daring.Cerita Karmu, Tukang Ojek Pangkalan di Daerah Kampus

Berjaya di Masanya, Kini Sepuluh Hari Mangkal Tak Dapat Penumpang

Ojek seolah telah jadi bagian hidup Karmu. Sejak motor jadi barang langka hingga membeludak seperti sekarang ini, Karmu tetap setia menekuni profesinya. Bahkan ketika rekan-rekannya sudah berhenti akibat serbuan ojek daring.

TUKANG OJEK SEJATI: Karmu, tukang ojek pangkalan di Bundaran DPRD masih setia dengan pekerjaannya. Walau kini keberadaannya tergerus perkembangan transportasi

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keberadaan kendaraan di daerah kampus tidak perlu diragukan lagi. Beragam jenis mobil bertebaran, motor pun begitu. Transportasi umum pun ada. Ada angkutan kota atau disebut lin, becak, hingga ojek daring (online).

IKLAN

Walau daerah kampus telah ramai kendaraan dan pilihan sarana transportasi umum, tapi ojek pangkalan masih saja bertahan. Mereka biasanya mangkal di bundaran DPRD. Sekilas, tempat ojek pangkalan itu tidak seperti pada umumnya. Selain ukurannya yang mini, tulisan yang menandakan bahwa tempat itu adalah pangkalan ojek juga sudah kabur karena berkarat. Karenanya, jika dilihat sekilas, lokasi itu lebih seperti tempat berteduh.

Beratapkan asbes, pangkalan itu berukuran cukup kecil sekitar 2×1 meter. Tak banyak motor yang terparkir di sana. Beberapa waktu lalu hanya terlihat dua motor dan satu becak. Sementara itu, di sebelahnya tampak seorang pria paruh baya yang duduk bersila.

“Sekarang ini, tukang ojek yang mangkal cuma saya,” kata Karmu, lelaki bersila itu, kepada Jawa Pos Radar Jember. Dia pun menunjukkan motor Yamaha RX 100 keluaran 1980-an. Kendaraan butut inilah yang dipakainya mencari nafkah.

“Kalau motor bebek Honda Prima ini milik tukang kunci, bukan ojek,” jelasnya, sembari menunjuk kendaraan yang berada di sebelahnya. Mengenakan topi dan rompi biru tua, pandangan Karmu terlihat tidak fokus. Sesekali dia menatap padatnya lalu-lalang kendaraan di Bundaran DPRD. Dia juga mengamati setiap orang yang melintas. Siapa tahu, salah seorang di antara mereka membutuhkan jasanya.

Karmu termasuk orang pertama sejak pangkalan ojek itu berdiri pada 1995 lalu. Bahkan, bisa jadi, pria kelahiran 1952 ini juga menjadi tukang ojek bundaran DPRD yang terakhir. Sebab, dari puluhan tukang ojek pangkalan, kini hanya tersisa dua orang. “Hanya sisa dua orang saja. Saya dengan kemenakan, namanya Nili, panggilannya Pak Amir,” tuturnya.

Meski ada dua orang, tapi yang rutin nongkrong di pangkalan ojek adalah Karmu. Sejak bujang sekitar 1980-an hingga jadi kakek seperti saat ini, pekerjaannya tetap sama. Tak pernah berganti. Yakni sebagai tukang ojek. “Awalnya dulu ojek di Gladak Kembar, tapi waktu itu tidak punya motor, setiap hari harus setoran,” kisahnya.

Sejak memiliki motor sendiri dan dibukanya beberapa titik pangkalan ojek oleh Satlantas Polres Jember, dia kemudian pindah haluan mencari nafkah di daerah kampus. Dulu, kata dia, banyak sekali tukang ojek yang mangkal di tempatnya sekarang. Jumlahnya sekitar 25 orang. Bahkan, pangkalan ojek itu tak mampu menampung semuanya. “Dulu penumpangnya ramai. Baru ngantarkan penumpang dan balik ke pangkalan, sudah ada penumpang yang antre,” ceritanya.

Seiring dengan pertumbuhan mahasiswa yang banyak memakai kendaraan pribadi, pendapatannya mulai menurun. Kendati begitu, masih saja ada penumpang yang membutuhkan jasanya. Namun sejak banyaknya ojek daring sekitar 2016 lalu, pendapatannya turun drastis. Bahkan, teman-temannya sesama ojek sudah berhenti dan banting setir jadi tukang bangunan. “Teman-teman ke Bali jadi tukang. Ada juga yang berdagang,” jelasnya.

Alasan Karmu tidak berubah haluan lantaran dua tidak punya keahlian seperti itu. “Saat manisnya jadi tukang ojek mau, saat pahitnya dan sepinya penumpang ya harus diterima,” katanya. Dia mengaku tidak bisa mengikuti ojek daring, karena selain tak memiliki gawai, dirinya juga tak bisa mengoperasikan telepon pintar tersebut.

Alasan lainnya, Karmu meyakini masih ada orang-orang yang membutuhkan jasanya secara mendadak lantaran tidak punya handphone. “Kadang ibu-ibu butuh cepat tapi nggak punya HP. Ada juga mahasiswa yang tiba-tiba minta antar ke stasiun ataupun terminal,” tambahnya.

Karmu ingat betul, di masa jayanya, profesi tukang ojek sangat menggiurkan. Sebab, dulu masih jarang ada kendaraan. Kebanyakan masyarakat cuma menggunakan bendi atau dokar sebagai alat transportasi umum. Namun saat ini, kondisinya jauh berbalik. Meski ojek masih menjadi favorit, tapi masyarakat lebih memilih ojek daring, bukan konvensional seperti dirinya. Bahkan suatu ketika, dirinya pernah 10 hari tak mendapat penumpang.

Bila dihitung, sebenarnya tarif ojek pangkalan dengan daring juga sama. Ke Terminal Tawang Alun, misalnya, tarifnya cuma Rp 25 ribu. Sedangkan untuk menutupi kekurangan pendapatan sebagai tukang ojek, Karmun dibantu istrinya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Istrinya membuat kerupuk puli yang dititipkan ke warung-warung.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih