Bus Angkutan Umum Mati Suri

Dampak PSBB di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik

SEPI: Suasana di Terminal Tawang Alun, kemarin (28/4). Tak terlihat satu pun bus yang beroperasi sejak pagi hingga siang hari di terminal terbesar di Jember tersebut. 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pembatasan sosial berskala besar atau PSBB yang diberlakukan di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik berdampak terhadap sarana angkutan transportasi umum. Terutama bus angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP).

IKLAN

PSBB yang mulai diberlakukan sejak Selasa (28/4) kemarin itu membatasi segala aktivitas dan kegiatan sosial warga, baik yang keluar maupun yang masuk ke tiga daerah tersebut, termasuk juga aktivitas bus. Akibatnya, banyak perusahaan otobus (PO) yang memutuskan menghentikan sementara operasional bus selama masa PSBB berlangsung hingga usai.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di Terminal Tawang Alun Jember, di sekitar terminal nyaris tak ada satu pun bus yang terparkir untuk persiapan keberangkatan. Padahal, saat itu Terminal Tawang Alun masih buka. Hanya terlihat beberapa angkutan kota (angkot) atau lin kuning dan beberapa angkutan umum jenis mini bus.

“Puasa seperti ini sebenarnya ramai-ramainya penumpang,” kata Mohammad Husen, sopir bus patas dari PO Ladju trayek Jember-Surabaya. Pria 48 tahun itu pun merasakan bagaimana sulitnya mendapatkan penghasilan di tengah kondisi seperti saat ini. Sebab, selain kesulitan mendapatkan penumpang, pemasukan juga tak sebanding dengan ongkos solar.

Tak hanya bus yang dikemudikan Husen, beberapa sopir bus lain juga mengaku demikian. Sebab, tak jauh dari terminal, cukup banyak garasi bus dari berbagai PO. Rata-rata, hampir semua PO yang biasa keluar masuk di Tawang Alun terlihat hanya parkir di garasi masing-masing. Tampaknya, mereka memilih tak beroperasi daripada harus tekor dengan biaya bahan bakar.

“Mau keluar ini nanggung, tetap nggak sepadan dengan pemasukan,” tambah Sampurno, sopir bus dari PO Borobudur yang juga trayek Jember-Surabaya. Kata dia, Surabaya memang sebagai satu-satunya pusat pertemuan bus se-Jawa Timur, sekaligus ladang rezeki sopir bus karena sangat banyak penumpang.

Menurut Sampurno, meskipun PSBB hanya diberlakukan di Surabaya, Sidarjo, dan Gresik, namun semua itu berpengaruh besar terhadap penghasilan awak bus. Sebab, dampaknya berpengaruh putusnya jam operasional dari berbagai PO yang melayani trayek ke daerah lain. Seperti ke Bali, Banyuwangi, Solo, Yogyakarta, maupun wilayah lain.

“Ini saja, sejak pukul 01.00 pagi sampai siang pukul 11.00, baru ada satu bus yang jalan. Yakni PO Jawa Indah ke arah Banyuwangi. Itu pun masih terhenti lama di depan terminal,” tambah Rudy, petugas di Terminal Tawang Alun Jember.

Dia menjelaskan, hampir semua PO merespons kebijakan PSBB itu dengan meliburkan sementara armada mereka. Sebelum PSBB, dia berkata, jam operasional bus masih normal, meski tidak semua PO mengeluarkan armadanya. Padahal, PSBB tiga daerah tersebut direncanakan sampai 11 Mei mendatang, dan ada kemungkinan diperpanjang melihat perkembangan kondisi terkini.

Reporter : Maulana

Fotografer : Maulana

Editor : Mahrus Sholih