alexametrics
27.8 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Semangat Belajar Tinggi, Istri Bikin Syair Kenang Mendiang Suami

Masih ingat mahasiswa S-2 IAIN Jember yang meninggal menjelang diwisuda? Saat pengukuhan menjadi magister, mahasiswa Program Studi Bahasa Arab tersebut diwakili oleh istrinya, Siti Nur Jannah. Kini, sang istri menciptakan lagu yang diperuntukkan mendiang suaminya tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siti Nur Jannah menjadi perhatian ketika mengikuti wisuda di IAIN Jember, Senin (21/12) lalu. Sebab, sebenarnya bukan dirinya yang harus mengikuti prosesi sakral itu, melainkan mendiang suaminya, Ali Rosyadi Al-Hafid. Dia mewakili sang suami karena meninggal beberapa hari menjelang wisuda itu digelar. Tangis Nur Jannah pecah sesaat setelah senat kampus menyematkan toga kepadanya. Perempuan itu berjalan menuju tempat duduk sembari membawa foto Ali Rosyadi.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Nur Jannah bercerita panjang tentang almarhum suaminya. Di usianya yang setengah abad, dia mengungkapkan, mendiang Ali Rosyadi masih gigih mengkhatamkan studi S-2. Semangat belajarnya tinggi. Tidak memandang umur. Semangat belajar ini ia tularkan kepada anak dan istrinya. Sejak dini, anak-anak mendiang Ali Rosyadi diajarkan untuk selalu memiliki semangat belajar yang besar.

Bagi Ali Rosyadi Al-Hafid, pendidikan bukan melulu untuk kepentingan pekerjaan. Apalagi sekadar mendapat ijazah. Lebih dari itu, Ali Rosyadi punya prinsip bahwa menempuh pendidikan adalah hal yang wajib dijalani oleh setiap umat manusia. Bahkan hukumnya wajib.

Mobile_AP_Rectangle 2

Semasa hidupnya, Ali Rosyadi berupaya untuk memenuhi segala tuntutan biaya pendidikan anak-anaknya secara maksimal. Tak heran jika kepergiannya menimbulkan lara mendalam untuk orang-orang di dekatnya. Apalagi keluarganya. Almarhum tinggal bersama keluarganya di Dusun Sulakdoro, Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan.

Istri Ali Rosyadi, Siti Nur Jannah menuturkan, menjelang kematian, mendiang suaminya tidak memberikan tanda-tanda sakit atau keanehan. Dia wafat ketika memimpin jamaah pengajian Toriqoh. Pengajian tersebut diikuti oleh 60 orang. “Waktu itu, Pak Ali juga menjadi penceramah,” ungkap Nur Jannah.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siti Nur Jannah menjadi perhatian ketika mengikuti wisuda di IAIN Jember, Senin (21/12) lalu. Sebab, sebenarnya bukan dirinya yang harus mengikuti prosesi sakral itu, melainkan mendiang suaminya, Ali Rosyadi Al-Hafid. Dia mewakili sang suami karena meninggal beberapa hari menjelang wisuda itu digelar. Tangis Nur Jannah pecah sesaat setelah senat kampus menyematkan toga kepadanya. Perempuan itu berjalan menuju tempat duduk sembari membawa foto Ali Rosyadi.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Nur Jannah bercerita panjang tentang almarhum suaminya. Di usianya yang setengah abad, dia mengungkapkan, mendiang Ali Rosyadi masih gigih mengkhatamkan studi S-2. Semangat belajarnya tinggi. Tidak memandang umur. Semangat belajar ini ia tularkan kepada anak dan istrinya. Sejak dini, anak-anak mendiang Ali Rosyadi diajarkan untuk selalu memiliki semangat belajar yang besar.

Bagi Ali Rosyadi Al-Hafid, pendidikan bukan melulu untuk kepentingan pekerjaan. Apalagi sekadar mendapat ijazah. Lebih dari itu, Ali Rosyadi punya prinsip bahwa menempuh pendidikan adalah hal yang wajib dijalani oleh setiap umat manusia. Bahkan hukumnya wajib.

Semasa hidupnya, Ali Rosyadi berupaya untuk memenuhi segala tuntutan biaya pendidikan anak-anaknya secara maksimal. Tak heran jika kepergiannya menimbulkan lara mendalam untuk orang-orang di dekatnya. Apalagi keluarganya. Almarhum tinggal bersama keluarganya di Dusun Sulakdoro, Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan.

Istri Ali Rosyadi, Siti Nur Jannah menuturkan, menjelang kematian, mendiang suaminya tidak memberikan tanda-tanda sakit atau keanehan. Dia wafat ketika memimpin jamaah pengajian Toriqoh. Pengajian tersebut diikuti oleh 60 orang. “Waktu itu, Pak Ali juga menjadi penceramah,” ungkap Nur Jannah.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siti Nur Jannah menjadi perhatian ketika mengikuti wisuda di IAIN Jember, Senin (21/12) lalu. Sebab, sebenarnya bukan dirinya yang harus mengikuti prosesi sakral itu, melainkan mendiang suaminya, Ali Rosyadi Al-Hafid. Dia mewakili sang suami karena meninggal beberapa hari menjelang wisuda itu digelar. Tangis Nur Jannah pecah sesaat setelah senat kampus menyematkan toga kepadanya. Perempuan itu berjalan menuju tempat duduk sembari membawa foto Ali Rosyadi.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Nur Jannah bercerita panjang tentang almarhum suaminya. Di usianya yang setengah abad, dia mengungkapkan, mendiang Ali Rosyadi masih gigih mengkhatamkan studi S-2. Semangat belajarnya tinggi. Tidak memandang umur. Semangat belajar ini ia tularkan kepada anak dan istrinya. Sejak dini, anak-anak mendiang Ali Rosyadi diajarkan untuk selalu memiliki semangat belajar yang besar.

Bagi Ali Rosyadi Al-Hafid, pendidikan bukan melulu untuk kepentingan pekerjaan. Apalagi sekadar mendapat ijazah. Lebih dari itu, Ali Rosyadi punya prinsip bahwa menempuh pendidikan adalah hal yang wajib dijalani oleh setiap umat manusia. Bahkan hukumnya wajib.

Semasa hidupnya, Ali Rosyadi berupaya untuk memenuhi segala tuntutan biaya pendidikan anak-anaknya secara maksimal. Tak heran jika kepergiannya menimbulkan lara mendalam untuk orang-orang di dekatnya. Apalagi keluarganya. Almarhum tinggal bersama keluarganya di Dusun Sulakdoro, Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan.

Istri Ali Rosyadi, Siti Nur Jannah menuturkan, menjelang kematian, mendiang suaminya tidak memberikan tanda-tanda sakit atau keanehan. Dia wafat ketika memimpin jamaah pengajian Toriqoh. Pengajian tersebut diikuti oleh 60 orang. “Waktu itu, Pak Ali juga menjadi penceramah,” ungkap Nur Jannah.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/