Lestarikan Rawat Ruwetan Desa

Ojung Bukan Sembarang Kesenian

Perayaan selametan desa ini tak seperti perayaan desa pada umumnya. Selain menggelar istighotsah dan grebeg tumpeng, juga ada menggelar Ojung sebagai bentuk rasa sukur yang dilestarikan turun-temurun 

SABET KANAN: Salah satu atraksi pemain ojung yang memperagakan cara permainan kesenian ini. Konon kesenian ini lambat laun dijadikan sebagai salah satu rangkain ruwetan desa Gucialit. 

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Sebagai bentuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil bumi yang telah dipanen, desa menggelar serangkaian acara selametan dan ruwetan. Dimulai mengelar istighatsah dan salawatan, grebeg tumpeng. Termasuk menggelar Ojung (bahasa madura.red), salah satu kesenian ekstrem yang terus dilestarikan masyarakat setempat.

IKLAN

Mulanya, kesenian ojung ini dirayakan oleh satu dusun yang ada di desa tersebut. Karena saking sakralnya kesenian itu kemudian dilirik pemerintah desa. Bahkan dijadikan salah satu rangkaian sedekah desa yang dibarengkan dengan serangkaian kegiatan lainnya.

RUWATAN : Gunungan hasil bumi ketika diarak dalam Ruwatan Desa
Gucialit, kemarin. Acara slametan desa ini seolah menjadi agenda wajib
yang mampu menyedot wisatawan lokal maupun mancanegara

Tradisi turun temurun itu diperagakan laki-laki usia anak-anak, remaja, dewasa termasuk orang tua. Sebab, dalam sejarahnya banyak yang meyakini kesenian ini digunakan sebagai cara memohon hujan ketika musim kemarau. Lebih dari itu, ada juga yang meyakini jika tak dilaksanakan, maka malapetaka bakal terjadi. Seperti gagal panen dan terjadi musibah lainnya.

Lambat laun kesenian yang diwariskan nenek moyang itu, kini tak hanya digelar saat ritual meminta hujan maupun perayaan sedekah desa. Namun sering digelar ketika ada hajatan nikah, sunatan masyarakat setempat.

Wajar saja sampai saat ini kesenian itu masih eksis. Bahkan banyak generasi muda saat ini juga terlibat menggeluti dan melestarikan itu.

Dalam permainan kesenian ini, antara satu dan lainnya beradu sabetan dengan rotan yang disediakan. Tentu tidak bisa sembarang memainkan, ada sejumlah aturan yang disepakati bersama. Siapa yang paling hebat adalah orang yang paling sedikit sabetannya.

Dalam permaianan ini tak satupun pemain menyimpan dendam ketika mendapat sabetan. Justru mereka kadang asik menari menghibur pengunjung yang menonton. Meskipun digelar sekali dalam setahun, kesenian ini tetap ditunggu-tunggu masyarakat setempat bahkan masyarakat luar daerah hingga mancanegara. Biasanya tepat pada Jum’at Pon bulan Rajab kesenian yang menegangkan itu digelar di rumah pemangku adat.

 

Reporter : Atieqson Mar Iqbal

Fotografer : Atieqson Mar Iqbal

Editor : Hafid Asnan