Klaster Padi Organik Solusi Ketahanan Pangan

BERAS PREMIUM: Hasil pertanian padi organik yang dihasilkan oleh petani Dusun Gardu Timur Desa Rowosari, Kecamatan Sumberjambe

ROWOSARI, RADARJEMBER.ID – Beras organik mulai menjadi pangan yang diminati warga. Sebab, beras ini diolah dengan cara yang lebih menyehatkan. Yakni melalui proses budidaya organik, tanpa menggunakan pupuk pestisida yang mengandung kimia. Pertanian organik bisa menjadi salah satu solusi mewujudkan ketahanan pangan.

IKLAN

Kebutuhan pangan sehat terus berkembang seiring kemajuan jaman. Pasarnya terus berkembang, tak hanya lokal, namun juga pasar eksport. Padi organik ditanam di tanah yang ramah lingkungan. Pupuknya menggunakan kompos, pupuk hijau dan pupuk hayati. Semakin lama, tanahnya semakin subur.

Di Jember, pertanian organik dikembangkan oleh Koperasi Tani Jaya di Dusun Gardu Timur Desa Rowosari, Kecamatan Sumberjambe. Koperasi ini semakin berkembang seiring hadirnya program klaster binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Wilayah Jember. “Tanaman Organik kami dimulai sejak 2008 lalu,” kata Rudiyanto, ketua Koperasi Tani Jaya.

Saat itu, masih dalam tahap percobaan. Lalu, pada tahun 2010, mengajukan sertifikasi padi organik pada lembaga sertifikasi organik Inofice.  Setelah disurvei belum bisa memenuhi persyaratan untuk disebut sebagai pertanian organik. “Karena masih ada bekas pupuk pestisida,” akunya. Namun, para petani tidak menyerah.

Tahun 2012, mereka kembali mengajukan sertifikasi kembali pada Inofice. Hasilnya, lahan petani seluas lima hektare itu lolos sertifikasi untuk menjadi tanaman organik. “Air untuk irigasi kita langsung ambil dari pegunungan,” tuturnya.

Pertama kali panen, kata dia, lahan satu hektare langsung menghasilkan tiga ton padi. Akhirnya, luas lahan organik terus dikembangkan, tahun 2013 bertambah menjadi 12 hekatre. Tahun 2014 menjadi 40 hektare, dan tahun 2015 sampai sekarang sudah mencapai 64 hektare .

Sekarang, kata Rudi, hasil panen sudah naik dari tiga ton per hektare menjadi lima ton. Hasil panen padi organik memang lebih sedikit jumlahnya dibanding padi non organik, selisih satu ton perhektarenya. “Tetapi, harga jualnya lebih mahal padi organik,” terangnya.
Gabah padi organik perkilo sebesar Rp 6 ribu, sedangkan nonorganik sekitar Rp 4.200 hingga Rp 4.500 perkilogram. Permintaan penjualan beras organik itu, lanjut Rudi, sangat luas.

Bahkan sudah kontrak dengan berbagai perusahaan. “Kita kontrak dengan pasar dari Lombok, Kalimantan, Golden Market, Bulog dan lainnya,” jelasnya.

MENJANJIKAN: Padi organik termasuk beras premium, peminatnya tak hanya lokal, tapi juga luar negeri.

Apalagi, tanaman padi organik yang dikelola oleh para petani sudah memiliki teknologi yang cukup maju. Penjemuran menggunakan teknologi yang bisa menampung 10 ton setiap delapan jam. “Meskipun hujan, kita tetap bisa mengeringkan karena punya mesin,” tuturnya.

Perjalanan koperasi untuk mengembangkan padi organik ini tidak mudah. Perlu perjuangan untuk meyakinkan para petani agar beralih ke pertanian organik. Sekarang, sudah ada 150 petani yang mengelola lahannya sebagai pertanian organik. “Tidak mudah merubah mindset petani beralih ke organik,” tegasnya.

Cara yang dipakai untuk menggerakkan petani dengan menunjukkan keunggulannya. Seperti harga yang lebih mahal, pasar yang terjamin, pupuk tidak perlu membeli karena bisa menggunakan kotoran ternak hewan.

Setiap bulan, lahan organik itu digilir panennya, sehingga permintaan beras selalu tersedia. “Ke Kalimantan kontrak kita 200 ton per tahun,” tambahnya. Bahkan ke Bulog Jakarta mencapai 10 ton per bulan, Bulog Jember mencapai 5 kuintal per bulan. Sekarang pihaknya terus mengembangkan lahan agar mampu memenuhi permintaan tersebut. “Harganya, beras organik putih Rp 15.000, beras hitam Rp 28.000 dan beras merah Rp 17.000,” imbuhnya.

Sekarang, Permintaan beras organik pada petani di Kecamatan Sumberjambe terus meningkat. Bahkan, dalam satu tahun mencapai 400 ton. Sedangkan petani hanya mampu produksi 80 persen dari permintaan. “Kami masih kurang 20 persen,” tutur Rudi.

Beras Premium Binaan KPwBI Jember Berhasil Diekspor

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Wilayah Jember menjadikan pertanian organik ini sebagai program klaster binaan. Tak hanya Jember, namun di lima Kabupaten, yakni Jember, Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso dan Lumajang. Bahkan, padi organik Banyuwangi sudah ekspor ke Itali. Permintaan juga datang dari Jerman, Inggris, dan negara eropa lainnya, namun stok masih terbatas.

Lahan padi organik di Banyuwangi seluas 42 hektare dengan jumlah petani 132 orang. Sedangkan di Bondowoso seluas 150 hektare dengan jumlah petani 350 orang. Kemudian, di Situbondo sebanyak 25 hingga 50 hektare dengan jumlah petani 70 orang.

Program binaan ini bertujuan untuk pengendalian inflasi dan agar produknya bisa ekspor ke luar negeri. “Karena beras organik produk premium bukan produk biasa,” kata Lukman Hakim, kepala tim Advisory dan pengembangan ekonomi KPwBI Jember.

Menurutnya, tak mudah untuk ekspor barang ke luar. Sebab, harus memiliki sertifikat internasional yang membutuhkan biaya mahal. “Ada syarat yang tak mudah, mulai dari penggunaan bibit, pupuk, tak boleh ada bahan kimia dan lainnya,” tutur Lukman.

Untuk itulah, KPwBI Jember hadir meningkatkan kualitas petani dengan memberikan pelatihan cara budidaya pertanian organik. “Kami Kerjasama dengan pihak kompeten, penyuluh pertanian hingga kampus untuk memberikan pemahaman manfaat pertanian organik,” jelasnya.

Tak hanya itu, KPwBI juga mencarikan pasar beras organik. Produk itu diikutkan berbagai pameran. Bahkan, juga dipertemukan dengan pasar luar negeri. “Dari sisi budidaya sampai pemasarannya, ada dukungan yang diberikan BI,” akunya.

Program klaster binaan yang dilakukan sekitar lima tahun itu pun membuahkan hasil. Salah satu binaan pertanian organik di Banyuwangi sudah berhasil diekspor ke Itali. “Itu satu pencapain yang bagus, bisa menjadi contoh bagi kabupaten lain untuk ikuti jejak. Karena peluang terbuka, permintaan cukup banyak,” terang pria berkacamata ini.
Diakuinya, padi organik lebih menjanjikan dibanding padi non organik. Sebab harga jualnya lebih mahal. Bila padi organik perkilogram bisa Rp 15 ribu. Sementara padi non organik hanya Rp 10 ribu.

STUDI BANDING: Petani padi organik binaa KPwBI Jember saat diajak untuk studi banding ke Bali.

Biaya tanam juga lebih murah karena tidak menggunakan pupuk berbahan kimia yang harganya terus naik. “Kenaikan harga beras, tidak bisa menutupi harga pupuk kimia,” ujarnya. Penggunaan pupuk non organik bisa Rp 5 juta saat tanam, pakai pupuk organik hanya Rp 2 juta.

Selain itu, batang pohon organik lebih kuat, Lebih tahan angin dan hama. Lahan, semakin lama semakin subur, sejalan dengan hasil produksi yang terus meningkat. “ Lahan non organik semakin sakau dan jelek,” imbuhnya.

Akhirnya, biaya tanam petani terus meningkat setiap tahunnya. Keuntungan pertanian organik bisa mengurangi biaya bagi petani. Petani Indonesia diharapkan mengurangi penggunaan pestisida karena merusak lingkungan. “Menciptakan Green farming, pertanian ramah lingkungan,” ujarnya.

Pembinaan klaster itu diharapkan bisa membuat petani mandiri. Memiliki SOP yang sudah sepakati, kualitas yang sudah dijaga sehingga bisa jalan sendiri. “Kami ajak lima kabupaten ini bersinergi, salung support,” pungkasnya.

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Bagus Supriadi

Editor : Bagus Supriadi