alexametrics
30.4 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Menahan Haru Tanpa Kehadiran Orang Tua

Wisuda menjadi pengalaman atau momen sekali seumur hidup. Alih-alih berharap menjadi momen paling berkesan, namun pandemi mengubah segalanya. Karena diberlakukan wisuda drive thru, para orang tua wisudawan hanya bisa menyaksikan prosesi pemindahan toga buah hatinya melalui sambungan live streaming.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak pagi, ratusan mahasiswa terlihat memadati Jalan Karimata. Dengan mengenakan pakaian toga, tampak beragam raut di wajah mereka. Ada yang senang, mengerutkan dahi, hingga tak sedikit pula yang sekadar berwajah datar-datar saja. Sambil menantikan giliran untuk dipanggil, para wisudawan masih berupaya menunjukkan sikap percaya dirinya.

Satu per satu para wisudawan pun mulai dipanggil. Terik matahari yang mulai naik seakan bukan penghalang bagi mereka untuk berhadapan dengan jajaran senat saat prosesi pemindahan tali toga. Sementara, di sekeliling wisudawan dan jajaran senat, tampak sejumlah juru kamera mengabadikan momen penting tersebut. Seakan jangan sampai satu celah pun dari momen itu terlewatkan. Terlebih lagi, tangkapan gambar dari para juru kamera itu disimak secara langsung saat itu oleh orang tua atau wali mahasiswa di rumahnya masing-masing.

Inilah yang terjadi pada prosesi wisuda Universitas Muhammadiyah Jember secara drive thru. Agenda yang diikuti 801 alumni itu berjalan dalam tiga tahap. Bisa jadi, 801 alumni ini adalah angkatan pertama yang merasakan wisuda drive thru di Kampus Biru itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sayangnya, dengan teknis yang sedikit berbeda, momen penting para lulusan itu serasa kurang lengkap tanpa kehadiran orang-orang tercinta mereka. Yakni orang tua atau wali mahasiswa. “Sebenarnya sangat disayangkan, orang tua kita tidak bisa hadir. Hanya menyimak secara online,” kata Fitriatul Fatimah, salah satu lulusan Fisip UM Jember yang juga menjadi peserta wisuda.

Namanya saja momen berharga, dia sebagai bagian dari wisudawati juga mengharapkan kehadiran orang tuanya itu. Minimal, kata Fatimah, ada kebanggaan tersendiri dari orang tua saat menyaksikan buah hatinya diwisuda atau proses pemindahan tali toga. “Dan pengennya itu disaksikan langsung, nggak melalui live streaming,” imbuhnya.

Namun, gadis kelahiran Jember itu mengaku cukup bangga bisa melaksanakan wisuda di tengah pandemi. Meskipun harus berjalan dengan cara tak biasa. Menurutnya, kapan lagi bisa diwisuda. Apalagi kampus lain belum banyak yang melakukan wisuda.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak pagi, ratusan mahasiswa terlihat memadati Jalan Karimata. Dengan mengenakan pakaian toga, tampak beragam raut di wajah mereka. Ada yang senang, mengerutkan dahi, hingga tak sedikit pula yang sekadar berwajah datar-datar saja. Sambil menantikan giliran untuk dipanggil, para wisudawan masih berupaya menunjukkan sikap percaya dirinya.

Satu per satu para wisudawan pun mulai dipanggil. Terik matahari yang mulai naik seakan bukan penghalang bagi mereka untuk berhadapan dengan jajaran senat saat prosesi pemindahan tali toga. Sementara, di sekeliling wisudawan dan jajaran senat, tampak sejumlah juru kamera mengabadikan momen penting tersebut. Seakan jangan sampai satu celah pun dari momen itu terlewatkan. Terlebih lagi, tangkapan gambar dari para juru kamera itu disimak secara langsung saat itu oleh orang tua atau wali mahasiswa di rumahnya masing-masing.

Inilah yang terjadi pada prosesi wisuda Universitas Muhammadiyah Jember secara drive thru. Agenda yang diikuti 801 alumni itu berjalan dalam tiga tahap. Bisa jadi, 801 alumni ini adalah angkatan pertama yang merasakan wisuda drive thru di Kampus Biru itu.

Sayangnya, dengan teknis yang sedikit berbeda, momen penting para lulusan itu serasa kurang lengkap tanpa kehadiran orang-orang tercinta mereka. Yakni orang tua atau wali mahasiswa. “Sebenarnya sangat disayangkan, orang tua kita tidak bisa hadir. Hanya menyimak secara online,” kata Fitriatul Fatimah, salah satu lulusan Fisip UM Jember yang juga menjadi peserta wisuda.

Namanya saja momen berharga, dia sebagai bagian dari wisudawati juga mengharapkan kehadiran orang tuanya itu. Minimal, kata Fatimah, ada kebanggaan tersendiri dari orang tua saat menyaksikan buah hatinya diwisuda atau proses pemindahan tali toga. “Dan pengennya itu disaksikan langsung, nggak melalui live streaming,” imbuhnya.

Namun, gadis kelahiran Jember itu mengaku cukup bangga bisa melaksanakan wisuda di tengah pandemi. Meskipun harus berjalan dengan cara tak biasa. Menurutnya, kapan lagi bisa diwisuda. Apalagi kampus lain belum banyak yang melakukan wisuda.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak pagi, ratusan mahasiswa terlihat memadati Jalan Karimata. Dengan mengenakan pakaian toga, tampak beragam raut di wajah mereka. Ada yang senang, mengerutkan dahi, hingga tak sedikit pula yang sekadar berwajah datar-datar saja. Sambil menantikan giliran untuk dipanggil, para wisudawan masih berupaya menunjukkan sikap percaya dirinya.

Satu per satu para wisudawan pun mulai dipanggil. Terik matahari yang mulai naik seakan bukan penghalang bagi mereka untuk berhadapan dengan jajaran senat saat prosesi pemindahan tali toga. Sementara, di sekeliling wisudawan dan jajaran senat, tampak sejumlah juru kamera mengabadikan momen penting tersebut. Seakan jangan sampai satu celah pun dari momen itu terlewatkan. Terlebih lagi, tangkapan gambar dari para juru kamera itu disimak secara langsung saat itu oleh orang tua atau wali mahasiswa di rumahnya masing-masing.

Inilah yang terjadi pada prosesi wisuda Universitas Muhammadiyah Jember secara drive thru. Agenda yang diikuti 801 alumni itu berjalan dalam tiga tahap. Bisa jadi, 801 alumni ini adalah angkatan pertama yang merasakan wisuda drive thru di Kampus Biru itu.

Sayangnya, dengan teknis yang sedikit berbeda, momen penting para lulusan itu serasa kurang lengkap tanpa kehadiran orang-orang tercinta mereka. Yakni orang tua atau wali mahasiswa. “Sebenarnya sangat disayangkan, orang tua kita tidak bisa hadir. Hanya menyimak secara online,” kata Fitriatul Fatimah, salah satu lulusan Fisip UM Jember yang juga menjadi peserta wisuda.

Namanya saja momen berharga, dia sebagai bagian dari wisudawati juga mengharapkan kehadiran orang tuanya itu. Minimal, kata Fatimah, ada kebanggaan tersendiri dari orang tua saat menyaksikan buah hatinya diwisuda atau proses pemindahan tali toga. “Dan pengennya itu disaksikan langsung, nggak melalui live streaming,” imbuhnya.

Namun, gadis kelahiran Jember itu mengaku cukup bangga bisa melaksanakan wisuda di tengah pandemi. Meskipun harus berjalan dengan cara tak biasa. Menurutnya, kapan lagi bisa diwisuda. Apalagi kampus lain belum banyak yang melakukan wisuda.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/