Mengenal Kampung Logo di Desa Jatimulyo Jenggawah

Kenalkan Ekonomi Digital, Berdayakan Pemuda Meraup Dolar

Ekonomi digital tidak hanya milik orang kota. Coba tengok para pemuda di Desa Jatimulyo, Kecamatan Jenggawah. Lewat kebersamaan, mereka mendidik pemuda andal di bidang desainer, hingga kawasan itu dijuluki Kampung Logo.

BEKALI ILMU: Kegiatan diskusi dan belajar bersama komunitas Kampung Logo di Balai Desa Jatimulyo, Kecamatan Jenggawah. Kini desainer muda ini mulai melebarkan sayap ke e-commerce hingga jasa website.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jarak pusat Kota Jember ke Desa Jatimulyo, Kecamatan Jenggawah, sekitar 23 kilometer atau butuh waktu 40 menit menuju desa yang dijuluki Kampung Logo tersebut. Desa itu sama dengan desa pada umumnya. Aktivitas pertanian mendominasi kehidupan masyarakat di sana. Embel-embel tulisan Kampung Logo juga nyaris tidak ada. Tapi jangan salah, pemuda di sana walau kerajaannya di rumah saja, tapi bisa meraup dolar.

IKLAN

Lewat celah ekonomi digital yang tak mempersoalkan jarak dan waktu inilah, pemuda desa juga punya kesempatan yang sama dengan pemuda di perkotaan. Kreatif dan kebersamaan pemuda Desa Jatimulyo untuk meraup cuan di era ekonomi digital inilah yang banyak dikagumi pemuda lain di Jember. “Di Jenggawah itu lebih keren lagi. Ada namanya Kampung Logo, mereka mendidik anak muda untuk bersama-sama ikut kontes lomba logo,” ucap Yoyok, salah satu anggota Jember Graphic Designer Community (JGDC).

Kampung Logo diinisiasi oleh dua pemuda setempat, yakni Agus Rizal Ardiansyah, 29, dan Dian Febrianti, 31. Menariknya, Agus Rizal sebelumnya adalah pemuda yang sehari-harinya berprofesi sebagai pedagang sandal. Bahkan, dia tak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang teknologi informasi. Sementara Dian, lebih menjurus lantaran berstatus sebagai lulusan Sarjana Ilmu Komputer. Tapi justru pengetahuan kontes logo itu dari Agus Rizal.

“Sebelumnya saya pernah ketipu saat cari uang lewat online. Sebab, tergiur iming-iming cara mudah mendapatkan income Rp 30 juta per bulan. Eh, saat klik malah suruh bayar dan jualan e-book,” ungkap Agus Rizal.

Dia tak lantas putus asa pada waktu itu. Di tengah kebingungannya itu, dia mendapat petuah dari seorang montir di tempatnya nongkrong dan bermain. Kata-katanya membuat dia tertarik mencari informasi tentang logo. “Saat itu main FB-an di bengkel. Oleh montir dibilangi, daripada FB-an saja, mending cari gambar, kan bisa dapat uang,” ceritanya, mengulang perkataan sang montir.

Lewat kolaborasi Agus Rizal dan Dian yang belajar secara autodidak ini, keduanya lantas tak sekadar ingin belajar teknik desain digital. Namun, juga mencari tips agar bisa memenangi kontes desain, hingga belajar Bahasa Inggris dari aplikasi penyedia layanan penerjemah secara daring.

Setelah tahu seluk-beluk mencari uang di dunia digital, mereka lantas mengajak pemuda setempat untuk belajar dan berkarya bersama-sama, sejak Desember 2016 lalu. “Kami ingin memberdayakan pemuda sini. Apalagi banyak yang menganggur dan kerjanya serabutan,” kata Rizal, yang mengaku mampu meraup untung antara Rp 6 – 20 juta per bulan dari kegiatan tersebut.

Mengajak pemuda untuk belajar bersama, kata dia, juga tidak semua pemuda itu mau. Tapi, dengan tahu bahwa bermain di era ekonomi digital bisa mendapatkan uang, maka pemuda desa pun lambat laun mengikuti jejak mereka. “Pemuda desa ini butuh bukti. Buktinya saya bisa dapat uang, akhirnya mereka pun mau,” ungkapnya.

Pengetahuan mencari cuan semakin banyak di dunia era ekonomi digital seperti ini. Pemuda Kampung Logo pun semakin kreatif. Agus Rizal mengaku, ada 15 anggota yang aktif. Dan yang membuatnya bangga, dampaknya terhadap kehidupan masyarakat di desanya luar biasa. “Mungkin anak desa yang bergelut di dunia ekonomi digital seperti logo, semakin banyak. Karena mereka pasti akan mengajak teman-teman dekatnya,” jelasnya.

Muh Mukti Riski mengaku, perkembangan Kampung Logo sekarang tidak melulu hanya mengirim logo atau ikut lomba desain logo. Tapi, kata pemuda 22 tahun ini, mereka juga melebarkan sayap ke e-commerce, jasa desain konstruksi, hingga desain website. “Walau sekarang musim bekerja di rumah atau WFH, kami sudah WFH sejak dulu,” ujarnya.

Pendidikan dan diskusi komunitas logo itu hampir dilakukan setiap malam Kamis. Tapi belakangan ini mulai koordinasi secara (online).

Bagi Riski, sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar dan nilai tukar rupiah yang rendah, tentu saja ini menjadi peluang manis untuk mencari uang di dunia ekonomi digital seperti ini. Dia mencontohkan, jika di luar negeri nominal 1 USD itu nilainya kecil, tapi di Indonesia nilainya menjadi besar.

Salah seorang anggota Kampung Logo yang cukup produktif, Romli, 23, mengaku bahwa selama sembilan bulan belajar dan mengikuti kontes logo, ia sudah meraup keuntungan berkisar Rp 100 juta. Padahal, Romli dulunya hanyalah seorang kuli bangunan tamatan SMA.

Perkembangan ekonomi digital di Indonesia telah menembus 40 miliar USD pada 2019 dan diproyeksikan mencapai 133 miliar USD pada 2025. Sayangnya, menurut laporan East Ventures Digital Competitiveness Index (EVDCI) yang memetakan perkembangan dan potensi pasar digital tanah air, tidak begitu merata di penjuru daerah.

Pulau Jawa skor daya saingnya jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan pulau lainnya. Bahkan, ketimpangan besar juga terjadi antara Jakarta dengan daerah di pulau Jawa lainnya. Infrastruktur internet yang lengkap dan tingkat adopsi digital yang cepat, membuat Jakarta sebagai magnet industri digital dan pendiri-pendiri start up. Skor daya saing digital Jakarta menjadi tertinggi di Indonesia yaitu 76,8.

Walau begitu, ada perkembangan menarik dan seharusnya bisa memacu daerah lain. Yaitu perkembangan Malang dengan nilai skor 47,2. Malang menempati posisi 10 besar, Malang sebagai ‘dapur’ industri digital Indonesia membuatnya unggul dalam aspek talenta digital.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Istimewa

Editor : Mahrus Sholih