alexametrics
31.1 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Menteri PPN Apresiasi Batik Ramah Lingkungan

Mobile_AP_Rectangle 1

RADAR JEMBER.ID – Tinggal di kawasan penyangga hutan Taman Nasional Meru Betiri tak sepenuhnya menjadikan masyarakatnya tertinggal. Hal itu justru memunculkan potensi baru yang bisa dikembangkan. Yakni batik khas warna alam Meru Betiri di Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo.

Batik yang menggunakan warna dari daun dan akar beberapa pohon ini mendapat apresiasi dari Menteri Pembangunan dan Perencanaan Nasional (PPN) Bambang Brodjonegoro. Dia meresmikan Desa Wonoasri sebagai pusat batik warna alam Meru Betiri di halaman Rektorat Universitas Jember, kemarin (31/7).

Menurut Bambang, batik Meru Betiri merupakan salah satu inovasi dari klaster ekonomi yang dikembangkan oleh masyarakat Desa Wonoasri. Yakni batik yang dihasilkan tanpa mengganggu lingkungan hutan itu sendiri. Justru pengembangannya terinspirasi dari hutan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia mengapresiasi inovasi batik yang dikembangkan oleh masyarakat itu. Kombinasi corak batik khas Meru Betiri cukup unik. Menggunakan pewarna yang berasal dari alam seperti daun jati, biji pohon joho lawe, daun tanaman putri malu, hingga kulit kayu pohon jambal.

Pemberdayaan warga dalam membuat batik itu dilakukan oleh Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) bekerja sama dengan Universitas Jember. Yakni dengan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, manajemen, permodalan, dan akses pasar, sekaligus memanfaatkan kekayaan alam TNMB. “Bappenas melalui ICCTF memberikan hibah pada binaan dari Unej. Salah satunya batik alam,” terang Bambang.

Penggunaan pewarna alam berasal dari akar dan batang tanaman bakau, daun jati, tumbuhan putri malu, dan sebagainya. Ada 13 motif batik yang bersumber dari kekayaan hayati TNMB. Baik flora maupun fauna. Seperti motif Samber Elang, Lembah Padmosari, Jejak Matul, dan Siput Meru.

- Advertisement -

RADAR JEMBER.ID – Tinggal di kawasan penyangga hutan Taman Nasional Meru Betiri tak sepenuhnya menjadikan masyarakatnya tertinggal. Hal itu justru memunculkan potensi baru yang bisa dikembangkan. Yakni batik khas warna alam Meru Betiri di Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo.

Batik yang menggunakan warna dari daun dan akar beberapa pohon ini mendapat apresiasi dari Menteri Pembangunan dan Perencanaan Nasional (PPN) Bambang Brodjonegoro. Dia meresmikan Desa Wonoasri sebagai pusat batik warna alam Meru Betiri di halaman Rektorat Universitas Jember, kemarin (31/7).

Menurut Bambang, batik Meru Betiri merupakan salah satu inovasi dari klaster ekonomi yang dikembangkan oleh masyarakat Desa Wonoasri. Yakni batik yang dihasilkan tanpa mengganggu lingkungan hutan itu sendiri. Justru pengembangannya terinspirasi dari hutan.

Dia mengapresiasi inovasi batik yang dikembangkan oleh masyarakat itu. Kombinasi corak batik khas Meru Betiri cukup unik. Menggunakan pewarna yang berasal dari alam seperti daun jati, biji pohon joho lawe, daun tanaman putri malu, hingga kulit kayu pohon jambal.

Pemberdayaan warga dalam membuat batik itu dilakukan oleh Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) bekerja sama dengan Universitas Jember. Yakni dengan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, manajemen, permodalan, dan akses pasar, sekaligus memanfaatkan kekayaan alam TNMB. “Bappenas melalui ICCTF memberikan hibah pada binaan dari Unej. Salah satunya batik alam,” terang Bambang.

Penggunaan pewarna alam berasal dari akar dan batang tanaman bakau, daun jati, tumbuhan putri malu, dan sebagainya. Ada 13 motif batik yang bersumber dari kekayaan hayati TNMB. Baik flora maupun fauna. Seperti motif Samber Elang, Lembah Padmosari, Jejak Matul, dan Siput Meru.

RADAR JEMBER.ID – Tinggal di kawasan penyangga hutan Taman Nasional Meru Betiri tak sepenuhnya menjadikan masyarakatnya tertinggal. Hal itu justru memunculkan potensi baru yang bisa dikembangkan. Yakni batik khas warna alam Meru Betiri di Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo.

Batik yang menggunakan warna dari daun dan akar beberapa pohon ini mendapat apresiasi dari Menteri Pembangunan dan Perencanaan Nasional (PPN) Bambang Brodjonegoro. Dia meresmikan Desa Wonoasri sebagai pusat batik warna alam Meru Betiri di halaman Rektorat Universitas Jember, kemarin (31/7).

Menurut Bambang, batik Meru Betiri merupakan salah satu inovasi dari klaster ekonomi yang dikembangkan oleh masyarakat Desa Wonoasri. Yakni batik yang dihasilkan tanpa mengganggu lingkungan hutan itu sendiri. Justru pengembangannya terinspirasi dari hutan.

Dia mengapresiasi inovasi batik yang dikembangkan oleh masyarakat itu. Kombinasi corak batik khas Meru Betiri cukup unik. Menggunakan pewarna yang berasal dari alam seperti daun jati, biji pohon joho lawe, daun tanaman putri malu, hingga kulit kayu pohon jambal.

Pemberdayaan warga dalam membuat batik itu dilakukan oleh Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) bekerja sama dengan Universitas Jember. Yakni dengan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, manajemen, permodalan, dan akses pasar, sekaligus memanfaatkan kekayaan alam TNMB. “Bappenas melalui ICCTF memberikan hibah pada binaan dari Unej. Salah satunya batik alam,” terang Bambang.

Penggunaan pewarna alam berasal dari akar dan batang tanaman bakau, daun jati, tumbuhan putri malu, dan sebagainya. Ada 13 motif batik yang bersumber dari kekayaan hayati TNMB. Baik flora maupun fauna. Seperti motif Samber Elang, Lembah Padmosari, Jejak Matul, dan Siput Meru.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/