Dibungkus Permen, Manfaatkan Anak Penghuni Yayasan

Narkoba Masuk Panti Asuhan

TUNJUKKAN BB: Kasat Reskoba Iptu Agung Joko Hariyono (baju kuning kotak-kotak) saat menunjukkan BB yang diamankan dari tersangka Jafis (baju jingga) saat menggelar press release.

RADAR JEMBER.ID Polres Jember mengungkap peredaran narkoba yang melibatkan anak di bawah umur. Bahkan, anak yang dimanfaatkan menjual obat berbahaya itu adalah bocah yang tinggal di panti asuhan. Kasus ini terungkap setelah kepolisian menangkap Jafis, warga Dusun Krajan, Desa Tamansari, Kecamatan Mumbulsari, baru-baru ini.

IKLAN

Pemuda 33 tahun itu dibekuk polisi karena terbukti mengedarkan obat keras berbahaya (okerbaya). Ternyata, pelaku tak hanya sekali ini melakukan bisnis haram. Dia juga tercatat sebagai residivis dalam kasus yang sama dan pernah ditahan di Lapas Kelas IIA Jember. Akibat perbuatannya itu, Jafis dibekuk Satreskoba Polres Jember. Kini, statusnya resmi menjadi tersangka.

Selain tersangka Jafis, polisi juga mengamankan tiga anak dari salah satu panti asuhan di Jember. Masing-masing berinisial HP, AZ, dan MB. Ketiga pelaku masih berkategori anak, karena masih berusia 17 tahun. Mereka juga ditetapkan sebagai tersangka, meski ketiganya tidak ditahan. “Tapi kami serahkan ke Bapas (Balai Pemasyarakatan) Jember,” ujar Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo, melalui Kasat Reskoba Iptu Agung Joko Hariyono, saat menggelar jumpa pers di Mapolres Jember, kemarin (28/8).

Menurut Agung, pengungkapan kasus itu berawal dari laporan masyarakat tentang maraknya peredaran okerbaya di kawasan panti asuhan tersebut. Laporan itu kemudian ditelusuri. Rupanya benar, polisi kemudian mengamankan tiga anak. “Dari situ, kami kembangkan lagi dan kami tangkap tersangka Jafis yang merupakan bandar okerbaya ini,” ujarnya.

Agung menjelaskan, selain dijual kepada orang luar yayasan, ketiga tersangka yang masih anak-anak itu juga menjajakannya kepada teman-teman sebaya. Modusnya, tersangka membungkus obat itu menggunakan bungkus permen. Tiap kemasan diisi lima butir okerbaya. “Jadi, kalau dilihat sepintas, yang dibungkus itu seperti bukan narkoba, karena mirip permen,” jelasnya.

Dia menambahkan, barang bukti yang diamankan di antaranya pil trihexyphenidyl alias trex sebanyak 243 butir dan uang tunai Rp 200 ribu. Uang tersebut diduga merupakan hasil penjualan okerbaya.

Lebih jauh Agung menjelaskan, model penjualan yang dibungkus menyerupai permen ini merupakan modus baru. Hal itu dilakukan untuk mengelabui petugas maupun pihak yayasan. Dengan begitu, pengurus yayasan tak mencurigai jika yang ditransaksikan adalah obat berbahaya dan melanggar hukum. “Untuk transaksinya, biasanya ketiga anak ini menghubungi tersangka Jafis saat akan ada pembelinya,” papar Agung.

Karena tergolong baru, baik modus operandi maupun sasarannya, polisi bakal mengembangkan kasus tersebut. Penyidik juga terus mencecar tersangka Jafis dan dilakukan pemeriksaan lebih mendalam. “Tentunya kasus ini tidak akan berhenti di sini saja. Kita masih dalami keterangan tersangka Jafis, dari mana dia memperoleh okerbaya itu. Intinya, kasusnya akan kita usut sampai tuntas,” pungkas Agung. (*)

Reporter : Jumai

Fotografer : Jumai

Editor : Mahrus Sholih