Jadikan Jukung Nelayan Untuk Melaut dan  Wisata

PERAHU WISATA: Puluhan perahu wisata milik anggota Koperasi Serba Usaha (KSU) kampung wisata Desa Sumberrejo Kecamatan Ambulu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID Puluhan perahu terparkir dengan rapi di  pinggir Pantai Papuma, Desa Sumberrejo Kecamatan Ambulu.  Warga sekitar menyebut perahu tersebut dengan jukung, perahu kecil bercandik kayu. Jukung yang berwarna biru ini terlihat eksotis, menjadi titik swafoto yang menarik.

IKLAN

Sebagian jukung ada yang sedang pergi  melaut. Namun, saat hari  hari libur, jukung dipakai untuk memanjakan wisatawan mengelilingi pesisir pantai. Nelayan menggunakan jukung tak hanya untuk mencari ikan, namun juga disewakan bagi pelancong yang ingin menikmati pesona  Pantai Papuma, Pantai Watu Ulo dan Pantai Payangan.

Ada sekitar 90 perahu yang dipakai untuk kebutuhan pariawisata.  Semua pemilik perahu itu merupakan anggota Koperasi Serba Usaha (KSU) Kampung Wisata. “Awal nelayan mereka tak punya perahu, hanya bekerja pada orang,” kata Ngade Permana, Ketua Umum Koperasi Kampung Wisata.

Tiga pantai di kawasan pesisir selatan ini memang menjadi daya tarik para wisatawan. Mereka datang, menikmati panorama alam dan kuliner ikan bakar. Selain itu, ada yang mandi dipinggir pantai. “2009 kami awali di Pantai Papuma, kerjasama dengan Perhutani sebagai pengelola,” ucapnya.

Sadar dengan potensi yang cukup besar ini, Ngade Permana bersama Salam dan Syukri mulai rembuk dengan warga sekitar untuk mendirikan koperasi.  Koperasi itu juga sebagai wadah  kegiatan pemuda yang tidak terkoordinir.

“Kami bermusyawarah, anak-anak muda ini ini mau diarahkan kemana? Banyak warung kecil yang juga tidak terakses permodalan,” tuturnya. Akhirnya, mereka sepakat untuk mendirikan koperasi pada 2007 silam.

Para nelayan itu pun mencari refrensi pendirian koperasi, bertanya pada pemerintah. Lalu warga dikumpulkan dan sepakat membentuk wadah koperasi. Awalnya,  banyak gangguan yang dialami. Ada warga yang tidak setuju sehingga muncul konflik.

“Kami dikiran ingin memotong penghasilan para nelayan,” tuturnya. Namun, seiring perjalanan konflik itu bisa diselesaikan dengan diberi penjelasan. Dulu yang menentang, sekarang sudah ikut bergabung. Dari 20 anggota, sekarang menjadi 98 anggota.

Para nelayan merasakan manfaat  kehadiran koperasi tersebut. Misal, ada pemilik perahu yang butuh uang untuk memperbaiki mesin perahunya. Mereka bisa meminjam dana dari koperasi.

Sebelum ada koperasi, mereka pinjam pada orang kaya di kawasan Sumberejo. Sistem pinjamannya tidak menguntungkan nelayan. “Mereka meminjamkan uang ke nelayan, ketika nelayan untung, mereka dapat  bagian, saat nelayan rugi, mereka tidak mau tau,” terang Ngade.

Ketika bergabung menjadi anggota koperasi, hutang mereka senilai puluhan juta, bisa segera dilunasi dengan dua hingga tidak kali melaut. “Kalau pinjam ke juragan, ini tidak bisa dikembalikan dengan cepat,” tuturnya.

Sekarang, para nelayan sudah memiliki penghasilan harian yang lebih dari cukup. Bila tak ada ikan, perahu tersebut bisa menghasilan uang dari wisata.  Bahkan, nelayan yang  dulu tidak punya jukung, sekarang sudah bisa membelinya.

Kunjungan wisatawan juga cukup tinggi setiap hari libur. Jukung wisata stand by dipinggir pantai menunggu  Unit usaha ini pun dikelola oleh para pemuda. “Dulu kami gencar promosi, sekarang sudah punya langganan dan banyak kenalan,” ungkapnya.

Koperasi serba usaha ini memang bergerak di bidang pariwisata. Namun, mereka tak puas memiliki satu penghasilan. Akhirnya mengembangkan usaha peternakan ayam telor yang sudah sukses. “Tahun depan rencana buka unit pertokoan,” tambahnya.

Ngade mengaku, koperasi fokus pada kesejahteraan anggota yang mayoritas nelayan Koperasi bisa berkembang karena berdiri atas kebersamaan, kekompakan dan melalui proses yang sulit. “Bisa jadi mendirikannya berdarah-darah, persatuan anggota koperasi ini berbeda dengan yang  lain,” ucapnya.

Karena kebersamaan itulah, para nelayan  sering berkumpul untuk berdiskusi. Seminggu sekali, mereka membahas  rencana kedepan.  “SDM pemuda terbangun karena sering dialog ini,” imbuhnya.

Penghasilan anggota juga sudah bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka. Menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi. “Tujuan koprasi sudah tercapai untuk mensejahterakan anggota,” pungkasnya.

Sementara itu, Fathurrosi, dosen ekonomi koperasi Universitas Jember menambahkan  koperasi  memiliki peluang yang besar di era digital ini. Asalkan mengganti sistem pemasarannya. “dulu konvensional, sekarang menggunakan online,” tuturnya.

Menurut dia,  kegiatan koperasi di era digital hanya mengikis satu kegiatan, yakni distribusi. Sedangkan kegiatan ekonomi lainnya, produksi dan  konsumsi terus berjalan. Digitalisasi ini membuat jarak antara produsen dan konsumen lebih dekat, seolah langsung berhadap-hadapan.

“Koperasi  unggul karena ekonomi berjamaah, sehingga menciptakan biaya rendah atau low cost,” tuturnya. Koperasi tetap punya peluang yang  besar di era digital.

Biaya rendah ini akan semakin berkembang jika koperasi memanfaatkan teknologi digital ini. Seperti kata Bung Hatta, jangan khawatir dengan nasib koperasi, bila disekeliling masih ada kapitalisme. “Harapannya tetap soko guru perekonomian nasional,” tuturnya.

Dia menambahkan koperasi dikawal oleh berbagai lembaga. Pertama pemerintah daerah, atau disebut birocratic entrepreneurship yang membantu pengembangan koperasi. Kedua, dilakukan oleh koperasi sendiri, baik anggota  atau manager, ini disebut self  help.

Ketiga, ada peran dari perguruan tinggi untuk memajukan koperasi, disebut katalitik entrepreneurship. “Banyak yang bisa membantu memajukan koperasi, mulai dari Dekopin  Adopkop dna yang lain,” ujarnya. Semua elemen itu harus turun untuk ikut memajukan koperasi.

  

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Bagus Supriadi

Editor : Bagus Supriadi