Gufron, Pedagang Yang Mencoba Bertahan di Tengah Gempuran Korona

Demi Keluarga, Manfaatkan Keadaan untuk Bertahan

Saat banyak orang memilih pulang, ada beberapa orang yang pasrah dan memilih bertahan di perantauan. Rindu keluarga itu pasti. Yang bingung pekerjaan juga banyak. Tapi, pulang menjadi pantangan bagi sebagian orang.

COBA BERTAHAN: Moh. Gufron Burhanuddin menanti pelanggan di hari kedua puasa Ramadan, kemarin (25/4) sore. Dia buka outlet es di Jalan Mastrip, Kelurahan Tegalgede, Kecamatan Sumbersari.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tanpa ekspresi, Gufron menanti pelanggan yang hendak membeli es di outlet tempatnya bekerja. Sesekali, ekspresi datar itu ditutup masker ketika ada pelanggan datang. “Biar tak terpapar korona,” tegasnya. Ekspresi datar tersebut datang dari rasa lapar setelah berpuasa sepanjang hari.

IKLAN

Namun, ada alasan lain yang membuatnya tak bersemangat beberapa hari ini. Dia tak bisa pulang lantaran ada larangan mudik per tanggal 24 April 2020. Terlebih, kesepian menggerogoti hari-harinya.

Pertama, karena perkuliahan diliburkan. Kedua, lantaran pekerjaannya menerapkan sistem sif per minggu. Jadi, seminggu kerja, lalu seminggu libur.

“Puasa kali ini beda dengan puasa tahun-tahun sebelumnya,” tutur pemuda yang memiliki nama M Gufron Burhanuddin tersebut. Bagaimana tidak, wabah korona membuat dia tak bisa bertegur sapa dengan keluarga di kampung halaman. Yakni, Pamekasan, Pulau Madura.

“Perkuliahan diliburkan dan banyak mahasiswa yang pulang,” ujar pemuda yang kerap disapa Gufron itu. Sementara itu, dia mengaku tak bisa pulang karena memiliki kontrak kerja dengan salah satu pengusaha minuman di sekitar kampus.

“Meski hanya bekerja dua minggu dalam sebulan, saya bersyukur,” ungkapnya.

Pertama, banyak orang yang di PHK lantaran beberapa perusahaan terdampak korona. Kedua, dia tetap bisa bertahan hidup di Jember dengan uang pas-pasan. Ketiga, bisa menjadi alasan supaya tidak mudik.

“Maklum, orang seperti saya ini nekat-nekat,” paparnya sembari tersenyum. “Sebenarnya, saya dipaksa pulang,” ujar mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra (PBSI) FKIP Unej 2016 tersebut. “Ibu bilang, ‘Masak takut sama korona,’ begitu katanya,” imbuh pemuda kelahiran 1997 itu.

Sebenarnya, pemuda asal Dusun Bongkar, Desa Tlontoraja, Kecamatan Pasean, Pamekasan, tersebut mengaku bingung karena tidak bisa pulang. “Tapi, mau bagaimana lagi,” ucapnya. Dia mengaku akan bertahan di Jember sampai pandemi korona mereda. “Bahkan, hari raya saya tetap di sini,” lanjutnya.

“Saya ndak mau ngeyel seperti perantau lain. Yang memaksakan diri untuk pulang karena tidak bekerja di perantauan,” tegasnya.

“Lebih baik, saya yang kepontang-panting di sini. Daripada pulang bawa penyakit,” jelas pemuda yang kos di Jalan Kalimantan Gang X, No 31, RT 003, RW 006, Kecamatan Sumbersari.

“Lebih baik, jangan egois dengan memaksakan diri untuk pulang,” imbau Gufron untuk para perantau. “Kasihan keluarga di rumah kalau ada apa-apa setelah kita pulang,” pungkasnya.

Reporter : mg1

Fotografer : mg1

Editor : Hadi Sumarsono