Penjual Es Gelisah karena Harga Gula Melambung

TERUS NAIK: Salah seorang warga baru saja membeli es doger di kawasan Alun-Alun Jember. Dampak naiknya harga gula membuat pedagang es pusing. Sebab, mereka tidak berani menggunakan pemanis buatan yang harganya lebih murah.

PATRANG.RADARJEMBER.ID– Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah ungkapan yang menggambarkan nasib penjual es keliling di seputaran Alun-Alun Jember. Ketika Covid-19 menjadi ancaman hingga berdampak terhadap dagangan mereka, harga gula pasir juga semakin meroket.

IKLAN

Sejumlah penjual es mengaku terpukul imbas dari kenaikan harga gula pasir tersebut. Bahkan hari ini gula pasir di pasaran tembus Rp 18 ribu per Kg.

Dafa Satria (bukan nama sebenarnya) salah seorang penjual es cincau dan tiap hari mangkal di depan SD Baitul Amien, mengaku kelimpungan. Karena harga gula pasir kini tidak lagi bersahabat.

“Setiap hari saya membutuhkan 1 Kg gula pasir untuk campuran bahan pembuatan es cincau ini. Kalau harga terus-terusan naik, mungkin saya memutuskan berhenti jualan es cincau,” kata warga Jalan Ciliwung, Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang ini.

Walau harga gula belum stabil, Dafa tidak berani memakai pemanis buatan. Karena, kata lulusan salah satu SMK Negeri di Jember itu, tidak ingin “meracuni pembeli”. Karena menurutnya pemanis buatan tidak bagus untuk kesehatan.

Hal senada diungkapkan pula oleh Andini Tri Sila penjual es doger. Ia tidak sekadar menjual es tersebut, namun ikut terlibat langsung dalam proses pembuatan bersama sang majikan di kawasan Gebang. Sehingga dirinya tahu betul kalau barang dagangannya itu tidak dicampuri oleh pemanis buatan.

“Kasihan yang beli kalau menggunakan pemanis buatan. Karena bisa menyebabkan tenggorokan gatal dan batuk,” terang Andini.

Andini memaparkan , agar es doger ini terasa manis paling tidak menghabiskan 3 Kg gula pasir. Bila dikalkulasi, lebih dari lima puluh ribu rupiah per hari anggaran untuk membeli gula pasir tersebut.

Bapak dua anak dari Desa Glagahwero, Kecamatan Panti itu berjualan es doger hampir enam tahun terakhir. Dari kurun waktu tersebut, baru kali ini harga gula pasir menggila sehingga dinilainya sangat merugikan pedagang es. (*)

Reporter : Winardyasto

Fotografer : Winardyasto

Editor : Mahrus Sholih