alexametrics
26.5 C
Jember
Monday, 27 June 2022

Menteri PPN Apresiasi Batik Ramah Lingkungan

Mobile_AP_Rectangle 1

Selain itu, motif Botol Cabe, Rekahan Rafflesia, Pucuk Cabe Jawa, Kuncup Cabe, Kepak Elang, Tapak Asri, Lebah Meru, hingga Alas Meru juga mewarnai ragam corak batik tersebut. Sejak awal 2018, sudah terbentuk berbagai Kelompok Usaha Bersama (KUBE) yang memanfaatkan kekayaan alam TNMB. Mulai dari KUBE Batik Warna Alam, minuman herbal, hingga camilan khas Desa Wonoasri.

Kegiatan  yang dilakukan Bappenas, ICCTF, USAID, dan Universitas Jember itu guna penurunan emisi Gas Rumah Kaca. Sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat. “Karena tujuannya adalah  mengharmoniskan antara kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat dengan konservasi lingkungan,” tegasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Jember Moh Hasan menjelaskan, program rehabilitasi TNMB itu dilaksanakan dalam enam sub program. Di antaranya penanaman tanaman ekonomi non-kayu, peningkatan kesuburan dan daya sanggah tanah, penilaian ekologi kawasan rehabilitasi, pembuatan hutan kolong dan pekarangan, perumusan kerja sama baru antara Taman Nasional Meru Betiri dengan masyarakat, serta pemberdayaan masyarakat.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Para peneliti dari Unej memfasilitasi kelompok pembatik yang beranggotakan 46 orang. Mereka akan mendapatkan pelatihan membatik dengan pewarna alam yang berasal dari TNMB,” pungkasnya. (*)

 

- Advertisement -

Selain itu, motif Botol Cabe, Rekahan Rafflesia, Pucuk Cabe Jawa, Kuncup Cabe, Kepak Elang, Tapak Asri, Lebah Meru, hingga Alas Meru juga mewarnai ragam corak batik tersebut. Sejak awal 2018, sudah terbentuk berbagai Kelompok Usaha Bersama (KUBE) yang memanfaatkan kekayaan alam TNMB. Mulai dari KUBE Batik Warna Alam, minuman herbal, hingga camilan khas Desa Wonoasri.

Kegiatan  yang dilakukan Bappenas, ICCTF, USAID, dan Universitas Jember itu guna penurunan emisi Gas Rumah Kaca. Sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat. “Karena tujuannya adalah  mengharmoniskan antara kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat dengan konservasi lingkungan,” tegasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Jember Moh Hasan menjelaskan, program rehabilitasi TNMB itu dilaksanakan dalam enam sub program. Di antaranya penanaman tanaman ekonomi non-kayu, peningkatan kesuburan dan daya sanggah tanah, penilaian ekologi kawasan rehabilitasi, pembuatan hutan kolong dan pekarangan, perumusan kerja sama baru antara Taman Nasional Meru Betiri dengan masyarakat, serta pemberdayaan masyarakat.

“Para peneliti dari Unej memfasilitasi kelompok pembatik yang beranggotakan 46 orang. Mereka akan mendapatkan pelatihan membatik dengan pewarna alam yang berasal dari TNMB,” pungkasnya. (*)

 

Selain itu, motif Botol Cabe, Rekahan Rafflesia, Pucuk Cabe Jawa, Kuncup Cabe, Kepak Elang, Tapak Asri, Lebah Meru, hingga Alas Meru juga mewarnai ragam corak batik tersebut. Sejak awal 2018, sudah terbentuk berbagai Kelompok Usaha Bersama (KUBE) yang memanfaatkan kekayaan alam TNMB. Mulai dari KUBE Batik Warna Alam, minuman herbal, hingga camilan khas Desa Wonoasri.

Kegiatan  yang dilakukan Bappenas, ICCTF, USAID, dan Universitas Jember itu guna penurunan emisi Gas Rumah Kaca. Sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat. “Karena tujuannya adalah  mengharmoniskan antara kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat dengan konservasi lingkungan,” tegasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Jember Moh Hasan menjelaskan, program rehabilitasi TNMB itu dilaksanakan dalam enam sub program. Di antaranya penanaman tanaman ekonomi non-kayu, peningkatan kesuburan dan daya sanggah tanah, penilaian ekologi kawasan rehabilitasi, pembuatan hutan kolong dan pekarangan, perumusan kerja sama baru antara Taman Nasional Meru Betiri dengan masyarakat, serta pemberdayaan masyarakat.

“Para peneliti dari Unej memfasilitasi kelompok pembatik yang beranggotakan 46 orang. Mereka akan mendapatkan pelatihan membatik dengan pewarna alam yang berasal dari TNMB,” pungkasnya. (*)

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/