Petugas Rapid Test, Garda Depan Penanganan Korona

Tujuh Jam Pakai APD, Keringat Mengalir bak Hujan

Petugas medis menjadi garda terdepan penanganan korona. Selain berisiko tertular Covid-19, mereka juga harus punya kesabaran ekstra. Terlebih bagi petugas rapid test yang melakukan screening di perkantoran dan pasar.

SEPERTI ASTRONOT: Petugas medis yang memakai APD lengkap saat melakukan pengambilan sampel darah untuk rapid test di Kantor Diskominfo Jember, belum lama ini.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pagi itu, Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) ada yang berbeda. Bukan bangunannya yang berbeda, tapi ada petugas medis memakai alat pelindung diri (APD) lengkap layaknya pakaian astronot.

IKLAN

Tapi tenang, mereka datang bukan untuk mengevakuasi atau menjemput orang yang positif korona. Melainkan menggelar rapid test atau tes cepat sebagai pendeteksi dini korona ke awak media. Meja panjang dengan dua komputer sudah di hadapan para petugas berpakaian ala astronot tersebut.

Secara bergantian, para jurnalis memberikan KTP. Selanjutnya, didata dan diberikan tabung kecil yang dibubuhi nama. Dari meja panjang itu, mulai bergeser ke ruang rapat Diskominfo yang difungsikan sebagai pengambilan sampel darah.

Rasanya rapid test tidak jauh berbeda dengan donor darah. Lengan diberi tali, tangan mengepal, dan barulah jarum suntik menusuk pembuluh darah untuk mengambil sampel. “Sudah cukup,” begitulah kata petugas pengambil sampel darah di rapid test tersebut.

Petugas tersebut tidak banyak bicara. Raut wajah tersenyum atau lainya pun tidak tahu. Bahkan, apakah petugas itu perempuan atau laki-laki yang tahu adalah sesama petugas rapid test atau ketika mereka bersuara. Maklum saja, APD yang dikenakan begitu rapat, sampai tak dikenali siapa orang di dalamnya.

Saat ditanya siapa namanya, petugas pengambil sampel darah itu menjawab singkat, “Ribut”. Ribut Susilo, itulah nama lengkapnya. Sedikit bicara bukan berarti Ribut orangnya tidak ramah. Tapi itu adalah pilihan untuk menghemat energi, dan bicara memang diperlukan secukupnya saja.

Akhirnya, Ribut bisa tersenyum dan tertawa, kala Jawa Pos Radar Jember menanyakan apakah memang panas pakai APD itu? “Ini keringat mengalir seperti air hujan. Teles kebes,” ucapnya, kemudian terkekeh.

Walau gerah dan bercucuran keringat, tapi Ribut dan teman-temannya harus tetap memakai APD. Sebab, itu sebagai langkah protokol kesehatan dan untuk meminimalisasi penularan korona. “Orang yang kami tes itu tidak tahu. Dia terkena korona atau tidak,” paparnya.

Memakai APD, menurut Ribut, tidak hanya sayang kepada dirinya tapi juga keluarga yang menunggu di rumah. Pria 39 tahun asal Kreongan ini mengatakan, tidak ada latihan sama sekali dalam memakai APD. “Tidak ada latihan. Karena korona, ya pakai,” ucapnya.

Walau saat memakai APD itu gerah, dia beserta teman-temannya tidak akan melepas APD jika tugas belum selesai. “Kalau APD ini dibuka, maka sudah tidak steril lagi. APD ini dipakai sekali saja,” imbuhnya.

Karena itu, dalam tugas mengambil sampel darah, dia juga menahan lapar, haus, termasuk menahan agar tidak buang air. Hal yang melelahkan tentu saja, apalagi saat mereka bertugas di luar ruangan. Suhu luar ruangan panas, semakin menguji kesabaran Ribut dan sejawatnya.

Sebagai petugas rapid test, setidaknya Ribut setiap hari memakai APD. Dia pun berharap, orang yang akan mengikuti jadwal rapid test datang tepat waktu. “Karena APD ini tidak bisa dibuka. Hanya sekali pakai,” jelasnya.

Harapan besar, tentu saja masyarakat lebih baik tetap di rumah saja agar mereka terhindar dari wabah. Selain itu, pandemi ini segera berakhir. Sementara kapan waktu atau keperluan yang tepat untuk keluar rumah. Menurut Ribut, jawabannya ada di hati nurani. “Kapan saat harus ke luar rumah? Hati nurani yang menjawab,” terangnya.

Jika korona membeludak, maka bakal ada klaster-klaster lokal. Rapid test pun semakin masif. Sehingga mau tak mau, Ribut beserta kawannya harus ekstra sabar lagi. Karena pelaksanaan rapid test semakin masif. Dan itu artinya, dia harus lebih lama lagi mengenakan baju hazmat tersebut.

Kepala Diskominfo Pemkab Jember Gatot Triyono menerangkan, petugas yang melakukan rapid test tersebut berasal dari dua instansi. “Ada dua petugas dari Labkesda dan Pukesmas Gladak Pakem. Jumlah keseluruhan sekitar 15 orang,” katanya.

Menurutnya, rapid test untuk wartawan ini dilakukan karena mereka rentan terpapar Covid-19. Total, ada 59 pekerja media dan pegawai di Diskominfo yang mengikuti tes tersebut. “Alhamdulillah, semuanya nonreaktif,” pungkasnya.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih