Safari Jumat Bupati Thoriq di Desa Jatimulyo Kunir

Janji Sejahterakan Guru mengaji 

DEKAT RAKYAT: Bupati Lumajang Thoriqul Haq MML saat memberikan tausiah di Masjid Nurul Huda Dusun Ampel Gading, Desa Jatimulyo, Kecamatan Kunir.

RADARJEMBER.ID – Safari salat Jumat kembali dilakukan oleh Bupati Lumajang Thoriqul Haq MML. Kali ini, mantan anggota DPRD Provinsi Jawa Timur itu menyasar ke Masjid Nurul Huda di Dusun Ampel Gading, Desa Jatimulyo, Kecamatan Kunir, Lumajang, Jumat (5/4). Di kesempatan itu, bupati juga sempat menunaikan ibadah salat Jumat bersama warga sekitar.

IKLAN

Dalam isi pemaparannya usai salat Jumat, Cak Thoriq menjelaskan niat baiknya untuk memberikan honor insentif terhadap para guru mengaji yang tersebar di berbagai musala. Kesejahteraan pendapatan yang akan diberikan oleh pemerintah daerah menurutnya merupakan sebuah wujud penghormatan kepada para guru mengaji yang selama ini sudah membaktikan diri dan mengamalkan ilmunya secara ikhlas bagi dunia pendidikan anak, yang utamanya pemberian bekal keagamaan.

Cak Thoriq beranggapan, dengan ketulusan yang diberikan oleh para guru mengaji musala sangatlah bermanfaat positif. Berawal dari sebuah musala, diakuinya, anak bisa membaca Alquran dengan baik dan benar. Bisa mengerti dan memahami tentang hal-hal lain di dunia keagamaan.

Bahkan, hal yang paling mendasar pada pemberian bekal ilmu agama mampu menjadi fondasi kokoh bagi keimanan anak dalam menjalani prosesi kehidupan. “Honor insentif guru mengaji program penghormatan yang kami (pemerintah daerah) berikan. Tugas seorang guru mengaji yang ada di musala-musala dalam mendidik anak adalah hal dasar hidup yang begitu berarti yang sudah diberikan dalam kehidupan bersosial dan beragama. Anak bisa mengaji Alquran, mengerti bagaimana cara wudu, dan hal lain yang baik,” tutur bupati saat diwawancarai oleh radarjember.id seusai acara ceramah.

Disinggung mengenai program anggaran pemberdayaan guru madrasah diniyah, bupati menjelaskan bahwa pemerintah daerah sudah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi untuk membahas sharing anggaran yang akan diperuntukkan. Menurut dia, anggaran untuk madin (madrasah diniyah) sudah ada desainnya sendiri. Salah satu ketentuan dan mekanisme yang sudah diatur yakni satu guru dihitung per 30 murid. “Madrasah diniyah sudah ada Bosda. Untuk anggarannya sharing antara pemerintah provinsi dengan pemerintah daerah. Hitungannya, guru dihitung per 30 murid. Dan ini beda dengan honor insentif guru mengaji,” jelasnya.

Berbicara mengenai kapan waktu proses pencairan anggaran Bosda untuk madin, Cak Thoriq mengaku masih belum bisa memastikan. Hal ini didasari karena masih barunya terjadi proses pergantian tongkat kepemimpinan di tingkat Gubernur Jawa Timur. Terlebih bagi pemerintah daerah, tentu masih akan menyiapkan sejumlah persyaratan administrasi dan pendataan, sebelum nantinya proses pencairan bisa dikucurkan. “Soal pencairan kami masih menunggu. Hal yang lumrah ketika proses pergantian kepemimpinan, seperti di gubernur yang masih baru berganti. Tentu masih menyiapkan administrasi dan pendataannya,” tambahnya.

Reporter : Ahmad Jafin

Fotografer : ahmad jafin

Editor : Narto