Kiprah Seniman Cilik Pegiat Tari Tradisional di Ajung Tetap Senang Hadiri Undangan, meski Hanya Diberi Uang Transport

Melestarikan kesenian bukan cuma tugas orang dewasa. Mereka yang masih bocah juga memiliki kesempatan sama. Seperti anak-anak yang belajar seni di komunitas di Kecamatan Ajung. Meski masih berusia dini, mereka cukup eksis dan telah tampil di berbagai tempat.

IKLAN

 

Ajung, Radar Jember ID-Jika biasanya akhir pekan ditunggu karena memasuki masa liburan, tapi bagi sejumlah anak di Dusun Limbungsari, Desa/Kecamatan Ajung, tidak. Mereka justru menunggu momen itu untuk berlatih kesenian tari tradisional. Aktivitas inilah yang biasanya di lakukan para bocah di kampung itu untuk mengisi hari libur sekolah mereka.

Sebagian dari bocah yang rutin berlatih tari itu masih duduk di bangku sekolah dasar. Sehingga mereka harus pintar-pintar membagi waktu karena jadwal latihan terkadang berbenturan dengan tugas sekolah dan belajar mengaji di musala. Namun karena dorongan kuat, bocah-bocah itu perlahan bisa mengatur waktu dan tetap mendalami tari tradisional tanpa meninggalkan aktivitas rutin mereka .

Abdul Adzim, salah seorang pelatih tari mengatakan, biasanya waktu anak-anak lebih banyak dihabiskan untuk bermain. Sehingga, kata dia, sebelum diajak berlatih menari bersama, bocah-bocah yang ada di sanggar tersebut diajak bermain lebih dulu. Baru setelah mereka akrab, dirinya memulai agenda belajar bareng. “Lalu kami arahkan untuk menaruh minat di seni dan budaya,” katanya.

Kendati begitu, Adzim mengakui, tetap tak mudah membiasakan anak langsung belajar menari. Karena fitrah anak adalah bermain. Makanya, bagi pelatih tari seperti dirinya perlu telaten mengurus anak-anak itu. Meski terkadang dirinya jengkel juga lantaran ada saja anak yang berbuat usil.

Tiap Jumat malam dan Sabtu, mereka berlatih berbagai model tarian tradisional. Mulai dari tari Dramatical Egrang, tari Bocah Dolanan, Can Macanan Kaddhuk, dan lain-lain. Bahkan saat ini, mereka tengah berlatih tari Dewa Ruci yang dikombinasikan kendang, egrang dan seni teater.

“Pasti ada kesulitan. Tapi usia-usia seperti mereka ini adalah masa potensial untuk mengembangkan keterampilan anak,” tutur Adzim. Sekitar 20-an anak yang ikut latihan tari itu cukup inspiratif. Adzim mengatakan, saat anak-anak itu mulai menaruh perhatian terhadap seni, mereka menunjukkan keseriusannya.

Seperti pengadaan kostum untuk perform. “Mereka iuran sendiri, saya bantu koordinirnya,” kata Adzim. Tampaknya mereka tak hanya belajar soal seni, tapi juga belajar soal kemandirian. Karena hampir sebagian besar biaya kostum, dibuat dari hasil patungan. “Sebagian merupakan sumbangan orang tua, sisanya mereka menyisihkan honor usai perform,” imbuhnya.

Pemuda yang juga sebagai pembina di Komunitas Gubuk Pustaka Ndalung Ajung itu menjelaskan, sejak penampilan pertama mereka pada Agustus 2018 lalu, anak-anak mulai belajar ikhlas. Karena saat mereka diundang di berbagai tempat dalam beberapa acara, anak-anak cukup bersemangat, meski hanya diberi uang transport. Bahkan, saat hendak berangkat menuju lokasi acara, mereka terbiasa menyisihkan uang jajannya untuk bantingan menyewa kendaraan untuk berangkat.

Adzim menjelaskan, anak-anak memang tidak diiming-imingi honor usai tampil. Khawatirnya, mereka akan bersikap pragmatis dan mulai menggadaikan bakatnya demi mencari uang. “Sehingga honor yang diterima istilahnya hanya uang jajan, itupun jumlahnya pas-pasan,” imbuh pemuda 27 tahun itu.

Menurut dia, sudah puluhan kali anak-anak asuhnya tampil di berbagai kesempatan, mulai di kampus, kampung, mall, hingga event lainnya. Ke depan, komunitas ini berencana terus mengasah bakat anak asuhnya itu itu. Belajar tari yang lebih variatif dan inovatif.

Ayu Lintang, salah satu penari di komunitas ini mengaku, dirinya ingin menjadi seniman handal di masa depan. Gadis 13 tahun itu optimistis, buah kiprahnya hari ini bukan untuk dipanen saat ini juga, melainkan di masa mendatang. “Pingin jadi seniman tari, agar ibu dan ayah di rumah bangga,” tandasnya. (rus)

Reporter : Maulana

Fotografer : Maulana

Editor : Mahrus Sholih