Tantangan Santri di Masa Pandemi

Belajar Daring Terkendala Sinyal, Tak Semua Punya Gawai

Dampak belajar di rumah sejak wabah korona masuk Jember cukup dirasakan dunia pendidikan. Termasuk pendidikan di pondok pesantren. Sekalipun belajar mengajar bisa dilakukan dengan jarak jauh, tetapi nyatanya tak berjalan efektif.

TIDAK MUDIK: Sebagian santri Ponpes Latifiah, Desa Glagahwero, Kecamatan Kalisat, masih bertahan di pesantren. Sementara yang asal Jember telah pulang ke rumahnya masing-masing.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejumlah santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Latifiah, di Desa Glagahwero, Kecamatan Kalisat, terlihat beraktivitas di depan asrama. Lebaran tahun ini sebagian santri ada yang tidak mudik ke kampung halaman akibat pandemi Covid-19. Mereka pun memanfaatkan waktu senggang untuk memperdalam ilmu agama, juga membersihkan kompleks pesantren.

IKLAN

Selain santri yang bermukim di asrama, beberapa santri di ponpes tersebut juga ada yang pulang ke rumah masing-masing. Biasanya, mereka yang pulang itu adalah yang rumahnya berada tak jauh dari pesantren dan beberapa perdesaan Jember. Dampaknya, mereka tak bisa belajar dengan bimbingan guru di pesantren. Sebab, proses belajar-mengajar jarak jauh dinilai kurang efektif lantaran terkendala beberapa faktor.

Pengasuh Ponpes Latifiah, Imron Baihaqi menyebut, beberapa kendala yang dihadapi para santri saat belajar jarak jauh adalah sinyal. “Santri putri ada sekitar 180-an dan putra 120-an. Mereka ini mayoritas adalah anak desa. Sehingga saat belajar melalui online susah mendapat sinyal,” ucapnya.

Imron yang juga anggota DPRD Jember ini mengungkapkan, kondisi perekonomian wali santri juga tidak semuanya mampu. Banyak dari mereka yang tidak memiliki fasilitas gawai (gadget). Sehingga, belajar-mengajar secara daring tidak mungkin dilakukan. “Sinyalnya susah, ditambah mayoritas santri tidak punya Android. Jadi bagaimana mau belajar jarak jauh,” ucapnya.

Hadirnya wabah korona di Jember memang memberi dampak signifikan bagi sejumlah hal. Termasuk pendidikan di pondok pesantrennya. Bukan saja pendidikan agama, tetapi juga SMP dan SMK yang ada di pondok. Untuk itulah, perlu solusi agar sistem belajar-mengajar para santri tersebut bisa dilakukan dengan baik dan efektif.

Imron mengaku, sejak ada wabah korona, segala aktivitas di pondoknya mengikuti protokol penanganan Covid-19. Akan tetapi, aktivitas belajar mengajar menjadi mandek. “Sebelum santri pulang, protokol kesehatan penanganan Covid-19 juga kami lakukan. Tetapi sejak pulang beberapa waktu lalu, agenda belajar mengajar sudah sulit dilakukan,” ulasnya.

Imron mengaku, banyak para wali santri yang datang ke pondok untuk menanyakan perihal kapan santri bisa kembali. Di tengah pandemi korona yang demikian ini, Imron butuh solusi, sehingga aktivitas bisa kembali normal seperti sebelum ada korona. “Banyak wali santri yang ingin agar putra-putri mereka kembali ke pondok. Kami membutuhkan solusinya,” jelasnya.

Keinginan para wali santri agar putra-putrinya segera kembali ke pondok bukan tanpa alasan. Ada banyak hal yang melatarbelakanginya. Ada yang ikut pergaulan di luar sehingga nuansa kesantriannya terancam pudar. Ada yang tidak belajar dan beberapa faktor lain. “Para wali santri pula alasan bermacam-macam. Tetapi yang terpenting, belajar mengajar di pondok ini tidak efektif jika jarak jauh. Sinyal di beberapa desa asal santri sulit dan banyak santri yang tidak punya Android,” pungkasnya.

Editor: Mahrus Sholih
Reporter: Nur Hariri
Fotografer: Nur Hariri