Idealnya Harus Ada Sekat

 Posko Karantina Covid-19 di JSG

BANYAK TANTANGAN: Inisiasi menjadikan Jember Sport Garden sebagai lokasi karantina ODR dan ODP masih mengalami banyak kendala, khususnya dari segi teknis. Kini, Pemkab Jember dan Satgas Covid-19 yang merupakan gabungan dari TNI, Polri, serta sejumlah pihak lain terus mematangkan hal-hal teknis terkait karantina masal.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penggunaan Stadion Jember Spot Garden (JSG) yang difungsikan sebagai posko karantina korona menuai pro dan kontra. Ada yang menilai, fasilitas yang disediakan pemerintah kurang memadai. Bahkan, ada juga memperbincangkan dengan tempat tidur yang dipakai tidak seperti di rumah sakit, melainkan memakai velbed. Hingga antar-velbed tidak diberi penyekat seperti layaknya rumah sakit juga menjadi sasaran kritik.

IKLAN

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Jember (FK Unej) dr Cholis Abrori menilai, adanya gedung pemerintahan seperti JSG yang diubah menjadi ruang karantina orang dalam risiko (ODR) dan orang dalam pemantauan (ODP) adalah langkah yang bagus. “Kita tidak tahu badai korona itu sebesar apa, secepat apa nantinya,” ujar dosen yang juga Ketua Tim Penanggulangan Corona Unej tersebut.

Karena wabah korona tak terprediksi, menurutnya, maka langkah cadangan seperti posko karantina di JSG itu adalah tindakan yang cukup bagus. Kendati begitu, dia masih belum bisa berbicara banyak terkait kelayakannya. Tapi yang jelas, dirinya meyakini kalau dinas kesehatan punya perhitungan dan pertimbangan tertentu mengapa JSG yang dipakai.

Hanya saja, dia menegaskan, yang tak kalah penting jika JSG itu benar-benar difungsikan sebagai ruang karantina ODP dan ODR korona, harus menerapkan pemisahan yang tepat, antara ODR dan OPD dengan petugas medis yang sebelumnya sehat. Dia juga berharap Dinkes terus melakukan evaluasi persiapan JSG yang dijadikan posko Covid-19, sekaligus menjadi ruang karantina tersebut.

Evaluasi tersebut tentu saja untuk perbaikan ke depan. Salah satunya membuat sekat. “Ada sekat jadi lebih baik,” tuturnya. Pemerintah memang sangat serius dalam menghadapi korona ini. Sebab, jika badai korona tidak segera diatasi dan dibatasi, Indonesia bisa jadi seperti Wuhan, Tiongkok, dan Italia.

Jika kejadian korona seperti di dua negara itu, kata dr Cholis, sumber daya Indonesia tidak bisa menyamai dua negara tersebut. “Sumber daya kita tidak bisa bangun rumah sakit secepat kilat. Maka gedung-gedung pemerintah dipakai dan itu sudah dilakukan sebagai rencana cadangan,” terangnya.

Selain itu, sumber daya dokter dan petugas medis lainnya juga tidak akan bisa merawat pasien korona jika kasusnya meledak di Indonesia. “Kalau tenaga medis tidak mencukupi, mereka bisa kelelahan dan akan bisa semakin kacau,” paparnya.

Dia pun berharap besar, masyarakat Indonesia mendukung kebijakan yang diambil pemerintah dalam penanganan korona. Terlebih, dr Cholis masih banyak menjumpai kerumunan orang di dalam kafe, serta kerumunan orang yang antre membeli makanan di sekitar kampus.

 

Unggul, Jauh Permukiman Warga

 

Terpisah, Kepala Tim Medis Satgas Penanganan Covid-19 Letkol Ckm dr Maksum Pandelima SpOT menyatakan, Jember itu beruntung memiliki tempat seperti JSG. Terlebih, kata dia, posko karantina korona yang nanti untuk ODR dan ODP itu baru pertama di Indonesia. Bahkan, Malang dan Surabaya, yang sudah masuk kategori zona merah di Jawa Timur, tidak memiliki fasilitas seperti JSG.

Artinya, dia menegaskan, stadion di Malang dan Surabaya itu lokasinya di padat penduduk. Terlebih lagi, juga aktif sebagai home base klub, serta di sekitar juga ada kegiatan ekonomi seperti berdagang. Oleh karenanya, JSG itu dinilainya sangat cocok lantaran jauh dari permukiman penduduk, serta tidak ada kegiatan rutin olahraga dan ekonomi seperti stadion di kota-kota besar lainnya. “Sekitar JSG ini masih persawahan, jauh dari rumah penduduk. Ini sangat cocok. Selain jauh dari rumah warga, udara yang dihasilkan juga sejuk,” tambahnya.

Lantas, mengapa tidak memakai gedung milik pemkab, seperti eks Gedung BHS samping lapas atau GOR PKPSO? Alasan utama adalah gedung tersebut dekat permukiman warga. Sementara itu, kata dia, JSG ada nilai plusnya. “Selain jauh dari rumah penduduk dan udaranya sejuk, sinar matahari di JSG itu melimpah,” ungkapnya.

Jadi, kata dr Maksum, dalam penanganan virus korona, cahaya matahari juga menjadi bagian yang penting. Sebab, virus itu suka dengan daerah yang basah dan lembap. Dia kemudian mempertegas, pasien yang akan dirawat di posko karantina hanya ODR dan ODP. “Kalau pasien dalam pengawasan (PDP) bahkan yang positif, tempatnya bukan di sini, tapi di rumah sakit,” terangnya.

Tim Medis Satgas Penanganan Covid-19 Jember, dia menjelaskan, sangat paham bagaimana menghindari penularan penyakit antarpasien. “Kami tidak mungkin mengumpulkan orang sehat dengan orang sakit,” katanya. Sehingga, kata dia, kunci pertama siapa yang akan dirawat di JSG itu harus ada pengecekan. “Screening ini akan dilakukan ketat,” ujarnya.

Perihal tempat tidur memakai velbed dan tidak ada sekat layaknya rumah sakit, dr Maksum menyatakan, tidak ada masalah. Bahkan, menurut dia, justru lebih baik pakai velbed, karena untuk pembersihan serta meseterilkan dengan disinfektan jauh lebih mudah. Lagi pula, orang yang dirawat di JSG nantinya bukan yang positif dan PDP. “Di Natuna juga pakai velbed. Bahkan, memakai tenda yang berdiri di dalam hanggar,” jelasnya.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih