Cerita Panti Asuhan Mambaul Ulum dalam Merawat Bayi Titipan

Ada Anak Pasangan Mahasiswa hingga Bayi dari Ibu yang Dipenjara

Yayasan Panti Asuhan Mambaul Ulum sudah puluhan tahun keberadaannya. Panti asuhan yang menampung anak-anak yatim ini lambat laun juga sedikit bergeser tidak lagi merawat anak yatim. Tapi, mau tidak mau mereka juga merawat bayi yang dibuang oleh orang tuanya.

SEPERTI KELUARGA SENDIRI: Anak-anak di Yayasan Panti Asuhan Mambaul Ulum berfoto bersama dengan pengasuh. Yayasan ini kerap dipasrahi merawat bayi yang kelahirannya tak dihendaki.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Malam itu tahun 2015, tepatnya hari ke dua Idul Fitri, Yayasan Panti Asuhan Mambaul Ulum tak seperti biasanya. Tampak sepi dari aktivitas anak-anak yatim. Namun, suasana hening itu tiba-tiba dipecahkan suara tangisan anak yang terdengar lirih. Suara itu membuat H Muh Yazid Islamiyah, Pengasuh Yayasan Panti Asuhan Mambaul Ulum, beserta istrinya terbangun dari tempat tidurnya.

IKLAN

Saat keluar rumah, Yazid tampak bingung. Dia mendengar suara tangisan bayi itu bersumber dari masjid yayasan. Tanpa pikir panjang, Yazid langsung menuju rumah ibadah itu. Nyatanya, keranjang yang tergeletak di teras masjid berisi bayi lengkap dengan perlengkapannya. “Ada sabun, bedak, dan lainnya,” ungkap istri Yazid.

Cerita bayi yang dimasukkan ke kotak dan diletakkan di depan rumah ini bukan kisah sinetron di televisi, tapi nyata dan terjadi di yayasan yang berada di Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, tersebut. Yazid pun menyodorkan klipingan koran Jawa Pos Radar Jember terbitan 19 Juli 2015. “Ini beritanya ada di koran,” kata Yazid, kepada Jawa Pos Radar Jember.

Rupanya, tak hanya sekali itu saja Mambaul Ulum menerima dan merawat bayi yang dibuang oleh orang tuanya. Tapi sudah beberapa kali. Faktor yang melatarinya juga bermacam-macam. “Ada yang karena persoalan ekonomi, anaknya ditaruh di sini. Ada TKW, ada pula ibunya dipenjara, serta ada juga pasangan mahasiswa,” ungkapnya.

Yazid tak memungkiri ada pasangan dua sejoli yang masih berstatus kuliah menyerahkan bayinya. “Kedua orang tua yang masih mahasiswa itu dari luar Jawa dan juga beda agama,” paparnya. Karena takut dan lainnya, sehingga memilih bayinya untuk ditaruh di panti asuhan. “Karena di sini mau menerima anak dari pergaulan bebas, bukan berarti saya setuju pergaulan bebas. Tapi, kasihan bayi ini,” terangnya.

Yazid menjelaskan, sebenarnya tidak ada orang tua mana pun yang ingin membuang anaknya. Tapi karena ada sesuatu persoalan, malu dengan lingkungan, keluarga, hingga takut terhadap kedua orang tua, membuat ibu yang selama 9 bulan mengandung memilih membuang anaknya. Tak sekadar itu, orang tua yang membuang bayinya juga tidak tahu apakah itu menyalahi hukum atau tidak, juga kebingungan diserahkan ke siapa bayi tersebut.

Padahal, kata Yazid, jika bayi itu tidak mau dirawat, lebih baik melaporkan ke dinas sosial (dinsos) agar pemerintah mencari pengasuh atau orang tua yang mau mengadopsi. “Setiap ada bayi atau anak yang mau diserahkan ke kami, harus lapor dulu ke dinsos. Takut nanti ada apa-apa di kemudian hari,” paparnya.

Yazid mengaku, pernah ada kejadian orang yang ingin mengambil anak yang dititipkan di panti asuhan Mambaul Ulum. “Jadi, awalnya ada nenek menyerahkan balita ke kami, karena tidak ada biaya lagi,” ungkapnya. Namun, pada suatu ketika ada ibu-ibu datang dari Bali meminta balita tersebut karena itu adalah anaknya. Tak hanya itu, juga ada orang yang mengaku pamannya dan budenya. “Ibu dari Bali itu memang benar ibu kandungnya. Tapi sejak bayi, tidak dirawat dan diserahkan ke neneknya,” tambahnya.

Anak yang baru-baru ini dirawat oleh panti asuhan adalah balita yang dipisahkan dari ibunya karena ada persoalan hukum. Oleh polisi, yayasan ini dipasrahi untuk merawat bayi tersebut. Sejak yayasan itu berdiri, sebetulnya tidak ada tujuan dan berpikir akan menampung bayi-bayi yang dibuang oleh orang tuanya. “Sebenarnya ya terpaksa. Mau tidak mau ya harus mau. Secara kesiapan ya tidak siap, karena menampung bayi itu harus ada sarana dan prasarana untuk tumbuh kembang bayi, termasuk juga petugas medisnya. Sementara, kami tidak punya seperti itu semua,” jelasnya.

Dia mengaku, Yayasan Mambaul Ulum awalnya adalah pondok pesantren pada umumnya yang berdiri sejak 1925. “Jadi, saya ini generasi ketiga. Pertama itu Kiai Habibullah Musa, generasi kedua Kiai Muh Samsul Arifin, dan generasi ketiga saya sendiri,” terang pria 54 tahun ini.

Lantaran santrinya mulai banyak anak-anak yatim, maka pada 1965 pihaknya mulai mendaftarkan sebagai panti asuhan. “Tahun 1990 pendaftaran resmi ke notaris,” jelasnya. Kini total ada 100 anak yatim maupun anak telantar yang dirawatnya.

Lantas, bagaimana bisa bertahan puluhan tahun merawat anak yatim. Kuncinya harus sayang binatang dan bisa merawatnya. Di lingkungan Mambaul Ulum memang banyak kucing sebagai hewan peliharaan. “Merawat kucing itu tidak ada untungnya, dagingnya tidak bisa dimakan, tidak bisa dijual. Kucing ya sukanya makan, tidur. Belum lagi membersihkan kotorannya dan baunya gak kalah dengan manusia,” paparnya.

Hanya saja, kata dia, jika bisa merawat kucing dengan baik dan hewan mengeong itu betah, maka Yazid meyakini orang itu bisa merawat anak yatim. “Makanya konsep santri di ponpes dan anak yatim ini beda. Kalau merawat anak-anak ini, saya seperti orang tua mereka. Juga bercanda dan lainnya,” tambahnya.

Selama merawat anak yatim termasuk anak-anak yang dibuang oleh orang tuanya, dia tidak pernah menutupi latar belakang mereka. “Saya ajarkan dari kecil nama ayahnya dan ibunya siapa. Kalau saya itu abahnya dan istri saya uminya,” pungkasnya.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih