Emoh Pasang Tarif, On Call 24 Jam

NYAMAN: Salah satu pelanggan saat menikmati pijat refleksi yang dilakukan oleh Nur Rahman di kawasan Lumajang. Pelanggan dimanjakan oleh pijatannya yang sampai saat ini tidak pernah memasang tarif.

ROGOTRUNAN, Radar Semeru – Kebanyakan remaja saat ini ingin bekerja di perusahaan ataupun menjadi pengusaha, namun semua itu tidak berlaku bagi Nur Rahman. Lelaki 20 tahun asal Dawuhan Lor Kecamatan Sukodono tersebut memilih sebagai tukang pijat.

IKLAN

Promosinya gencar menggunakan media sosial. Yang menarik, dia tidak pernah pasang tarif meskipun memijat berjam-jam lamanya. Profesi tersebut dia tekuni karena terjepit kebutuhan ekonomi. Saat itu dirinya harus memutar otak untuk mencari nafkah. Perjalanan yang mandiri itu diawali sejak duduk di bangku SMP. Dia memilih merantau ke Kabupaten Kendal dan mengikuti pelatihan di paguyuban Jerakah Gayor selama 5,5 tahun. Sebelum itu, dia juga pernah menjadi kuli bangunan selama beberapa pekan di perantauan.

Dia baru pulang dari Kendal dalam beberapa tahu terakhir. Pengalamannya sebagai tukang pijat, langsung diterapkan. Dengan penawaran-penawaran yang membuat calon pelanggan tertarik. Salah satunya dengan memberikan layanan on call selama 24 jam. “Meskipun saya melayani 24 jam, akan tetapi tidak bisa datang waktu itu juga karena sudah banyak pelanggan yang pesan sehari sebelum pijat,” ujarnya.

Sudah hampir 10 tahun, Omen sapaan akrabnya menjadi tukang pijat. Namun keasyikannya menjadi tukang pijat tidak membuat dia ingin beralih profesi. Karena, remaja yang usianya masih tergolong muda ini sudah menikmati dengan yang dikerjakan saat ini. Menurutnya bidang pijat itu unik, menarik, dan memiliki nilai yang berarti.
“Dalam sehari dirinya bisa memijat pelangganya antara 3 sampai 15 orang. Selama ini pula, dia tidak pernah memasang tarif untuk sekali pijat. “Rp 500 rupiah pun saya terima. Saya tidak pernah pasang tarif,” katanya

Untuk kepuasan para pelanggan, sekali pijat durasinya bisa memakan waktu 1 sampai 3 jam. Bahkan bisa lebih jika yang dipijat masih kurang puas. “Saya tidak pernah memandang strata, tidak memandang jabatan. Buat saya, siapapun yang pesan duluan itu yang harus di dahulukan. Karena saya ingin bekerja secara profesional,” imbuhnya.

Pria 20 tahun tersebut mempromosikan jasa pijat refleksinya melalui grup-grup media sosial. Tentu pada grup yang berkaitan dengan Kabupaten Lumajang. Tujuannya agar mudah mencari pelanggan dan mampu memberikan layanan terbaik yang bersaing dengan pijat lainnya.

Fotografer : Khoirul Umam
Reporter : Khoirul Umam
Redaktur : Hafid Asnan

Reporter :

Fotografer :

Editor :