alexametrics
23.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Pemuda Butuh Panutan Amalkan Pancasila

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Setiap 1 Juni, pemerintah menetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila. Bahkan tanggal tersebut menjadi hari libur nasional. Kalau ada anggapan generasi muda tidak mengenal Pancasila, itu anggapan tidak benar karena mereka telah dikenalkan Pancasila di bangku sekolah.

“Siapa bilang generasi muda saat ini tidak tahu Pancasila. Ketika pertama kali masuk sekolah di mulai dari TK atau PAUD hal itu sudah dikenalkan. Apakah hal itu sudah cukup? Tentu tidak karena Pancasila bukan sekadar teori tapi perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Dr Abubakar Eby Hara, Dosen FISIP Universitas Jember.

Dosen mata kuliah Hubungan Internasional (HI) itu menegaskan, generasi muda butuh figur atau tokoh panutan untuk bisa mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Ketika figur tersebut didapatkan diharapkan mampu memberikan contoh perihal kebaikan, maka hal itu otomatis akan membentuk kepribadian mereka.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Jangan sampai cuma bisa teriak antikorupsi, namun tidak ada tindakan konkret untuk melawan korupsi. Hal ini membuat generasi muda muak mendengar teriakan tersebut dan mereka tidak butuh hal seperti itu. Jadi untuk memahamkan Pancasila kepada generasi muda, perlu dibarengi oleh keteladanan, tidak cuma teori,” tegas Eby.

Ketika panutan itu muncul di tengah mereka, maka bakal menjadi idola. Karena sosok itu memang sangat dirindukan. Dosen kelahiran Bangka Belitung tersebut menambahkan, untuk mencari figur seperti kemauan generasi muda di zaman sekarang ini tidaklah gampang. Karena itu pencarian sosok publik figur membutuhkan proses.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Setiap 1 Juni, pemerintah menetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila. Bahkan tanggal tersebut menjadi hari libur nasional. Kalau ada anggapan generasi muda tidak mengenal Pancasila, itu anggapan tidak benar karena mereka telah dikenalkan Pancasila di bangku sekolah.

“Siapa bilang generasi muda saat ini tidak tahu Pancasila. Ketika pertama kali masuk sekolah di mulai dari TK atau PAUD hal itu sudah dikenalkan. Apakah hal itu sudah cukup? Tentu tidak karena Pancasila bukan sekadar teori tapi perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Dr Abubakar Eby Hara, Dosen FISIP Universitas Jember.

Dosen mata kuliah Hubungan Internasional (HI) itu menegaskan, generasi muda butuh figur atau tokoh panutan untuk bisa mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Ketika figur tersebut didapatkan diharapkan mampu memberikan contoh perihal kebaikan, maka hal itu otomatis akan membentuk kepribadian mereka.

“Jangan sampai cuma bisa teriak antikorupsi, namun tidak ada tindakan konkret untuk melawan korupsi. Hal ini membuat generasi muda muak mendengar teriakan tersebut dan mereka tidak butuh hal seperti itu. Jadi untuk memahamkan Pancasila kepada generasi muda, perlu dibarengi oleh keteladanan, tidak cuma teori,” tegas Eby.

Ketika panutan itu muncul di tengah mereka, maka bakal menjadi idola. Karena sosok itu memang sangat dirindukan. Dosen kelahiran Bangka Belitung tersebut menambahkan, untuk mencari figur seperti kemauan generasi muda di zaman sekarang ini tidaklah gampang. Karena itu pencarian sosok publik figur membutuhkan proses.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Setiap 1 Juni, pemerintah menetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila. Bahkan tanggal tersebut menjadi hari libur nasional. Kalau ada anggapan generasi muda tidak mengenal Pancasila, itu anggapan tidak benar karena mereka telah dikenalkan Pancasila di bangku sekolah.

“Siapa bilang generasi muda saat ini tidak tahu Pancasila. Ketika pertama kali masuk sekolah di mulai dari TK atau PAUD hal itu sudah dikenalkan. Apakah hal itu sudah cukup? Tentu tidak karena Pancasila bukan sekadar teori tapi perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Dr Abubakar Eby Hara, Dosen FISIP Universitas Jember.

Dosen mata kuliah Hubungan Internasional (HI) itu menegaskan, generasi muda butuh figur atau tokoh panutan untuk bisa mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Ketika figur tersebut didapatkan diharapkan mampu memberikan contoh perihal kebaikan, maka hal itu otomatis akan membentuk kepribadian mereka.

“Jangan sampai cuma bisa teriak antikorupsi, namun tidak ada tindakan konkret untuk melawan korupsi. Hal ini membuat generasi muda muak mendengar teriakan tersebut dan mereka tidak butuh hal seperti itu. Jadi untuk memahamkan Pancasila kepada generasi muda, perlu dibarengi oleh keteladanan, tidak cuma teori,” tegas Eby.

Ketika panutan itu muncul di tengah mereka, maka bakal menjadi idola. Karena sosok itu memang sangat dirindukan. Dosen kelahiran Bangka Belitung tersebut menambahkan, untuk mencari figur seperti kemauan generasi muda di zaman sekarang ini tidaklah gampang. Karena itu pencarian sosok publik figur membutuhkan proses.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/