Belum Diserahkan Sudah Mrotol

Pengerjaan Proyek RTH juga Molor 

SUDAH MROTOL: Fasilitas permainan anak di RTH Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates. Kondisinya sudah mulai ada yang rusak.

JEMBER, RADARJEMBER.ID Pembangunan proyek ruang terbuka hijau (RTH) di Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, tampaknya perlu mendapat perhatian lebih. Sebab, sebelum pengerjaannya tuntas dan diserahkan ke Pemkab Jember, fasilitas permainan anak yang ada di RTH tersebut sudah rusak dan copot.

IKLAN

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, sudah ada dua mainan yang pegangannya mrotol. Oleh sebab itu, ketika ada siswa yang bermain, sulit berpegangan karena memang sudah lepas. Bahkan beberapa pegangan yang terbuat dari besi juga terlihat mulai berkarat. Padahal fasilitas ini untuk bermain anak-anak, sehingga dinilai berbahaya jika kondisinya berkarat.

Tak hanya fasilitas permainan anak, lantai di kawasan permainan anak itu kualitasnya juga cukup kasar, karena langsung dicor semen. Ini semisal ada anak yang terjatuh ketika berlari-lari di tempat itu, rawan terluka. Demikian juga dengan puluhan bola lampu yang menghiasi sekeliling RTH. Penyangga bola lampu tersebut hanya menggunakan paralon plastik.

Selain faktor kualitas, pembangunan proyek RTH itu juga molor dari tenggat semestinya. Misalnya pengerjaan gedung RTH di Kecamatan Arjasa. Molornya proyek tersebut memunculkan dugaan bahwa ada perencanaan yang tidak tepat.

Wakil Ketua Bidang Jasa Konstruksi Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Jember Andi Marta Negara menjelaskan, proses pembangunan fisik yang banyak molor di Jember tidak lepas dari perencanaan awal. Menurutnya, apabila perencanaannya matang, maka pembangunan konstruksi tak akan molor. Perencanaan yang salah juga berpengaruh terhadap kualitas bangunan.

“Tahun 2019 Jember ini paling cepat menetapkan APBD. Akan tetapi, melihat pekerjaan di lapangan banyak yang molor. Ini tentu berkaitan dengan perencanaannya. Kalau APBD cepat, seharusnya perencanaan itu bisa lebih matang, sehingga tidak molor,” jelasnya.

Anggota Komisi C DPRD Jember Agusta Jaka Purwana menjelaskan, molornya pembangunan fisik seharusnya menjadi evaluasi Pemkab Jember. Akan tetapi, molornya pekerjaan seperti itu seakan menjadi langganan. Dia pun meminta pembangunan Pasar Manggisan pada 2018 lalu menjadi contoh yang tak boleh diulang. Sebab, proyek revitalisasi pasar tradisional itu juga molor, bahkan kualitasnya dipermasalahkan hingga diusut oleh kejaksaan.

“Tapi sayang, pada tahun 2019 juga banyak pekerjaan yang molor. Harusnya itu tidak terjadi. Apalagi sampai berganti tahun. Ini yang molor pekerjaan 2019, sekarang sudah 2020,” katanya.

Agusta pun menyebut, proyek fisik yang penyelesaiannya molor tidak bisa lepas dari proses perencanaan di awal. Bila perencanaannya tepat dan tidak dilakukan dengan waktu yang mepet, tentu akan bisa dikerjakan secara maksimal. “Kalau sanksi tentu sudah diatur. Tetapi yang kami sesalkan, kenapa masih banyak yang molor,” ucapnya.

Dia menyarankan, Pemerintah Kabupaten Jember sudah selayaknya membuka diri dan banyak mendengar masukan dari para pakar sebelum mengambil kebijakan. Ke depan, dia menegaskan, jangan sampai proyek pembangunan pengerjaannya hingga bersambung ke tahun berikutnya. “Harus banyak orang yang diminta sarannya, sehingga pembangunan tidak molor seperti ini. Cari perencana yang kredibel dan pelaksana proyek yang baik,” pungkasnya.

Reporter : Jumai, Nur Hariri

Fotografer : Jumai

Editor : Mahrus Sholih