alexametrics
20.1 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Sharing Ilmu, hingga Tips Dapatkan Dolar

Kecanggihan teknologi dalam kehidupan sehari-hari tak terbantahkan lagi.  Era 4.0 juga sudah di depan mata. Inilah saatnya tunjukkan semangatmu untuk mendesain grafis. Pekerjaan yang selama ini dianggap remeh, nyatanya bisa mendulang dolar-dolar dari luar negeri. Seperti mereka desain grafis yang membentuk wadah bernama Jember Graphic Designer Community (JGDC).

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember Graphic Designer Community atau yang disingkat JGDC adalah nama komunitas para desainer grafis yang ada di Jember. Komunitas ini bisa dikatakan tidak seperti para komunitas pada umumnya. Komunitas tidak serta merta senang-senang untuk menuangkan hobi semata. Tapi komunitas sharing ilmu dan tentunya akan memahami makna desain, sekaligus bisa hidup lewat desain.

Komunitas yang terbentuk dari kafe ke kafe, warung ke warung, itu didirikan November 2017. “JGDC itu terbentuk pada 2017,” kata Rizal Arif Wibowo, Ketua JGDC. Walau terbilang usianya seumur jagung, sebetulnya eksistensi para anggotanya berkecimpung di dunia desain grafis sudah lama.

“Awalnya suka kumpul-kumpul biasa, membahas desain, sharing ilmu, dan lainnya. Kumpul-kumpulnya ya di kafe dan warung, yang penting ada colokan listrik,” paparnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Membentuk komunitas desain grafis, kata Rizal, yang mengilhami adalah Erick dengan nama desainnya Erick Sun Java. “Founder yang mengilhami dan menyatukan pikiran kita ya Mas Erick,” tuturnya. Lewat pengalaman Erick dan membuka jaringan Erick selama ini membuat rekan-rekannya terbuka pemikirannya untuk bersama-sama membuat grup atau komunitas.

Bahkan, kata dia, saat rilis pertama dengan membuat media sosial, antusiasmenya tinggi. Rizal paham, jika berbicara desain grafis sebetulnya potensi anak-anak Jember itu banyak. “Setiap SMK ada jurusan yang mengajarkan desain, belum lagi anak kuliah, hingga otodidak,” tuturnya.

Dari seluruh penjuru potensi tersebut, tambah Rizal, sayangnya belum ada wadah untuk mereka. “Jadi visinya ya ingin penggiat seni desain, terutama graphic design itu berkumpul,” tambahnya.

Dalam kumpul tersebut sharing ilmu dan mendapatkan beragam informasi tips dan trik konversi dolar lewat karya grafis. “Jadi hobi desain bisa jadi pendapatan, pendapatannya dolar lagi,” tuturnya. Rizal yang kini banyak sumbang desain di freepik, sebenarnya cukup sedih sebuah karya pemikiran, karya seni sebuah desain grafis di Jember di pandang sebelah mata, dengan upah yang minim.

Rizal mengaku, lewat JGDC, pikiran tentang desain dan penghasilannya dari desain berubah. “Nyatanya banyak situs-situs luar negeri yang membayar berupa dolar karya desain,” terangnya. Menurutnya, ada beragam cara bagaimana mendulang dolar lewat desain grafis ini. “Ada yang berupa lomba-lomba logo, ada juga yang rutin mengirimkan gambar seperti di freepik,” tandas Rizal yang memiliki nama desain Volve Studio ini

Bahkan, menurut Satriyo Budi Darmawan, anggota JGDC, lomba logo itu banyak sekali. “Setiap hari itu ada,” jelasnya. Perusahaan baru-baru yang berdiri di penjuru dunia itu membutuhkan logo branding. Mereka kemudian melombakan logo tersebut.

Sebelum bisa mengakses lomba logo tersebut, kata dia, juga perlu tips dan trik. Salah satunya adalah kerap kali mengumpulkan portofolio agar dianggap oleh orang luar negeri desainer grafis profesional dan memang pekerjaannya itu. Dalam lomba logo, Indonesia termasuk negara yang diperhitungkan. “Indonesia, India, Brazil adalah negara-negara langganan juara logo,” paparnya.

Lantas berapa hasil juara logo, kata Satriyo, yang akrab dipanggil Yoyok ini, harga terendah berkisar lima juta. “Lima juta itu perusahaan kecil yang baru berdiri. Jika di Indonesia itu seperti usaha mikro kecil menengah (UMKM),” jelasnya.

Lewat wadah JGDC, setiap lomba punya karakter berbeda-beda untuk memenangkan. Ada yang secara kelompok diskusi menuangkan ide, ada pula saling tukar ide dan mengirimkan banyak. Ada pula yang setiap lomba diikuti satu per satu, ada yang konsen ke satu lomba. “Setiap orang punya cara tersendiri,” pungkasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember Graphic Designer Community atau yang disingkat JGDC adalah nama komunitas para desainer grafis yang ada di Jember. Komunitas ini bisa dikatakan tidak seperti para komunitas pada umumnya. Komunitas tidak serta merta senang-senang untuk menuangkan hobi semata. Tapi komunitas sharing ilmu dan tentunya akan memahami makna desain, sekaligus bisa hidup lewat desain.

Komunitas yang terbentuk dari kafe ke kafe, warung ke warung, itu didirikan November 2017. “JGDC itu terbentuk pada 2017,” kata Rizal Arif Wibowo, Ketua JGDC. Walau terbilang usianya seumur jagung, sebetulnya eksistensi para anggotanya berkecimpung di dunia desain grafis sudah lama.

“Awalnya suka kumpul-kumpul biasa, membahas desain, sharing ilmu, dan lainnya. Kumpul-kumpulnya ya di kafe dan warung, yang penting ada colokan listrik,” paparnya.

Membentuk komunitas desain grafis, kata Rizal, yang mengilhami adalah Erick dengan nama desainnya Erick Sun Java. “Founder yang mengilhami dan menyatukan pikiran kita ya Mas Erick,” tuturnya. Lewat pengalaman Erick dan membuka jaringan Erick selama ini membuat rekan-rekannya terbuka pemikirannya untuk bersama-sama membuat grup atau komunitas.

Bahkan, kata dia, saat rilis pertama dengan membuat media sosial, antusiasmenya tinggi. Rizal paham, jika berbicara desain grafis sebetulnya potensi anak-anak Jember itu banyak. “Setiap SMK ada jurusan yang mengajarkan desain, belum lagi anak kuliah, hingga otodidak,” tuturnya.

Dari seluruh penjuru potensi tersebut, tambah Rizal, sayangnya belum ada wadah untuk mereka. “Jadi visinya ya ingin penggiat seni desain, terutama graphic design itu berkumpul,” tambahnya.

Dalam kumpul tersebut sharing ilmu dan mendapatkan beragam informasi tips dan trik konversi dolar lewat karya grafis. “Jadi hobi desain bisa jadi pendapatan, pendapatannya dolar lagi,” tuturnya. Rizal yang kini banyak sumbang desain di freepik, sebenarnya cukup sedih sebuah karya pemikiran, karya seni sebuah desain grafis di Jember di pandang sebelah mata, dengan upah yang minim.

Rizal mengaku, lewat JGDC, pikiran tentang desain dan penghasilannya dari desain berubah. “Nyatanya banyak situs-situs luar negeri yang membayar berupa dolar karya desain,” terangnya. Menurutnya, ada beragam cara bagaimana mendulang dolar lewat desain grafis ini. “Ada yang berupa lomba-lomba logo, ada juga yang rutin mengirimkan gambar seperti di freepik,” tandas Rizal yang memiliki nama desain Volve Studio ini

Bahkan, menurut Satriyo Budi Darmawan, anggota JGDC, lomba logo itu banyak sekali. “Setiap hari itu ada,” jelasnya. Perusahaan baru-baru yang berdiri di penjuru dunia itu membutuhkan logo branding. Mereka kemudian melombakan logo tersebut.

Sebelum bisa mengakses lomba logo tersebut, kata dia, juga perlu tips dan trik. Salah satunya adalah kerap kali mengumpulkan portofolio agar dianggap oleh orang luar negeri desainer grafis profesional dan memang pekerjaannya itu. Dalam lomba logo, Indonesia termasuk negara yang diperhitungkan. “Indonesia, India, Brazil adalah negara-negara langganan juara logo,” paparnya.

Lantas berapa hasil juara logo, kata Satriyo, yang akrab dipanggil Yoyok ini, harga terendah berkisar lima juta. “Lima juta itu perusahaan kecil yang baru berdiri. Jika di Indonesia itu seperti usaha mikro kecil menengah (UMKM),” jelasnya.

Lewat wadah JGDC, setiap lomba punya karakter berbeda-beda untuk memenangkan. Ada yang secara kelompok diskusi menuangkan ide, ada pula saling tukar ide dan mengirimkan banyak. Ada pula yang setiap lomba diikuti satu per satu, ada yang konsen ke satu lomba. “Setiap orang punya cara tersendiri,” pungkasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember Graphic Designer Community atau yang disingkat JGDC adalah nama komunitas para desainer grafis yang ada di Jember. Komunitas ini bisa dikatakan tidak seperti para komunitas pada umumnya. Komunitas tidak serta merta senang-senang untuk menuangkan hobi semata. Tapi komunitas sharing ilmu dan tentunya akan memahami makna desain, sekaligus bisa hidup lewat desain.

Komunitas yang terbentuk dari kafe ke kafe, warung ke warung, itu didirikan November 2017. “JGDC itu terbentuk pada 2017,” kata Rizal Arif Wibowo, Ketua JGDC. Walau terbilang usianya seumur jagung, sebetulnya eksistensi para anggotanya berkecimpung di dunia desain grafis sudah lama.

“Awalnya suka kumpul-kumpul biasa, membahas desain, sharing ilmu, dan lainnya. Kumpul-kumpulnya ya di kafe dan warung, yang penting ada colokan listrik,” paparnya.

Membentuk komunitas desain grafis, kata Rizal, yang mengilhami adalah Erick dengan nama desainnya Erick Sun Java. “Founder yang mengilhami dan menyatukan pikiran kita ya Mas Erick,” tuturnya. Lewat pengalaman Erick dan membuka jaringan Erick selama ini membuat rekan-rekannya terbuka pemikirannya untuk bersama-sama membuat grup atau komunitas.

Bahkan, kata dia, saat rilis pertama dengan membuat media sosial, antusiasmenya tinggi. Rizal paham, jika berbicara desain grafis sebetulnya potensi anak-anak Jember itu banyak. “Setiap SMK ada jurusan yang mengajarkan desain, belum lagi anak kuliah, hingga otodidak,” tuturnya.

Dari seluruh penjuru potensi tersebut, tambah Rizal, sayangnya belum ada wadah untuk mereka. “Jadi visinya ya ingin penggiat seni desain, terutama graphic design itu berkumpul,” tambahnya.

Dalam kumpul tersebut sharing ilmu dan mendapatkan beragam informasi tips dan trik konversi dolar lewat karya grafis. “Jadi hobi desain bisa jadi pendapatan, pendapatannya dolar lagi,” tuturnya. Rizal yang kini banyak sumbang desain di freepik, sebenarnya cukup sedih sebuah karya pemikiran, karya seni sebuah desain grafis di Jember di pandang sebelah mata, dengan upah yang minim.

Rizal mengaku, lewat JGDC, pikiran tentang desain dan penghasilannya dari desain berubah. “Nyatanya banyak situs-situs luar negeri yang membayar berupa dolar karya desain,” terangnya. Menurutnya, ada beragam cara bagaimana mendulang dolar lewat desain grafis ini. “Ada yang berupa lomba-lomba logo, ada juga yang rutin mengirimkan gambar seperti di freepik,” tandas Rizal yang memiliki nama desain Volve Studio ini

Bahkan, menurut Satriyo Budi Darmawan, anggota JGDC, lomba logo itu banyak sekali. “Setiap hari itu ada,” jelasnya. Perusahaan baru-baru yang berdiri di penjuru dunia itu membutuhkan logo branding. Mereka kemudian melombakan logo tersebut.

Sebelum bisa mengakses lomba logo tersebut, kata dia, juga perlu tips dan trik. Salah satunya adalah kerap kali mengumpulkan portofolio agar dianggap oleh orang luar negeri desainer grafis profesional dan memang pekerjaannya itu. Dalam lomba logo, Indonesia termasuk negara yang diperhitungkan. “Indonesia, India, Brazil adalah negara-negara langganan juara logo,” paparnya.

Lantas berapa hasil juara logo, kata Satriyo, yang akrab dipanggil Yoyok ini, harga terendah berkisar lima juta. “Lima juta itu perusahaan kecil yang baru berdiri. Jika di Indonesia itu seperti usaha mikro kecil menengah (UMKM),” jelasnya.

Lewat wadah JGDC, setiap lomba punya karakter berbeda-beda untuk memenangkan. Ada yang secara kelompok diskusi menuangkan ide, ada pula saling tukar ide dan mengirimkan banyak. Ada pula yang setiap lomba diikuti satu per satu, ada yang konsen ke satu lomba. “Setiap orang punya cara tersendiri,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/