alexametrics
23.4 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Cerita Rasmi, Salah Seorang Pedagang di Pasar Tanjung

Mobile_AP_Rectangle 1

RADAR JEMBER.ID – Ada banyak orang yang menggantungkan hidupnya dengan bekerja pada Pasar Tanjung. Pusat perbelanjaan tradisional yang ada di jantung kota ini pun menyimpan banyak kenangan, terutama bagi mereka yang sudah hidup puluhan tahun. Salah satunya seperti Rasmi, penjual kopi yang kini berada di sisi utara lantai dua.

Perempuan berusia 56 tahun ini memang bukan orang pertama menjadi pedagang di pasar tersebut. Akan tetapi, bagi dia, keberadaan Pasar Tanjung sudah mendarah daging. Maklum, Rasmi yang hanya tamatan sekolah rakyat, sudah menjalani aktivitasnya di Pasar Tanjung sejak kecil.

Rasmi bisa menjadi salah satu pedagang di pasar ini karena mengikuti jejak almarhum ibunya, Tiamah. Dia juga mengenal perkembangan pasar dari masa ke masa. Termasuk menjadi saksi hidup sebelum dan sesudah pasar direvitalisasi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bagi Rasmi, keberadaan Pasar Tanjung benar-benar memberi warna dalam hidupnya. Dulu, saat dirinya masih kecil, Rasmi hanya bisa membantu apa yang diminta dan disuruh ibunya. Saat itu, dirinya tak begitu memikirkan apakah kondisi pasar sudah baik atau perlu perbaikan.

Waktu yang terus berjalan dan Rasmi pun dewasa, dia pun menikah dengan pedagang lain, yaitu almarhum Safari. Dia pun mulai melanjutkan profesi ibunya hingga memiliki seorang anak. “Sekarang cucu saya sudah dua,” ujar Rasmi yang tinggal tak jauh dari pasar tersebut.

Sebagai pedagang nasi pecel, lontong, dan kopi yang mandiri, dia pun merasakan betapa kebersihan pasar serta suasananya menjadi hal yang penting. Suasana baru itu benar-benar dia rasakan berbeda saat pasar selesai direvitalisasi.

- Advertisement -

RADAR JEMBER.ID – Ada banyak orang yang menggantungkan hidupnya dengan bekerja pada Pasar Tanjung. Pusat perbelanjaan tradisional yang ada di jantung kota ini pun menyimpan banyak kenangan, terutama bagi mereka yang sudah hidup puluhan tahun. Salah satunya seperti Rasmi, penjual kopi yang kini berada di sisi utara lantai dua.

Perempuan berusia 56 tahun ini memang bukan orang pertama menjadi pedagang di pasar tersebut. Akan tetapi, bagi dia, keberadaan Pasar Tanjung sudah mendarah daging. Maklum, Rasmi yang hanya tamatan sekolah rakyat, sudah menjalani aktivitasnya di Pasar Tanjung sejak kecil.

Rasmi bisa menjadi salah satu pedagang di pasar ini karena mengikuti jejak almarhum ibunya, Tiamah. Dia juga mengenal perkembangan pasar dari masa ke masa. Termasuk menjadi saksi hidup sebelum dan sesudah pasar direvitalisasi.

Bagi Rasmi, keberadaan Pasar Tanjung benar-benar memberi warna dalam hidupnya. Dulu, saat dirinya masih kecil, Rasmi hanya bisa membantu apa yang diminta dan disuruh ibunya. Saat itu, dirinya tak begitu memikirkan apakah kondisi pasar sudah baik atau perlu perbaikan.

Waktu yang terus berjalan dan Rasmi pun dewasa, dia pun menikah dengan pedagang lain, yaitu almarhum Safari. Dia pun mulai melanjutkan profesi ibunya hingga memiliki seorang anak. “Sekarang cucu saya sudah dua,” ujar Rasmi yang tinggal tak jauh dari pasar tersebut.

Sebagai pedagang nasi pecel, lontong, dan kopi yang mandiri, dia pun merasakan betapa kebersihan pasar serta suasananya menjadi hal yang penting. Suasana baru itu benar-benar dia rasakan berbeda saat pasar selesai direvitalisasi.

RADAR JEMBER.ID – Ada banyak orang yang menggantungkan hidupnya dengan bekerja pada Pasar Tanjung. Pusat perbelanjaan tradisional yang ada di jantung kota ini pun menyimpan banyak kenangan, terutama bagi mereka yang sudah hidup puluhan tahun. Salah satunya seperti Rasmi, penjual kopi yang kini berada di sisi utara lantai dua.

Perempuan berusia 56 tahun ini memang bukan orang pertama menjadi pedagang di pasar tersebut. Akan tetapi, bagi dia, keberadaan Pasar Tanjung sudah mendarah daging. Maklum, Rasmi yang hanya tamatan sekolah rakyat, sudah menjalani aktivitasnya di Pasar Tanjung sejak kecil.

Rasmi bisa menjadi salah satu pedagang di pasar ini karena mengikuti jejak almarhum ibunya, Tiamah. Dia juga mengenal perkembangan pasar dari masa ke masa. Termasuk menjadi saksi hidup sebelum dan sesudah pasar direvitalisasi.

Bagi Rasmi, keberadaan Pasar Tanjung benar-benar memberi warna dalam hidupnya. Dulu, saat dirinya masih kecil, Rasmi hanya bisa membantu apa yang diminta dan disuruh ibunya. Saat itu, dirinya tak begitu memikirkan apakah kondisi pasar sudah baik atau perlu perbaikan.

Waktu yang terus berjalan dan Rasmi pun dewasa, dia pun menikah dengan pedagang lain, yaitu almarhum Safari. Dia pun mulai melanjutkan profesi ibunya hingga memiliki seorang anak. “Sekarang cucu saya sudah dua,” ujar Rasmi yang tinggal tak jauh dari pasar tersebut.

Sebagai pedagang nasi pecel, lontong, dan kopi yang mandiri, dia pun merasakan betapa kebersihan pasar serta suasananya menjadi hal yang penting. Suasana baru itu benar-benar dia rasakan berbeda saat pasar selesai direvitalisasi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/