alexametrics
23.4 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Memilih Mati ketimbang Bertengkar dengan Istri

Diduga Depresi, Warga Semboro Bunuh Diri

Mobile_AP_Rectangle 1

SEMBORO, RADARJEMBER.ID – Tak ada yang tahu persis apa alasan Bambang Suhendro bunuh diri. Ada yang menduga, ia jengah karena sering cekcok dengan sang istri. Pertengkaran yang terjadi terus-menerus itu membuat lelaki 53 tahun ini depresi hingga akhirnya nekat gantung diri.

Didit, saudara korban, mengatakan, Bambang ditemukan meninggal gantung diri di dalam dapur rumahnya di Dusun Semboro Pasar, Desa/Kecamatan Semboro, kemarin (30/9). Korban dikenal sebagai pekerja serabutan dengan penghasilan yang pas-pasan. “Sepertinya korban depresi karena sering cekcok dengan istri. Bahkan beberapa waktu lalu, saya melihat korban memberi nasihat ke istrinya agar menjaga sikap dengan tetangga. Tetapi, istrinya malah marah-marah,” kata Didit.

Pria 43 tahun ini menduga, persoalan ekonomi bukan menjadi biang korban mengakhiri hidup. Sebab, walau korban bekerja serabutan, tapi istrinya mempunyai usaha warung di sekitar PG Semboro. “Kalau persoalan ekonomi bukan menjadi penyebab. Karena istrinya memiliki warung di lokasi parkir truk tebu di sekitar pabrik,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sementara itu, Afandi, ketua RT setempat, menduga, korban nekat mengakhiri hidup lantaran depresi dengan beban hidup yang selama ini dialami. Kendati begitu, Afandi mengaku tidak tahu persis apa yang melatarbelakangi perbuatan tersebut. “Kemungkinan karena beban hidup. Sebab, selama ini korban juga bekerja serabutan,” ujarnya.

Menurut dia, korban kali pertama ditemukan oleh tetangganya. Kala itu, kondisi rumah korban cukup sepi dan istrinya tidak ada di rumah. “Setelah mengetahui, langsung dilaporkan ke polsek dan puskesmas,” kata Afandi.

- Advertisement -

SEMBORO, RADARJEMBER.ID – Tak ada yang tahu persis apa alasan Bambang Suhendro bunuh diri. Ada yang menduga, ia jengah karena sering cekcok dengan sang istri. Pertengkaran yang terjadi terus-menerus itu membuat lelaki 53 tahun ini depresi hingga akhirnya nekat gantung diri.

Didit, saudara korban, mengatakan, Bambang ditemukan meninggal gantung diri di dalam dapur rumahnya di Dusun Semboro Pasar, Desa/Kecamatan Semboro, kemarin (30/9). Korban dikenal sebagai pekerja serabutan dengan penghasilan yang pas-pasan. “Sepertinya korban depresi karena sering cekcok dengan istri. Bahkan beberapa waktu lalu, saya melihat korban memberi nasihat ke istrinya agar menjaga sikap dengan tetangga. Tetapi, istrinya malah marah-marah,” kata Didit.

Pria 43 tahun ini menduga, persoalan ekonomi bukan menjadi biang korban mengakhiri hidup. Sebab, walau korban bekerja serabutan, tapi istrinya mempunyai usaha warung di sekitar PG Semboro. “Kalau persoalan ekonomi bukan menjadi penyebab. Karena istrinya memiliki warung di lokasi parkir truk tebu di sekitar pabrik,” ungkapnya.

Sementara itu, Afandi, ketua RT setempat, menduga, korban nekat mengakhiri hidup lantaran depresi dengan beban hidup yang selama ini dialami. Kendati begitu, Afandi mengaku tidak tahu persis apa yang melatarbelakangi perbuatan tersebut. “Kemungkinan karena beban hidup. Sebab, selama ini korban juga bekerja serabutan,” ujarnya.

Menurut dia, korban kali pertama ditemukan oleh tetangganya. Kala itu, kondisi rumah korban cukup sepi dan istrinya tidak ada di rumah. “Setelah mengetahui, langsung dilaporkan ke polsek dan puskesmas,” kata Afandi.

SEMBORO, RADARJEMBER.ID – Tak ada yang tahu persis apa alasan Bambang Suhendro bunuh diri. Ada yang menduga, ia jengah karena sering cekcok dengan sang istri. Pertengkaran yang terjadi terus-menerus itu membuat lelaki 53 tahun ini depresi hingga akhirnya nekat gantung diri.

Didit, saudara korban, mengatakan, Bambang ditemukan meninggal gantung diri di dalam dapur rumahnya di Dusun Semboro Pasar, Desa/Kecamatan Semboro, kemarin (30/9). Korban dikenal sebagai pekerja serabutan dengan penghasilan yang pas-pasan. “Sepertinya korban depresi karena sering cekcok dengan istri. Bahkan beberapa waktu lalu, saya melihat korban memberi nasihat ke istrinya agar menjaga sikap dengan tetangga. Tetapi, istrinya malah marah-marah,” kata Didit.

Pria 43 tahun ini menduga, persoalan ekonomi bukan menjadi biang korban mengakhiri hidup. Sebab, walau korban bekerja serabutan, tapi istrinya mempunyai usaha warung di sekitar PG Semboro. “Kalau persoalan ekonomi bukan menjadi penyebab. Karena istrinya memiliki warung di lokasi parkir truk tebu di sekitar pabrik,” ungkapnya.

Sementara itu, Afandi, ketua RT setempat, menduga, korban nekat mengakhiri hidup lantaran depresi dengan beban hidup yang selama ini dialami. Kendati begitu, Afandi mengaku tidak tahu persis apa yang melatarbelakangi perbuatan tersebut. “Kemungkinan karena beban hidup. Sebab, selama ini korban juga bekerja serabutan,” ujarnya.

Menurut dia, korban kali pertama ditemukan oleh tetangganya. Kala itu, kondisi rumah korban cukup sepi dan istrinya tidak ada di rumah. “Setelah mengetahui, langsung dilaporkan ke polsek dan puskesmas,” kata Afandi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/