Melihat Aktivitas Mahasiswa Asing Isi Kegiatan Ramadan

Tetap Jalankan Ibadah hingga Jualan Makanan di Sore Hari

Tinggal di negeri orang saat pandemi Covid-19 terkadang membuat bosan. Apalagi pemerintah Indonesia mengharuskan orang untuk tidak keluar rumah. Namun, mahasiswa Patani, Thailand Selatan memiliki cara tersendiri agar membuat hari-hari di kontrakan lebih bermakna di bulan Ramadan.

TETAP BERSAMA TAPI BERJARAK: Mahasiswa Patani, Thailand Selatan, memutuskan untuk tidak pulang ke kampung halamannya saat Idul Fitri nanti, karena pandemi korona masih belum berlalu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rumah kontrakan berwarna cerah di Jalan Jawa VIII nomor 51 Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, setelah salat Tarawih terlihat ramai. Puluhan sandal dan sepatu tertata rapi di depan pintu masuk.  Sementara itu, di dalam rumah berukuran cukup luas itu, sejumlah mahasiswa terlihat duduk berhadapan di atas karpet, hendak melaksanakan diskusi kecil.

IKLAN

Tempat itu tak lain adalah sekretariat Himpunan Mahasiswa Patani (Thailand Selatan) di Indonesia atau Patani Students Association (Southern Thailand) In Indonesia, yang beranggotakan 136 orang mahasiswa dan pelajar yang tengah menuntut ilmu di Jember. Mahasiswa asing tersebut tersebar di berbagai instansi pendidikan di Jember, baik itu negeri ataupun swasta.

Karena pandemi korona, tahun ini ratusan mahasiswa tersebut terancam tidak bisa pulang kampung ke Patani. “Di bulan Ramadan seperti ini ketika wabah Covid-19 berlangsung, teman-teman mahasiswa Patani ini memilih berdiam diri di kontrakan. Untuk urusan sahur dan buka puasa, sengaja tidak beli makanan di warung, tapi memasak sendiri. Hal ini untuk memutus mata rantai penularan virus mematikan itu,” ungkap Hilmi Adenan, Ketua Himpunan Mahasiswa Patani Thailand Selatan.

Menurut Hilmi, mahasiswa dari Negeri Gajah Putih itu tetap melaksanakan ibadah di tempat kontrakan masing-masing. Seperti salat Tarawih berjamaah, kajian, kultum, dan tadarus. Namun, kesemuanya tetap menjaga jarak satu meter dan memakai masker sesuai imbauan pemerintah. “Di hari puasa keempat ini, Senin (27/4) sore, di Jalan Jawa, kami ngabuburit berjualan menu masakan khas Thailand agar lebih dikenal oleh orang Jember,” imbuh Hilmi.

Sementara itu, Sulaiman Saha, mahasiswa semester akhir Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember, menceritakan, karena jarak antara Indonesia dan Thailand sangat jauh, maka mereka tidak bisa mudik Lebaran tiap tahun. “Pulang ke kampung ketika Lebaran paling dua tahun sekali. Untuk ke sana butuh duit tidak sedikit. karena harga tiket pesawat saat itu pasti mengalami peningkatan,” terang Saha.

Dahulu, sebelum merebaknya virus mematikan tersebut, mahasiswa Thailand itu biasanya ramai-ramai mengikuti salat Idul Fitri di Masjid Al Hikmah Universitas Jember. Kemudian, mereka langsung menggelar acara halalbihalal di lapangan, tak jauh dari masjid tersebut.

“Halalbihalal diisi kegiatan salam-salaman sambil menikmati hidangan sederhana. Bawa dari kontrakan sembari duduk di hamparan tikar. Tapi tahun ini acara seperti itu ditiadakan karena virus Covid-19 belum berlalu,” pungkasnya.

Reporter : Winardyasto

Fotografer : Winardyasto

Editor : Mahrus Sholih