Terdakwa dan JPU Masih Pikir-Pikir

Kiai Divonis 16 Tahun

BELUM TERIMA PUTUSAN: Terdakwa Imam Bahroni masih mengatakan pikir-pikir terhadap putusan majelis hakim yang menetapkan dirinya di penjara di atas sepuluh tahun.

RADAR JEMBER.ID – Terdakwa Imam Bahroni Burhan, 59, hanya bisa menunduk lesu di hadapan majelis hakim, kemarin (28/8). Kiai salah satu pondok pesantren (ponpes) di Kecamatan Wuluhan ini menjalani sidang agenda pembacaan putusan di ruang Candra Pengadilan Negeri (PN) Jember.

IKLAN

Imam tak sendiri. Dalam persidangan, dia didampingi oleh satu pengacaranya, Sutowijoyo. Sementara itu, jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember hadir lengkap, yakni Mohammad Kabul dan Fitri Resnawardhani.

Persidangan kemarin siang berstatus terbuka untuk umum, karena hanya agenda pembacaan putusan. Ketua Majelis Hakim Ahmad Zulpikar langsung membacakan putusan bagi terdakwa. Terdakwa dinyatakan sah bersalah karena terbukti mengancam kekerasan kepada anak, dan melakukan tindak persetubuhan dengan si korban yang berinisial IBB. Atas perbuatan tersebut, terdakwa divonis penjara selama 16 tahun dengan denda Rp 10 juta subsider enam bulan kurungan.

Menurut Zulpikar, perbuatan bejat yang dilakukan terdakwa membuat korban trauma dan sampai melahirkan anak. Setelah membacakan putusan, pihaknya memberikan beberapa pilihan untuk terdakwa. “Terdakwa mempunyai hak untuk menerima, pikir-pikir, maupun banding. Silakan berdiskusi terlebih dahulu dengan penasihat hukum terdakwa,” ucap Zulpikar.

Setelah berdiskusi, terdakwa mengatakan masih belum menerima putusan tersebut. “Masih pikir-pikir,” katanya dengan nada lirih. Sama dengan jawaban terdakwa, pihak JPU, Mohammad Kabul pun juga mengatakan pikir-pikir terlebih dahulu.

Seusai persidangan, Gunawan Hendro, salah satu tim pengacara terdakwa berpendapat, putusan yang dijatuhkan untuk kliennya terlalu berat. “Yang jelas, kami masih memilih pikir-pikir selama tujuh hari ke depan, karena putusan dari majelis hakim memang tidak sesuai ekspektasi,” ucap Gunawan.

Menurutnya, persidangan kali ini didasari dengan hasil tes DNA yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Pihaknya sudah mengajukan untuk tes DNA ulang, namun ditolak oleh majelis hakim menolak.

Dalam agenda sidang sebelumnya, Imam Bahroni tak mengakui perbuatannya. Lebih lanjut, Gunawan menyebut, tidak ada keterangan terdakwa yang mengancam si korban bahwa Jika tidak melakukan perbuatan itu, si korban tidak akan diluluskan. “Yang meluruskan keterangan itu bukan terdakwa, tetapi dewan guru dan kiai sepuh lainnya,” ucapnya.

Kasus pencabulan ini mencuat di bulan Desember lalu. Santriwati berinisial IBB, 16 tahun, yang dihamili terdakwa, kini sudah tinggal bersama sang anak yang berusia beberapa bulan. Meski sempat mengelak, hasil positif dari tes DNA menunjukkan bahwa anak dari korban adalah darah daging terdakwa. Akhirnya, hingga kini, terdakwa masih menginap di hotel prodeo. (*)

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti