alexametrics
24.6C
Jember
Sunday, 28 February 2021
Desktop_AP_Top Banner

Rekonstruksi Kedua Fokus Dugaan Pencabulan

Pihak Keluarga Ancam Bakal Adukan ke KPAI

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.IDDugaan kekerasan anak dan pencabulan terhadap pelajar di Kecamatan Klakah terus menggelinding. Memang sempat dilakukan rekonstruksi, namun akhir pekan kemarin dilakukan untuk kedua kalinya. Rekonstruksi kedua ini fokus pada dugaan pencabulan.

Penasihat hukum korban, Muhammad Riki, mengaku tidak puas dengan hasil rekontruksi kedua, kemarin. Kesaksian korban dengan yang diungkapkan terduga pelaku dan para saksi berbeda. Kondisi itu, menurutnya, didiamkan pihak kepolisian. “Ya itu versi mereka, namun kita ada bukti visum yang cukup kuat untuk dijadikan barang bukti,” ucapnya.

Rekontruksi kedua itu dilakukan atas adanya instruksi langsung dari Polda Jatim karena mendengar ada kegaduhan di Polres Lumajang dalam penanganan masalah ini. Di sisi lain, kasus dugaan kekerasan seksual belum selesai. “Sudah 9 bulan,” ucap Riki.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menjelaskan, kelanjutannya masih menunggu keputusan kepolisian. Pihak kepolisian memiliki waktu 40 hari untuk menentukan hasil. Jika waktu yang disediakan belum cukup, maka bisa diperpanjang sampai 120 hari.

Harapannya, jika pihak kepolisian tidak bisa menemukan bukti terkait adanya kasus dugaan pencabulan dan pemerkosaan, maka sebaiknya mengeluarkan SP3 atau pemberhentian perkara. “Jika tidak mampu, sebaiknya keluarkan SP3 saja, sehingga kita punya bukti untuk melangkah ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI),” tuturnya.

Sementara itu, Kanit PPA Polres Lumajang Ipda Irdani Isma ketika dikonfirmasi menyatakan, dugaan kekerasan seksual di Kecamatan Klakah terus bergulir. Pihaknya sudah dua kali melakukan rekontruksi.

Pertama rekontruksi kekerasan anak dan kedua rekontruksi dugaan pencabulan. Kasus tersebut masih didalami. Jika tahap penyelidikan selesai, maka akan dibeber ke publik.

 

 

Jurnalis : Ridho Abdullah Akbar
Fotografer : Ridho Abdullah Akbar
Redaktur : Hafid Asnan

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.IDDugaan kekerasan anak dan pencabulan terhadap pelajar di Kecamatan Klakah terus menggelinding. Memang sempat dilakukan rekonstruksi, namun akhir pekan kemarin dilakukan untuk kedua kalinya. Rekonstruksi kedua ini fokus pada dugaan pencabulan.

Penasihat hukum korban, Muhammad Riki, mengaku tidak puas dengan hasil rekontruksi kedua, kemarin. Kesaksian korban dengan yang diungkapkan terduga pelaku dan para saksi berbeda. Kondisi itu, menurutnya, didiamkan pihak kepolisian. “Ya itu versi mereka, namun kita ada bukti visum yang cukup kuat untuk dijadikan barang bukti,” ucapnya.

Rekontruksi kedua itu dilakukan atas adanya instruksi langsung dari Polda Jatim karena mendengar ada kegaduhan di Polres Lumajang dalam penanganan masalah ini. Di sisi lain, kasus dugaan kekerasan seksual belum selesai. “Sudah 9 bulan,” ucap Riki.

Mobile_AP_Half Page

Dia menjelaskan, kelanjutannya masih menunggu keputusan kepolisian. Pihak kepolisian memiliki waktu 40 hari untuk menentukan hasil. Jika waktu yang disediakan belum cukup, maka bisa diperpanjang sampai 120 hari.

Harapannya, jika pihak kepolisian tidak bisa menemukan bukti terkait adanya kasus dugaan pencabulan dan pemerkosaan, maka sebaiknya mengeluarkan SP3 atau pemberhentian perkara. “Jika tidak mampu, sebaiknya keluarkan SP3 saja, sehingga kita punya bukti untuk melangkah ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI),” tuturnya.

Sementara itu, Kanit PPA Polres Lumajang Ipda Irdani Isma ketika dikonfirmasi menyatakan, dugaan kekerasan seksual di Kecamatan Klakah terus bergulir. Pihaknya sudah dua kali melakukan rekontruksi.

Pertama rekontruksi kekerasan anak dan kedua rekontruksi dugaan pencabulan. Kasus tersebut masih didalami. Jika tahap penyelidikan selesai, maka akan dibeber ke publik.

 

 

Jurnalis : Ridho Abdullah Akbar
Fotografer : Ridho Abdullah Akbar
Redaktur : Hafid Asnan

Desktop_AP_Leaderboard 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.IDDugaan kekerasan anak dan pencabulan terhadap pelajar di Kecamatan Klakah terus menggelinding. Memang sempat dilakukan rekonstruksi, namun akhir pekan kemarin dilakukan untuk kedua kalinya. Rekonstruksi kedua ini fokus pada dugaan pencabulan.

Penasihat hukum korban, Muhammad Riki, mengaku tidak puas dengan hasil rekontruksi kedua, kemarin. Kesaksian korban dengan yang diungkapkan terduga pelaku dan para saksi berbeda. Kondisi itu, menurutnya, didiamkan pihak kepolisian. “Ya itu versi mereka, namun kita ada bukti visum yang cukup kuat untuk dijadikan barang bukti,” ucapnya.

Rekontruksi kedua itu dilakukan atas adanya instruksi langsung dari Polda Jatim karena mendengar ada kegaduhan di Polres Lumajang dalam penanganan masalah ini. Di sisi lain, kasus dugaan kekerasan seksual belum selesai. “Sudah 9 bulan,” ucap Riki.

Dia menjelaskan, kelanjutannya masih menunggu keputusan kepolisian. Pihak kepolisian memiliki waktu 40 hari untuk menentukan hasil. Jika waktu yang disediakan belum cukup, maka bisa diperpanjang sampai 120 hari.

Harapannya, jika pihak kepolisian tidak bisa menemukan bukti terkait adanya kasus dugaan pencabulan dan pemerkosaan, maka sebaiknya mengeluarkan SP3 atau pemberhentian perkara. “Jika tidak mampu, sebaiknya keluarkan SP3 saja, sehingga kita punya bukti untuk melangkah ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI),” tuturnya.

Sementara itu, Kanit PPA Polres Lumajang Ipda Irdani Isma ketika dikonfirmasi menyatakan, dugaan kekerasan seksual di Kecamatan Klakah terus bergulir. Pihaknya sudah dua kali melakukan rekontruksi.

Pertama rekontruksi kekerasan anak dan kedua rekontruksi dugaan pencabulan. Kasus tersebut masih didalami. Jika tahap penyelidikan selesai, maka akan dibeber ke publik.

 

 

Jurnalis : Ridho Abdullah Akbar
Fotografer : Ridho Abdullah Akbar
Redaktur : Hafid Asnan

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Desktop_AP_Rectangle 2