Susmiadi, Mantan Camat yang Hidup untuk Seni

Pernah Gagal di Jakarta, Kini Hasilkan Ribuan Lukisan

Darah seni Susmiadi mengalir dari keluarga besarnya. Meski petani, sang ayah hobi melukis wayang. Sedangkan almarhum kakaknya pembuat ilustrasi komik jempolan. Wajar jika dia ingin menjadi pelukis tersohor. Meski begitu, tak banyak yang tahu. Di tengah kehidupan yang terbatas dulu, dia sempat nekat ke Jakarta demi mewujudkan impiannya. Bagaimana kisahnya?

MENYATUKAN WARNA: Susmiadi tengah merampungkan salah satu lukisan pesanan pelanggannya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu Susmiadi hendak mulai melukis. Bukan menggunakan kuas, melainkan menggunakan cetok kecil yang biasa disebut palet. Sebab, lukisan yang akan digarapnya ini adalah jenis abstrak, bukan realis. Lukisan itu adalah pesanan nomor wahid di awal September. Sudah tiga hari lukisan bercorak kuda itu digarap. Hampir selesai. “Mungkin kurang 30 persen lagi,” ungkapnya, sembari menciduk cat.

Pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) ini dapat merampungkan satu lukisan dalam waktu tiga hari hingga satu minggu. Tergantung jenis dan ukuran yang digarap. Baginya, melukis wajah adalah tantangan paling sulit. “Karena kita seolah menduplikasi wajah pemesan,” tambah mantan Camat Kencong tersebut.

Tiada hari tanpa melukis. Jika kadung menggabungkan warna, Susmiadi bisa tidak tidur selama tiga hari. Ini bukan perkara target penyelesaian yang dipasang pemesan. Melainkan, karena kecintaannya dalam melukis. Rasanya, hidupnya sedang diwakafkan untuk melukis. Dalam setiap kegiatan, Susmiadi berprinsip untuk menciptakan lukisan yang belum pernah dilihat oleh orang. Sampai-sampai lukisannya selalu berhasil memikat orang untuk memilikinya.

Kini, lukisan Susmiadi dapat dinikmati di seluruh Indonesia. Bahkan Eropa. Itu bermula, sebelum peristiwa bom Bali, ketika temannya dari Pulau Dewata memperkenalkan para turis Eropa dengan lukisannya. Mereka kepincut. Lalu, memesan beberapa lukisan yang langsung dikirim ke Eropa. “Saya bersyukur, walaupun belum pernah ke Eropa, tapi lukisan saya sudah sampai sana,” tuturnya pelan, kemudian menatap ke langit- langit rumah.

Susmiadi lahir dari keluarga yang memiliki ekonomi pas-pasan. Untuk bisa sekolah SLTA, ia harus ikut pakde-nya di Kencong, Jember. Susmiadi bukan warga asli Jember. Ia berasal dari Jombang, Jawa Timur. Mengadu nasib ke Jember untuk mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang lebih layak.

Di tengah kesibukannya membantu pekerjaan rumah tangga pakde dan sekolahnya, Susmiadi ajek melukis. Di awal, ia sangat gemar menggambar pahlawan. Lukisan pertamanya yang berhasil terjual adalah Diponegoro. Saat itu laku Rp 500. Di tahun 80-an segitu cukup besar. “Nggak langsung laku. Saya harus berkeliling mengayuh sepeda dari rumah ke rumah,” ungkapnya.

Lalu, pada tahun 1981, Susmiadi nekat pergi ke Jakarta. Mengadu nasib untuk menjadi pelukis kenamaan sesuai dengan impiannya. Padahal kala itu, dia sudah bekerja sebagai pegawai penjaga pintu air (PPA) di Dinas Pengairan. Susmiadi kabur dari pekerjaannya tanpa pamit. Tak ada yang tahu rencananya itu. Sekalipun pakde dan orang tuanya di Jombang. Ia hanya berkabar kepada kakak iparnya yang tengah merantau di ibu kota.

Sadar tak punya banyak uang saku, ia pun berbohong kepada ibunya jika sedang membutuhkan uang untuk membeli motor. Susmiadi dikirimi Rp 2 juta hasil utang. “Namanya sudah berbohong, makanya nggak lancar di Jakarta,” tuturnya.

Selain berbekal uang Rp 2 juta, Susmiadi juga membawa tujuh lukisan. Namun, belum sampai Jakarta, lukisan itu rusak. Diinjak-injak oleh para penumpang kereta. Sesampainya di Jakarta, ia langsung memperbaiki kembali lukisan itu. Lalu memajangnya di sebuah pagar dekat rentetan penjual makanan di Blok M Jakarta. Apes. Ia diusir.

Susmiadi pindah tempat di depan SMA 17 Jakarta. Tak ada yang melirik. Lapaknya sepi. Tak surut semangat, beberapa hari kemudian ia berniat menjual tiga lukisannya pada sebuah galeri Jogi Painting yang kala itu mengadakan pameran di Hotel Borobudur, Jakarta. Rupanya pemilik galeri tak melirik sama sekali. “Ia mengatakan, jika lukisan saya lebih baik dari yang dipajang, maka ia akan membelinya dengan harga berapa pun,” kenang Susmiadi.

Susmiadi melongo ketika melihat lukisan yang dipajang di galeri. Sebab, semua lukisan tersebut adalah karya pelukis terkenal. Salah satunya adalah Afandi. “Akhirnya, saya belajar di sana. Tinggal seminggu jadi pesuruh. Dapat makan plus dapat ilmu. Mulai saat itu, saya harus melukis sesuatu yang belum pernah dilukis orang,” bebernya.

Ikhtiar tetap dijalankan. Menjajakan lukisan selama tiga bulan. Titik balik Susmiadi muncul ketika ia menjual lukisan di Taman Ancol. Di sana, Susmiadi terpesona dengan lukisan laki-laki sepuh yang juga tengah memajang karyanya. “Saat itu saya khawatir, kalau saya bakal seperti orang tua itu. Punya lukisan bagus tapi nggak terkenal. Apalagi saat itu, kondisi finansial saya juga tidak begitu baik,” paparnya.

Akhirnya, Susmiadi balik ke Kencong. Kembali ke kantor pengairan tempat semula ia bekerja. Ia sempat ditolak karena pergi ke Jakarta tanpa pamit. Dia mendapat skors selama satu bulan. Usai menjalani hukuman, Susmiadi bekerja kembali di posisi yang sama selama enam tahun. Kendati kembali bekerja di Dinas Pengairan, Susmiadi tetap menjalankan kegemarannya. Kini, ribuan karya telah dia hasilkan. “Setelah bekerja di kantor, saya melukis. Tiada hari tanpa melukis. Karena bagi saya melukis adalah kebebasan,” pungkasnya.

Editor: Mahrus Sholih
Reporter: mg1
Fotografer: mg1