alexametrics
26.2 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Mimpi Belajar di Sekolah Kandas

Simulasi pembelajaran tatap muka yang sedianya berlangsung 1-3 Maret batal. Padahal sebelumnya, dinas sudah mempersiapkan cukup matang. Sebelum dilantik, Bupati Jember Hendy Siswanto juga sudah menyatakan per 1 Maret menjadi awal dimulainya belajar tatap muka. Kini, harapan siswa ke sekolah kandas. Mereka kembali melanjutkan belajar di ‘angan-angan’.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, Kepala SDN Curahnongko 02 Hariadi berkumpul bersama sebagian guru di ruang kepala sekolah. Mereka tengah berkoordinasi untuk menyambut pelaksanaan simulasi pembelajaran tatap muka. Para pendidik itu terlihat bersemangat, karena mereka akan berjumpa lagi dengan para siswa. Rasa rindu bertemu dengan murid-murid itu seolah membuncah. Maklum, lebih satu semester pembelajaran dilaksanakan jarak jauh akibat pandemi Covid-19.

Kesiapan lainnya juga dilakukan SDN Curahnongko 02. Di sekolah ini terdapat 12 wastafel yang bakal digunakan untuk menunjang kegiatan simulasi pembelajaran tatap muka. Semua wastafel berfungsi dengan baik. Namun, semangat para pendidik menyambut simulasi tatap muka, yang diharapkan bakal diikuti dengan kebijakan pembelajaran langsung tersebut, gugur. Sebab, simulasi tatap muka mendadak dibatalkan.

Gagalnya simulasi sekolah tatap muka di Jember yang rencananya berlangsung awal Maret ini mengindikasikan dua hal. Yakni pemerintah daerah belum siap, atau simulasi memang belum mungkin dilakukan. Alhasil, harapan para orang tua dan siswa agar sekolah segera dibuka kandas. Mereka harus lebih bersabar hingga Pemkab Jember mengeluarkan kebijakan tentang pelaksanaan belajar tatap muka di sekolah.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ketidaksiapan ini tentu saja kontras dengan keberadaan fasilitas umum dan tempat-tempat publik lainnya yang sudah lama dibuka. Misalnya pasar atau pusat perbelanjaan. Masyarakat sudah bebas beraktivitas. Bahkan, orang hajatan seperti menggelar pesta pernikahan atau khitanan, juga sudah tidak ada hambatan. Pemerintah tidak tegas melarang.

Sebenarnya, jika diamati lebih dalam, belum dibukanya sekolah itu juga memunculkan paradoks tersendiri. Sebab, beberapa lembaga pendidikan, utamanya swasta, sudah ada yang memulai lebih dulu melakukan pembelajaran tatap muka. Meski sebagian ada yang sembunyi-sembunyi dengan menempati rumah guru. Dan ada juga yang terang-terangan menempati gedung sekolah. Biasanya, guru dan siswa tidak mengenakan seragam. Jumlah siswa dan durasi belajar pun dibatasi. Bahkan, praktik semacam ini sudah jamak diketahui. Lantas, apa alasan pemerintah belum juga memulai pembelajaran tatap muka secara resmi di sekolah?

Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Jember menyebutkan, rencana simulasi sekolah tatap muka itu melibatkan 102 lembaga. Baik tingkat TK, SD, maupun SMP. Dinas Pendidikan Jember sudah menyiapkan 3 TK, 64 SD, dan 35 SMP yang tersebar di 31 kecamatan. Pemerataan ini agar penilaian efektivitas simulasi pembelajaran tatap muka dapat ditinjau pada seluruh kecamatan. Hal ini pula yang menjadi pembeda dengan simulasi sebelumnya, yang dilakukan 21 Desember 2020 lalu.

Namun, rencana simulasi tatap muka yang seyogianya dilakukan hari ini terpaksa diundur. Satgas Covid-19 disebut belum menyetujui rencana simulasi tersebut. Sejauh ini, belum diketahui apa alasan Satgas Covid-19 tidak memberikan lampu hijau. Apakah karena lembaga pendidikan belum siap, atau ada faktor lain?

Jawa Pos Radar Jember mencoba mengonfirmasi Juru Bicara Satgas Covid-19 Pemkab Jember Gatot Triyono. Namun, pihaknya tidak mengetahui penundaan simulasi tatap muka tersebut. “Saya tidak tahu mengenai itu. Mengenai pembatalan simulasi pembelajaran tatap muka,” kata Gatot, ketika dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Jumat (26/2).

Pembatalan simulasi ini cukup mendadak. Baru diketahui setelah Kepala Dinas Pendidikan Jember Bambang Hariono mengirim surat kepada Plh Bupati Jember, 25 Februari lalu. Surat itu berisi tentang laporan penundaan simulasi pembelajaran tatap muka yang sedianya dilangsungkan 1-3 Maret. Padahal, sesuai surat yang sama, laporan tentang rencana pelaksanaan simulasi itu baru dikirim dua hari sebelumnya, pada 23 Februari.

Satgas Covid-19, lembaga yang berwenang mengeluarkan rekomendasi lanjut tidaknya pembelajaran tatap muka, juga belum melayangkan surat resmi ke dinas soal pembatalan simulasi. Kabarnya, konfirmasi penundaan disampaikan melalui sambungan telepon dari Satgas Covid-19 ke Dinas Pendidikan, Kamis (25/3). Di hari yang sama, Dinas Pendidikan melakukan rapat terbatas dengan beberapa kepala sekolah. “Pukul tiga sore, kami kumpulkan semua di sini. Kami sosialisasikan jika simulasi ditunda,” tutur Dhebora Krisnowati, Kepala Bidang TK-SD Dinas Pendidikan Jember.

 

Sekolah Sudah Siap

Sebelum penundaan dilakukan, Dinas Pendidikan telah melakukan persiapan yang cukup maksimal. Persiapan tersebut meliputi rancangan skenario simulasi pembelajaran tatap muka, mulai pembelajaran akan dilaksanakan selama 3 jam, dan setiap kelas berisikan 16-20 siswa yang duduknya sendiri-sendiri.

Lalu, selama proses sekolah berlangsung, siswa dipantau terkait penerapan prokes dengan ketat. Tak lupa juga surat kesediaan wali murid untuk mengizinkan anaknya mengikuti simulasi. Indikator keberhasilan simulasi ini terletak pada tingkat kedisiplinan penerapan prokes. “Dua SD di bawah pengawasan saya sudah siap. Indikator keberhasilannya hanya penerapan prokes di masing- masing sekolah,” kata Suyitmas, pengawas SD di Kecamatan Tempurejo, ketika ditemui di SD Curahnongko 02.

Suyitmas menduga, penundaan simulasi disebabkan pergantian bupati baru. Sebab, secara administratif, bupati terpilih belum memberikan tanda tangan resmi. Selain itu, dia menyatakan, pelaksanaan simulasi akan digelar ketika vaksinasi sudah menyasar tenaga pendidik. “Dari dinas belum ada pemberitahuan alasan adanya penundaan. Tapi mungkin nunggu vaksinasi,” tambahnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, Kepala SDN Curahnongko 02 Hariadi berkumpul bersama sebagian guru di ruang kepala sekolah. Mereka tengah berkoordinasi untuk menyambut pelaksanaan simulasi pembelajaran tatap muka. Para pendidik itu terlihat bersemangat, karena mereka akan berjumpa lagi dengan para siswa. Rasa rindu bertemu dengan murid-murid itu seolah membuncah. Maklum, lebih satu semester pembelajaran dilaksanakan jarak jauh akibat pandemi Covid-19.

Kesiapan lainnya juga dilakukan SDN Curahnongko 02. Di sekolah ini terdapat 12 wastafel yang bakal digunakan untuk menunjang kegiatan simulasi pembelajaran tatap muka. Semua wastafel berfungsi dengan baik. Namun, semangat para pendidik menyambut simulasi tatap muka, yang diharapkan bakal diikuti dengan kebijakan pembelajaran langsung tersebut, gugur. Sebab, simulasi tatap muka mendadak dibatalkan.

Gagalnya simulasi sekolah tatap muka di Jember yang rencananya berlangsung awal Maret ini mengindikasikan dua hal. Yakni pemerintah daerah belum siap, atau simulasi memang belum mungkin dilakukan. Alhasil, harapan para orang tua dan siswa agar sekolah segera dibuka kandas. Mereka harus lebih bersabar hingga Pemkab Jember mengeluarkan kebijakan tentang pelaksanaan belajar tatap muka di sekolah.

Ketidaksiapan ini tentu saja kontras dengan keberadaan fasilitas umum dan tempat-tempat publik lainnya yang sudah lama dibuka. Misalnya pasar atau pusat perbelanjaan. Masyarakat sudah bebas beraktivitas. Bahkan, orang hajatan seperti menggelar pesta pernikahan atau khitanan, juga sudah tidak ada hambatan. Pemerintah tidak tegas melarang.

Sebenarnya, jika diamati lebih dalam, belum dibukanya sekolah itu juga memunculkan paradoks tersendiri. Sebab, beberapa lembaga pendidikan, utamanya swasta, sudah ada yang memulai lebih dulu melakukan pembelajaran tatap muka. Meski sebagian ada yang sembunyi-sembunyi dengan menempati rumah guru. Dan ada juga yang terang-terangan menempati gedung sekolah. Biasanya, guru dan siswa tidak mengenakan seragam. Jumlah siswa dan durasi belajar pun dibatasi. Bahkan, praktik semacam ini sudah jamak diketahui. Lantas, apa alasan pemerintah belum juga memulai pembelajaran tatap muka secara resmi di sekolah?

Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Jember menyebutkan, rencana simulasi sekolah tatap muka itu melibatkan 102 lembaga. Baik tingkat TK, SD, maupun SMP. Dinas Pendidikan Jember sudah menyiapkan 3 TK, 64 SD, dan 35 SMP yang tersebar di 31 kecamatan. Pemerataan ini agar penilaian efektivitas simulasi pembelajaran tatap muka dapat ditinjau pada seluruh kecamatan. Hal ini pula yang menjadi pembeda dengan simulasi sebelumnya, yang dilakukan 21 Desember 2020 lalu.

Namun, rencana simulasi tatap muka yang seyogianya dilakukan hari ini terpaksa diundur. Satgas Covid-19 disebut belum menyetujui rencana simulasi tersebut. Sejauh ini, belum diketahui apa alasan Satgas Covid-19 tidak memberikan lampu hijau. Apakah karena lembaga pendidikan belum siap, atau ada faktor lain?

Jawa Pos Radar Jember mencoba mengonfirmasi Juru Bicara Satgas Covid-19 Pemkab Jember Gatot Triyono. Namun, pihaknya tidak mengetahui penundaan simulasi tatap muka tersebut. “Saya tidak tahu mengenai itu. Mengenai pembatalan simulasi pembelajaran tatap muka,” kata Gatot, ketika dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Jumat (26/2).

Pembatalan simulasi ini cukup mendadak. Baru diketahui setelah Kepala Dinas Pendidikan Jember Bambang Hariono mengirim surat kepada Plh Bupati Jember, 25 Februari lalu. Surat itu berisi tentang laporan penundaan simulasi pembelajaran tatap muka yang sedianya dilangsungkan 1-3 Maret. Padahal, sesuai surat yang sama, laporan tentang rencana pelaksanaan simulasi itu baru dikirim dua hari sebelumnya, pada 23 Februari.

Satgas Covid-19, lembaga yang berwenang mengeluarkan rekomendasi lanjut tidaknya pembelajaran tatap muka, juga belum melayangkan surat resmi ke dinas soal pembatalan simulasi. Kabarnya, konfirmasi penundaan disampaikan melalui sambungan telepon dari Satgas Covid-19 ke Dinas Pendidikan, Kamis (25/3). Di hari yang sama, Dinas Pendidikan melakukan rapat terbatas dengan beberapa kepala sekolah. “Pukul tiga sore, kami kumpulkan semua di sini. Kami sosialisasikan jika simulasi ditunda,” tutur Dhebora Krisnowati, Kepala Bidang TK-SD Dinas Pendidikan Jember.

 

Sekolah Sudah Siap

Sebelum penundaan dilakukan, Dinas Pendidikan telah melakukan persiapan yang cukup maksimal. Persiapan tersebut meliputi rancangan skenario simulasi pembelajaran tatap muka, mulai pembelajaran akan dilaksanakan selama 3 jam, dan setiap kelas berisikan 16-20 siswa yang duduknya sendiri-sendiri.

Lalu, selama proses sekolah berlangsung, siswa dipantau terkait penerapan prokes dengan ketat. Tak lupa juga surat kesediaan wali murid untuk mengizinkan anaknya mengikuti simulasi. Indikator keberhasilan simulasi ini terletak pada tingkat kedisiplinan penerapan prokes. “Dua SD di bawah pengawasan saya sudah siap. Indikator keberhasilannya hanya penerapan prokes di masing- masing sekolah,” kata Suyitmas, pengawas SD di Kecamatan Tempurejo, ketika ditemui di SD Curahnongko 02.

Suyitmas menduga, penundaan simulasi disebabkan pergantian bupati baru. Sebab, secara administratif, bupati terpilih belum memberikan tanda tangan resmi. Selain itu, dia menyatakan, pelaksanaan simulasi akan digelar ketika vaksinasi sudah menyasar tenaga pendidik. “Dari dinas belum ada pemberitahuan alasan adanya penundaan. Tapi mungkin nunggu vaksinasi,” tambahnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, Kepala SDN Curahnongko 02 Hariadi berkumpul bersama sebagian guru di ruang kepala sekolah. Mereka tengah berkoordinasi untuk menyambut pelaksanaan simulasi pembelajaran tatap muka. Para pendidik itu terlihat bersemangat, karena mereka akan berjumpa lagi dengan para siswa. Rasa rindu bertemu dengan murid-murid itu seolah membuncah. Maklum, lebih satu semester pembelajaran dilaksanakan jarak jauh akibat pandemi Covid-19.

Kesiapan lainnya juga dilakukan SDN Curahnongko 02. Di sekolah ini terdapat 12 wastafel yang bakal digunakan untuk menunjang kegiatan simulasi pembelajaran tatap muka. Semua wastafel berfungsi dengan baik. Namun, semangat para pendidik menyambut simulasi tatap muka, yang diharapkan bakal diikuti dengan kebijakan pembelajaran langsung tersebut, gugur. Sebab, simulasi tatap muka mendadak dibatalkan.

Gagalnya simulasi sekolah tatap muka di Jember yang rencananya berlangsung awal Maret ini mengindikasikan dua hal. Yakni pemerintah daerah belum siap, atau simulasi memang belum mungkin dilakukan. Alhasil, harapan para orang tua dan siswa agar sekolah segera dibuka kandas. Mereka harus lebih bersabar hingga Pemkab Jember mengeluarkan kebijakan tentang pelaksanaan belajar tatap muka di sekolah.

Ketidaksiapan ini tentu saja kontras dengan keberadaan fasilitas umum dan tempat-tempat publik lainnya yang sudah lama dibuka. Misalnya pasar atau pusat perbelanjaan. Masyarakat sudah bebas beraktivitas. Bahkan, orang hajatan seperti menggelar pesta pernikahan atau khitanan, juga sudah tidak ada hambatan. Pemerintah tidak tegas melarang.

Sebenarnya, jika diamati lebih dalam, belum dibukanya sekolah itu juga memunculkan paradoks tersendiri. Sebab, beberapa lembaga pendidikan, utamanya swasta, sudah ada yang memulai lebih dulu melakukan pembelajaran tatap muka. Meski sebagian ada yang sembunyi-sembunyi dengan menempati rumah guru. Dan ada juga yang terang-terangan menempati gedung sekolah. Biasanya, guru dan siswa tidak mengenakan seragam. Jumlah siswa dan durasi belajar pun dibatasi. Bahkan, praktik semacam ini sudah jamak diketahui. Lantas, apa alasan pemerintah belum juga memulai pembelajaran tatap muka secara resmi di sekolah?

Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Jember menyebutkan, rencana simulasi sekolah tatap muka itu melibatkan 102 lembaga. Baik tingkat TK, SD, maupun SMP. Dinas Pendidikan Jember sudah menyiapkan 3 TK, 64 SD, dan 35 SMP yang tersebar di 31 kecamatan. Pemerataan ini agar penilaian efektivitas simulasi pembelajaran tatap muka dapat ditinjau pada seluruh kecamatan. Hal ini pula yang menjadi pembeda dengan simulasi sebelumnya, yang dilakukan 21 Desember 2020 lalu.

Namun, rencana simulasi tatap muka yang seyogianya dilakukan hari ini terpaksa diundur. Satgas Covid-19 disebut belum menyetujui rencana simulasi tersebut. Sejauh ini, belum diketahui apa alasan Satgas Covid-19 tidak memberikan lampu hijau. Apakah karena lembaga pendidikan belum siap, atau ada faktor lain?

Jawa Pos Radar Jember mencoba mengonfirmasi Juru Bicara Satgas Covid-19 Pemkab Jember Gatot Triyono. Namun, pihaknya tidak mengetahui penundaan simulasi tatap muka tersebut. “Saya tidak tahu mengenai itu. Mengenai pembatalan simulasi pembelajaran tatap muka,” kata Gatot, ketika dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Jumat (26/2).

Pembatalan simulasi ini cukup mendadak. Baru diketahui setelah Kepala Dinas Pendidikan Jember Bambang Hariono mengirim surat kepada Plh Bupati Jember, 25 Februari lalu. Surat itu berisi tentang laporan penundaan simulasi pembelajaran tatap muka yang sedianya dilangsungkan 1-3 Maret. Padahal, sesuai surat yang sama, laporan tentang rencana pelaksanaan simulasi itu baru dikirim dua hari sebelumnya, pada 23 Februari.

Satgas Covid-19, lembaga yang berwenang mengeluarkan rekomendasi lanjut tidaknya pembelajaran tatap muka, juga belum melayangkan surat resmi ke dinas soal pembatalan simulasi. Kabarnya, konfirmasi penundaan disampaikan melalui sambungan telepon dari Satgas Covid-19 ke Dinas Pendidikan, Kamis (25/3). Di hari yang sama, Dinas Pendidikan melakukan rapat terbatas dengan beberapa kepala sekolah. “Pukul tiga sore, kami kumpulkan semua di sini. Kami sosialisasikan jika simulasi ditunda,” tutur Dhebora Krisnowati, Kepala Bidang TK-SD Dinas Pendidikan Jember.

 

Sekolah Sudah Siap

Sebelum penundaan dilakukan, Dinas Pendidikan telah melakukan persiapan yang cukup maksimal. Persiapan tersebut meliputi rancangan skenario simulasi pembelajaran tatap muka, mulai pembelajaran akan dilaksanakan selama 3 jam, dan setiap kelas berisikan 16-20 siswa yang duduknya sendiri-sendiri.

Lalu, selama proses sekolah berlangsung, siswa dipantau terkait penerapan prokes dengan ketat. Tak lupa juga surat kesediaan wali murid untuk mengizinkan anaknya mengikuti simulasi. Indikator keberhasilan simulasi ini terletak pada tingkat kedisiplinan penerapan prokes. “Dua SD di bawah pengawasan saya sudah siap. Indikator keberhasilannya hanya penerapan prokes di masing- masing sekolah,” kata Suyitmas, pengawas SD di Kecamatan Tempurejo, ketika ditemui di SD Curahnongko 02.

Suyitmas menduga, penundaan simulasi disebabkan pergantian bupati baru. Sebab, secara administratif, bupati terpilih belum memberikan tanda tangan resmi. Selain itu, dia menyatakan, pelaksanaan simulasi akan digelar ketika vaksinasi sudah menyasar tenaga pendidik. “Dari dinas belum ada pemberitahuan alasan adanya penundaan. Tapi mungkin nunggu vaksinasi,” tambahnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/