidak akan banyak melakukan hal-hal yang sia-sia,” kata Kiai Haris, meyakinkan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/