alexametrics
25.2 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Rutin, Cara Pria Berjuang Sembuh dari Stroke di Pantai

Stroke yang diderita Poniyat membuat perekonomian keluarganya makin terimpit. Dua tahun lalu, lelaki yang pernah tinggal di Lumajang itu pulang ke Paseban untuk melakukan terapi secara mandiri. Apakah terapinya itu membuahkan hasil?

Mobile_AP_Rectangle 1

PASEBAN, RADARJEMBER.ID – EMBUSAN angin di pinggir Pantai Paseban, Kecamatan Kencong, membuat terik matahari tak terasa panas. Padahal, waktu telah menunjukkan pukul 11.00. Di balik perahu yang bersandar di bibir pantai itu, seorang pria tampak memendam kakinya ke dalam pasir.

Pria tersebut adalah Poniyat. Dia memiliki istri dan dua anak. Sekitar dua tahun lalu, dia belum tinggal di Jember, tetapi di Lumajang. Namun, dalam perjalanan hidupnya, Poniyat dihadapkan dengan ujian, yakni sakit stroke.

Lelaki yang dulu bekerja serabutan ini harus menghadapi kenyataan pahit. Sejak itu, dirinya tak lagi bekerja. Sementara, untuk berobat, dia pun tak punya banyak uang sehingga dilakukan ala kadarnya. Dia akhirnya berpikir, jika sakitnya dibiarkan, bisa jadi akan semakin parah. “Dua tahun lalu, saya putuskan untuk pulang ke Karang Anyar, Paseban,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Keputusan pulang ke Paseban bukan tanpa alasan. Poniyat mengaku, dia tinggal di Lumajang jauh dari laut. Sementara, rumahnya di Jember cukup dekat. “Saya berpikir, mungkin saya bisa terapi sendiri. Akhirnya saya terapi pakai pasir,” ucapnya.

Pada saat sakit di awal, kakinya nyaris tak merasakan sentuhan. Dia meyakini, rasa panas akan bisa dirasakan olehnya. Dia pun memutuskan untuk rutin melakukan terapi pasir hangat. Terapi rutin itu pun diakuinya dilakukan karena tidak setiap saat dirinya bisa ke rumah sakit.

Berkat ketekunan Poniyat, sejak itu ada kemajuan. Kakinya mulai bisa merasakan sentuhan dan berjalan lebih normal. Tanpa banyak pertimbangan, saat dirinya santai, dia pun melakukan terapi di bawah terik matahari dan memendam kakinya dengan pasir hangat. “Tidak terlalu lama. Kalau kelamaan, ya, panas,” ungkapnya.

- Advertisement -

PASEBAN, RADARJEMBER.ID – EMBUSAN angin di pinggir Pantai Paseban, Kecamatan Kencong, membuat terik matahari tak terasa panas. Padahal, waktu telah menunjukkan pukul 11.00. Di balik perahu yang bersandar di bibir pantai itu, seorang pria tampak memendam kakinya ke dalam pasir.

Pria tersebut adalah Poniyat. Dia memiliki istri dan dua anak. Sekitar dua tahun lalu, dia belum tinggal di Jember, tetapi di Lumajang. Namun, dalam perjalanan hidupnya, Poniyat dihadapkan dengan ujian, yakni sakit stroke.

Lelaki yang dulu bekerja serabutan ini harus menghadapi kenyataan pahit. Sejak itu, dirinya tak lagi bekerja. Sementara, untuk berobat, dia pun tak punya banyak uang sehingga dilakukan ala kadarnya. Dia akhirnya berpikir, jika sakitnya dibiarkan, bisa jadi akan semakin parah. “Dua tahun lalu, saya putuskan untuk pulang ke Karang Anyar, Paseban,” katanya.

Keputusan pulang ke Paseban bukan tanpa alasan. Poniyat mengaku, dia tinggal di Lumajang jauh dari laut. Sementara, rumahnya di Jember cukup dekat. “Saya berpikir, mungkin saya bisa terapi sendiri. Akhirnya saya terapi pakai pasir,” ucapnya.

Pada saat sakit di awal, kakinya nyaris tak merasakan sentuhan. Dia meyakini, rasa panas akan bisa dirasakan olehnya. Dia pun memutuskan untuk rutin melakukan terapi pasir hangat. Terapi rutin itu pun diakuinya dilakukan karena tidak setiap saat dirinya bisa ke rumah sakit.

Berkat ketekunan Poniyat, sejak itu ada kemajuan. Kakinya mulai bisa merasakan sentuhan dan berjalan lebih normal. Tanpa banyak pertimbangan, saat dirinya santai, dia pun melakukan terapi di bawah terik matahari dan memendam kakinya dengan pasir hangat. “Tidak terlalu lama. Kalau kelamaan, ya, panas,” ungkapnya.

PASEBAN, RADARJEMBER.ID – EMBUSAN angin di pinggir Pantai Paseban, Kecamatan Kencong, membuat terik matahari tak terasa panas. Padahal, waktu telah menunjukkan pukul 11.00. Di balik perahu yang bersandar di bibir pantai itu, seorang pria tampak memendam kakinya ke dalam pasir.

Pria tersebut adalah Poniyat. Dia memiliki istri dan dua anak. Sekitar dua tahun lalu, dia belum tinggal di Jember, tetapi di Lumajang. Namun, dalam perjalanan hidupnya, Poniyat dihadapkan dengan ujian, yakni sakit stroke.

Lelaki yang dulu bekerja serabutan ini harus menghadapi kenyataan pahit. Sejak itu, dirinya tak lagi bekerja. Sementara, untuk berobat, dia pun tak punya banyak uang sehingga dilakukan ala kadarnya. Dia akhirnya berpikir, jika sakitnya dibiarkan, bisa jadi akan semakin parah. “Dua tahun lalu, saya putuskan untuk pulang ke Karang Anyar, Paseban,” katanya.

Keputusan pulang ke Paseban bukan tanpa alasan. Poniyat mengaku, dia tinggal di Lumajang jauh dari laut. Sementara, rumahnya di Jember cukup dekat. “Saya berpikir, mungkin saya bisa terapi sendiri. Akhirnya saya terapi pakai pasir,” ucapnya.

Pada saat sakit di awal, kakinya nyaris tak merasakan sentuhan. Dia meyakini, rasa panas akan bisa dirasakan olehnya. Dia pun memutuskan untuk rutin melakukan terapi pasir hangat. Terapi rutin itu pun diakuinya dilakukan karena tidak setiap saat dirinya bisa ke rumah sakit.

Berkat ketekunan Poniyat, sejak itu ada kemajuan. Kakinya mulai bisa merasakan sentuhan dan berjalan lebih normal. Tanpa banyak pertimbangan, saat dirinya santai, dia pun melakukan terapi di bawah terik matahari dan memendam kakinya dengan pasir hangat. “Tidak terlalu lama. Kalau kelamaan, ya, panas,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/