Enam Lokasi Mulai Kekeringan

BUTUH AIR BERSIH: Warga Dusun Tegalbatu, Desa Candijati, Arjasa, mulai mendapatkan distribusi air bersih dari BPBD Jember

RADAR JEMBER.ID Sejumlah kecamatan di Jember mulai dilanda kekeringan. Ada beberapa titik di enam wilayah yang tercatat kekurangan air, yakni Arjasa, Jelbuk, Sumberjambe, Silo, Tempurejo, dan Jenggawah. Kemarau panjang dan beralihnya fungsi lahan menjadi tanaman musiman disebut menjadi salah satu penyebab kekeringan tersebut.

IKLAN

Menanggulangi dampak kekeringan itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember mulai menerjunkan mobil tangki untuk mendistribusikan air bersih di Dusun Tegalbatu, Desa Candijati, Kecamatan Arjasa, kemarin (26/8). Distribusi air itu menjadi kali ketiga selama musim kemarau tahun ini.

Kabid Kedaruratan (BPBD) Jember Asrah mengaku, setidaknya ada enam titik lokasi yang mengalami kekeringan. “Kecamatan Arjasa di Tegalbatu, Jelbuk, Jambearum di Sumberjambe, Karangharjo di Silo, Tempurejo, Kemuning Lor di Jenggawah,” katanya.

Sebelumnya, kata dia, BPBD telah melakukan antisipasi dan mendeteksi dini dengan melakukan survei di daerah berpotensi kekeringan. Yaitu, Pakusari, Arjasa, Sumberjambe, Jelbuk, Patrang, dan Rambipuji. “Tegalbatu ada 120 kepala keluarga yang dilanda kekeringan dan ini sudah ketiga kalinya. Pertama 23 Agustus, kedua 25 Agustus, serta ketiga hari ini (kemarin 27/8, Red),” katanya.

Distribusi air bersih tersebut juga berkerja sama dengan PDAM Jember. Dia menjelaskan, pemerintah desa atau kecamatan bisa berkomunikasi langsung ke BPBD jika di wilayahnya terdapat kekeringan. “Kalau ada laporan kekeringan, petugas BPBD Jember akan survei ke lokasi terlebih dahulu, termasuk menghitung berapa jumlah KK yang terdampak kekeringan,” ujarnya.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, kekeringan akan masih berlanjut hingga puncak musim kemarau yang diprediksi pada akhir September mendatang. “Oktober mulai turun hujan dan berlanjut ke antisipasi musim penghujan,” katanya.

Arsah menjelaskan, kekeringan yang melanda hampir setiap tahun di puncak musim kemarau tersebut, salah satu penyebabnya adalah alih fungsi lahan. “Kekeringan itu bukan tiba-tiba terjadi. Melainkan, melalui proses panjang,” paparnya.

Dia menambahkan, semuanya kembali ke perilaku manusia yang mengganti jenis tanaman ke tanaman musiman. Dulu, kata dia, ada pohon besar yang dapat menjadi resapan air, tapi setelah ada alih fungsi lahan jadi tanaman musiman, pohon raksasa tersebut ikut sirna. “Tanaman musiman tersebut tidak bisa menyimpan air, sehingga air dalam tanah pun akan berkurang,” paparnya.

Arsah menjelaskan, jika di daerah itu sering longsor atau banjir, maka bisa dipastikan berpotensi kekeringan. Hal itu karena tidak ada serapan air. Sebab, kata dia, daya dukung dan daya tampungnya tidak memenuhi lagi. Sehingga, sambungnya, konsep lingkungan menjadi solusi terbaik dan harus dilakukan masyarakat.

Dia mencontohkan, di antaranya dengan kembali menanam pohon atau reboisasi. Pola ini harus digalakkan lagi. Karena, sementara ini BPBD hanya bisa mengatasi kedaruratan saja. Sehingga, perlu peran dinas terkait, perkebunan, ataupun kehutanan. “Kalau ada ya aksi, bantu ya bantu. Kalau tidak ya tidak. Jika seperti itu kapan habisnya kekeringan,” pungkasnya. (*)

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Istimewa

Editor : Bagus Supriadi