Kurangi Setoran Sopir

Cara Pengusaha Lin Bertahan di Tengah Wabah

LESU: Pengusaha lin di Jalan Imam Bonjol mengandangkan armadanya lantaran sepi penumpang saat korona.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Diskon menjadi langkah yang diambil pengusaha angkutan umum agar armadanya tetap beroperasi. Tapi yang diberi diskon bukan tarif penumpang, melainkan setoran sopir. Sebab, di tengah masa sulit akibat korona ini, okupansi penumpang sangat sepi.

IKLAN

Sore itu, ruas Jalan Imam Bonjol tampak lengang. Tak banyak hiruk pikuk dan lalu lalang kendaraan. Deretan angkutan kota atau yang disebut lin kuning juga tampak terparkir di tepi jalan. Wanita tua berkerudung dan berkacamata pun hanya bisa melihat lin yang biasanya mengaspal. “Sepi ya jalan,” ucap wanita bernama Umi Indrayati itu.

Wanita 66 tahun ini adalah pengusaha lin kuning dan sudah merasakan asam, manis, dan pahitnya angkot. Tapi yang paling pahit adalah saat korona ini. Memulai usaha lin tahun 1990 lalu, dia pernah terkena badai krisis moneter di tahun 1999. “Daripada krisis moneter, korona yang lebih parah,” jelasnya.

Dulu, kata dia, saat krisis moneter, masih banyak orang keluar, sehingga angkutan publik masih berjalan lancar. Sedangkan akibat korona, orang enggan keluar rumah. “Kalau orang tidak keluar, terus mau angkut siapa. Lin kan untuk angkut orang bukan barang,” jelasnya.

Walau jelas merugi besar, Umi juga tidak mau diam. Dia pun mengambil langkah untuk memangkas uang setoran sopir. Dari 90 ribu per hari, menjadi Rp 25-30 ribu per hari. “Kalau jurusan Tawang Alun-Arjasa per hari Rp 30 ribu. Karena jurusan itu yang paling ramai,” ungkapnya.

Walau diskon setoran, tapi tak jarang sopir tak menyetor uang. “Saya paham, sekarang keadaan sulit. Terpenting sama-sama tahu. Sopir juga kasihan narik tapi nggak ada penumpang,” tuturnya.

Dari 20 lin yang dimiliki Umi, hanya lima armada yang beroperasi. Lima kendaraan umum itu jurusan Arjasa, kampus, dan Pakusari. Umi pun ingin merestorasi lin sesuai keadaan zaman, semisal menjajal model angkutan daring. Sayangnya, tak semua sopir paham teknologi, tidak semua sopir punya gawai (gadget).

Sementara itu, Siswoyo, sopir lin jurusan Tawang Alun-Arjasa, mengaku, sejak korona memang terjadi penurunan penumpang drastis. Dari setoran awal Rp 80 ribu per hari, turun menjadi Rp 50 ribu per hari, dan turun lagi Rp 30 ribu per hari. Akibat korona, Siswoyo bekerja tidak setiap hari. “Sehari narik, tiga hari libur. Gantian dengan sopir lainnya,” tuturnya. Bagi dia, saat Ramadan menjadi pelipur lara. Sebab, saat puasa, pengeluaran dalam sehari lebih sedikit.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih