Terus Kejar Aktor Besar 

Kejaksaan Tetapkan Tersangka Ketiga Kasus Pasar Manggisan

IRIT BICARA: M Fariz Nurhidayat, tersangka dugaan korupsi pembangunan Pasar Manggisan tak berkomentar ketika ditanya juru warta. Dia hanya memekik bahwa Tuhan tidak tidur.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus dugaan korupsi pembangunan Pasar Manggisan, Kecamatan Tanggul, terus berlanjut. Kemarin (24/1), Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember kembali menetapkan seorang tersangka yang menjadi pelaksana proyek. Dia adalah Edi Sandi, pria asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Edi menjadi tersangka ketiga, setelah kejaksaan menetapkan mantan Kepala Disperindag Anas Ma’ruf dan konsultan perencanaan, Fariz Nurhidayat, sebagai tersangka.

IKLAN

Ditetapkannya Edi semakin mengungkap adanya permainan dalam revitalisasi proyek pasar tersebut. Bagaimana tidak, Anas Ma’ruf, yang saat itu menjadi pengguna anggaran, mempercayakan konsultan perencanaannya kepada Fariz. Sementara itu, Fariz diketahui sebagai orang yang meminjam bendera kepada pengusaha lain.

Nah, permainan itu semakin terlihat saat Edi juga diketahui sebagai orang yang hanya menerima kuasa dari Direktur PT Dita Putri Waranawa. Dengan kata lain, Edi hanyalah seseorang yang meminjam bendera seperti halnya Fariz yang menjadi konsultan perencana. Bedanya, Edi baru diketahui terlibat di Pasar Manggisan, sementara Fariz disebut-sebut menjadi pelaksana proyek pada puluhan pembangunan fisik di Jember. Termasuk dalam kasus ambruknya balai Kantor Kecamatan Jenggawah.

“Tersangka ES ini adalah pelaksananya. Dia yang mendapat kuasa dari direktur (PT Dita Putri Waranawa, Red),” kata Kepala Seksi (Kasi) Intelijen Kejari Jember Agus Budiarto, sore kemarin (24/1).

Pria yang juga menjadi Humas Kejari Jember itu menyebut, Edi bertugas untuk membantu kegiatan PT yang melaksanakan pengerjaan proyek di Jember. Edi juga disebut bukan sebagai orang yang masuk kepengurusan dalam PT pelaksana proyek. Akan tetapi, dia yang mendapat kuasa dan bertanggung jawab atas pengerjaan proyek itu. “Dia sebagai orang yang menerima kuasa dan peminjam perusahaan juga,” jelas Agus.

Kepala Seksi (Kasi) Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Jember Setyo Adhi Wicaksono menguraikan, Edi ditetapkan sebagai tersangka ketiga dalam megaproyek Pasar Manggisan. Ini setelah pihaknya mengantongi dua alat bukti. Pertama, pembangunan proyek yang mangkrak, dan kedua adalah bukti hitam di atas putih.

“Sampai sekarang, Pasar Manggisan belum selesai. Yang jelas, kami menetapkan tersangka sesuai dengan dua alat bukti yang ada. Dia dapat kuasa, dan surat kuasanya dari direktur itu ada,” papar Adhi Wicaksono.

Tersangka ketiga ini diharapkan semakin membuka tabir skandal proyek Pasar Manggisan yang dianggarkan Rp 7,8 miliar. Sebab, hasil perhitungan tim ahli yang diminta oleh kejaksaan akibat kongkalikong itu mengakibatkan kerugian negara yang ditaksir mencapai Rp 685 juta. Oleh karena itu, kejaksaan masih terus mengejar aktor besar yang bermain di belakang para tersangka tersebut.

Terlebih, dua tersangka sebelumnya juga disebut bukan pemain utama yang memiliki peran signifikan mengatur proyek bermasalah tersebut. Ditengarai masih ada ‘orang kuat’ yang belum tersentuh aparat penegak hukum. “Penyelidikan kasus ini masih terus dilakukan. Masih ada kemungkinan tersangka lagi,” pungkas Adhi.

Sekadar informasi, proyek pembangunan Pasar Manggisan yang dianggarkan menggunakan APBD 2018 sebesar Rp 7,8 miliar mangkrak akibat perencanaan dan pengerjaan yang tidak profesional. Dari anggaran yang disediakan, disebut-sebut baru sekitar separuh dana yang telah dicairkan atau sekitar Rp 3,4 miliar. Namun demikian, meski pengerjaan pasar sudah diperpanjang beberapa kali, tetapi tetap tidak bisa diselesaikan.

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih