alexametrics
28 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Produktivitas Tetap Tinggi, walau Karya Lagu Kerap Di-cover

Era yang serba canggih menjadikan tantangan para pelaku musik indie semakin berat. Bukan saja soal persaingan, tapi karya-karya mereka juga di-cover oleh banyak orang. Bagaimana cara mereka agar tetap eksis?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Malam itu sudah cukup larut. Namun, diskusi dengan para promotor dan pemusik indie seakan belum puas. Maklum, banyak hal yang dibahas. Mulai dari geliat musik di Jember sampai sikap independen yang menempatkan musik bukan sebagai bisnis semata.

Mereka yang tergabung dalam band Indie memiliki banyak komunitas dengan latar belakang berbeda-beda. Sekali pun tak ada lembaga yang menaungi untuk bisa menjadi satu, namun mereka rutin berkegiatan melalui forum Element.

Saat datang ke Kantor Jawa Pos Radar Jember, mereka pun baru bisa bertemu kembali setelah cukup lama tak berkumpul. Acil, Ridho, Nyo, Adit, dan Colis pun seperti reuni, karena sehari-harinya mereka lebih banyak berkumpul dengan komunitasnya masing-masing.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Kami ini komunitasnya beda-beda. Akan tetapi, kami saling memberi support satu sama lain,” kata Acil, yang merupakan salah satu promotor musik indie di Jember.

Dikatakannya, band indie berbeda dengan yang lain. Menurutnya, musik indie lebih menekankan pada karya-karya hingga di kalangan masyarakat terkecil sekalipun. Karya lagu yang mereka ciptakan, sejauh ini jumlahnya cukup banyak. Setiap komunitas bahkan ada yang sampai menciptakan dua album lagu.

“Teman-teman semua sebenarnya produktif. Bukan hanya membuat lagu, tapi juga sampai selesai rekaman,” jelas Acil.

Namun demikian, era yang serba canggih ini membuat peredaran lagu-lagu terbatas. Bukan saja karena Element yang masih tergolong minim, tapi penjualan kaset pun sulit melejit seperti zaman dulu. Belum lagi, ketika dihadapkan dengan mudahnya orang mengakses lagu-lagu, itu juga menjadi tantangan tersendiri.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Malam itu sudah cukup larut. Namun, diskusi dengan para promotor dan pemusik indie seakan belum puas. Maklum, banyak hal yang dibahas. Mulai dari geliat musik di Jember sampai sikap independen yang menempatkan musik bukan sebagai bisnis semata.

Mereka yang tergabung dalam band Indie memiliki banyak komunitas dengan latar belakang berbeda-beda. Sekali pun tak ada lembaga yang menaungi untuk bisa menjadi satu, namun mereka rutin berkegiatan melalui forum Element.

Saat datang ke Kantor Jawa Pos Radar Jember, mereka pun baru bisa bertemu kembali setelah cukup lama tak berkumpul. Acil, Ridho, Nyo, Adit, dan Colis pun seperti reuni, karena sehari-harinya mereka lebih banyak berkumpul dengan komunitasnya masing-masing.

“Kami ini komunitasnya beda-beda. Akan tetapi, kami saling memberi support satu sama lain,” kata Acil, yang merupakan salah satu promotor musik indie di Jember.

Dikatakannya, band indie berbeda dengan yang lain. Menurutnya, musik indie lebih menekankan pada karya-karya hingga di kalangan masyarakat terkecil sekalipun. Karya lagu yang mereka ciptakan, sejauh ini jumlahnya cukup banyak. Setiap komunitas bahkan ada yang sampai menciptakan dua album lagu.

“Teman-teman semua sebenarnya produktif. Bukan hanya membuat lagu, tapi juga sampai selesai rekaman,” jelas Acil.

Namun demikian, era yang serba canggih ini membuat peredaran lagu-lagu terbatas. Bukan saja karena Element yang masih tergolong minim, tapi penjualan kaset pun sulit melejit seperti zaman dulu. Belum lagi, ketika dihadapkan dengan mudahnya orang mengakses lagu-lagu, itu juga menjadi tantangan tersendiri.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Malam itu sudah cukup larut. Namun, diskusi dengan para promotor dan pemusik indie seakan belum puas. Maklum, banyak hal yang dibahas. Mulai dari geliat musik di Jember sampai sikap independen yang menempatkan musik bukan sebagai bisnis semata.

Mereka yang tergabung dalam band Indie memiliki banyak komunitas dengan latar belakang berbeda-beda. Sekali pun tak ada lembaga yang menaungi untuk bisa menjadi satu, namun mereka rutin berkegiatan melalui forum Element.

Saat datang ke Kantor Jawa Pos Radar Jember, mereka pun baru bisa bertemu kembali setelah cukup lama tak berkumpul. Acil, Ridho, Nyo, Adit, dan Colis pun seperti reuni, karena sehari-harinya mereka lebih banyak berkumpul dengan komunitasnya masing-masing.

“Kami ini komunitasnya beda-beda. Akan tetapi, kami saling memberi support satu sama lain,” kata Acil, yang merupakan salah satu promotor musik indie di Jember.

Dikatakannya, band indie berbeda dengan yang lain. Menurutnya, musik indie lebih menekankan pada karya-karya hingga di kalangan masyarakat terkecil sekalipun. Karya lagu yang mereka ciptakan, sejauh ini jumlahnya cukup banyak. Setiap komunitas bahkan ada yang sampai menciptakan dua album lagu.

“Teman-teman semua sebenarnya produktif. Bukan hanya membuat lagu, tapi juga sampai selesai rekaman,” jelas Acil.

Namun demikian, era yang serba canggih ini membuat peredaran lagu-lagu terbatas. Bukan saja karena Element yang masih tergolong minim, tapi penjualan kaset pun sulit melejit seperti zaman dulu. Belum lagi, ketika dihadapkan dengan mudahnya orang mengakses lagu-lagu, itu juga menjadi tantangan tersendiri.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/