Keluh Pedagang Durian di Tengah Pandemik Korona

Nekat Jualan Malam Hari demi Sesuap Nasi

UNTUK MELANJUTKAN HIDUP: Salah seorang penjual durian di Jalan Gatot Subroto tetap berjualan di malam hari di tengah pandemik korona.

KALIWATES.RADARJEMBER.ID- Kepulan asap rokok terlihat menari-nari dipermainkan angin malam. Seorang lelaki tampak duduk di atas lembaran kardus sembari menunggui puluhan buah durian. Ia terus berharap ada pengendara yang berhenti saat melintas di Jalan Gatot Subroto Jember.

IKLAN

Sesekali, lelaki yang berusia tak muda lagi itu memainkan kepulan asap rokoknya. Terkadang ia menghisap dalam lalu mengembuskannya kuat-kuat. Maklum, malam itu udara cukup dingin hingga terasa menusuk tubuhnya yang menua. Ia juga berkali-kali merapatkan kedua tangan berusaha menghangatkan badan.

Lelaki itu bernama Muhammad Wakid dari Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa. Dia merupakan salah satu dari puluhan pedagang durian lokal di jalan tersebut. Biasanya, Wakid mangkal di kawasan itu mulai pukul 19.00 sampai 03.00.

Wakid dan para pedagang lain seolah lupa bahwa saat ini masyarakat sedang dihantui wabah korona. Mereka masih saja nekat berjualan di malam hari. Bahkan untuk memutus mata rantai virus yang dikenal dengan sebutan Covid-19 itu, pemerintah sampai mengeluarkan imbauan agar warga tidak keluar rumah.

“Kami pedagang durian di sini tahu kalau ada wabah korona. Tapi kalau nggak jualan anak istri lantas makan apa?” ungkap kakek tiga cucu tersebut.

Wakid sendiri sangat memahami, menggelar barang dagangan ketika ada wabah memang berisiko tinggi. Selain pembeli berkurang, ia juga rentan tertular virus itu karena bersinggungan dengan banyak orang.

Demikian pula pengakuan Ibnu Hajar, pedagang durian yang lain. Ia merupakan tetangga Wakid. Hajar mengaku pasrah melihat kondisi seperti sekarang ini. Dirinya tidak menampik bila dikatakan tak mengindahkan imbauan pemerintah. Karena semua yang dilakukannya itu demi kebutuhan rumah tangga.

“Kalau kami harus berdiam diri di rumah, kan saya tidak memiliki penghasilan. Padahal saya menggantungkan hidup dari menjual durian ini,” katanya.

Selama empat tahun menekuni profesi sebagai pedagang durian, baru kali ini Hajar merasa terpukul akibat hantaman korona. Di antara ratusan durian miliknya itu, paling-paling cuma sepuluh durian yang laku. Di masa sulit seperti sekarang ini, Wakid dan Hajar tak berharap untung besar. Keduanya hanya berharap mendapat penghasilan untuk melanjutkan hidup bersama keluarga mereka. (*)

Reporter : Winardyasto

Fotografer : Winardyasto

Editor : Mahrus Sholih