Ajarkan Mendalang via Daring

ATRAKTIF: Ki Eddy Siswanto saat menjadi dalang dalam pertunjukan wayang kulit. Kini, dalang berjuluk Sabet Alap Alap itu tak lagi mengajari muridnya lewat tatap muka, melainkan secara daring.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Wabah Covid-19 tak menghalangi Ki Eddy Siswanto menularkan kepandaiannya kepada anak didik. Sebagai pelestari kesenian tradisional, mewariskan ilmu pedalangan sudah menjadi komitmennya. Kini, di tengah pandemi, dalang berjuluk Sabet Alap-Alap tersebut mengajarkannya lewat daring.

IKLAN

Saat Jawa Pos Radar Jember berkunjung ke kediaman Ki Eddy Siswanto, pemilik Sanggar Sasono Budoyo di Desa Karanganyar, Kecamatan Ambulu, rumahnya terlihat sepi. Kondisi ini sudah berjalan sebulan terakhir akibat wabah Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Bahkan, sebuah ruangan di halaman belakang rumah bernuansa Jawa itu kini tidak lagi terlihat murid yang belajar. Selama ini lokasi tersebut difungsikan sebagai tempat belajar mendalang.

Biasanya sejumlah anak berusia belasan tahun yang berstatus pelajar, berkumpul di sanggar itu. Tapi, sejak wabah korona, mereka sementara waktu diliburkan dan diminta belajar dari rumah masing-masing. “Sebagai seorang seniman dalang, saya harus mengikuti imbauan pemerintah untuk diam di rumah atau stay at home. Tapi, bukan berarti aktivitas belajar mengajar seni pedalangan ikut terhenti,” kata Eddy, baru-baru ini.

Nama Eddy sebagai dalang cukup populer, terutama di kawasan Jember selatan. Ketenaran ini lantas memunculkan ketertarikan puluhan anak baru gede (ABG) untuk berguru kepadanya. Bahkan, mereka tidak saja datang dari Kabupaten Jember, ada pula yang dari kabupaten lain, seperti Banyuwangi dan Lumajang.

“Belajar mendalang tetap jalan terus dan itu dilakukan setiap hari secara bergantian. Karena Covid-19, materi pelajaran disampaikan lewat online tak ubahnya sekolah formal saat ini,” ujarnya.

Eddy bercerita, lewat unggahan video yang dilakukan olehnya maupun sang murid dan dikirim melalui grup WhatsApp (WA), proses sinau mendalang itu bisa berjalan lancar. “Semua murid saya di rumah, kini memiliki seperangkat wayang kulit dan kelir atau layar yang terbuat dari kain lengkap,” paparnya.

Tak hanya itu, Eddy menambahkan, anak didiknya juga memiliki miniatur pentas dalang lengkap dengan gedebok atau batang pisang, kotak, keprak, bahkan ada di antaranya dilengkapi fasilitas gamelan. “Mereka waktu memegang dan memainkan wayang kulit harus direkam dalam bentuk video singkat menggunakan HP. Kemudian mengirimkan ke saya lewat WA,” ungkapnya.

Apabila gerakan muridnya saat memainkan wayang kulit terdapat kekeliruan, maka Eddy bergegas membetulkannya dan itu dilakukan sama persis seperti anak didiknya, yakni lewat rekaman video dan selanjutnya ia kirim kembali ke WA. Hal itu dilakukan berulang-ulang, hingga gerakan murid sudah dianggap benar oleh Eddy. “Dengan begitu, saya sebagai guru bisa mengoreksi murid. Kendati menempuh cara seperti itu, keseluruhan murid saya tetap antusias belajar mendalang,” tuturnya.

Agar setiap muridnya memiliki karakter atau ciri tersendiri, atau ketika mereka benar-benar lincah dan kemampuannya mendalang tidak diragukan lagi, sebagai guru dalang Eddy memiliki trik tersendiri agar masing-masing muridnya memiliki kekhasan tersebut. Hasil itu bisa dilihat dari beberapa muridnya. Di antaranya Brian Prakoso, Permadi Trengginas Rizqi Anthony Rohman, dan Satria Wahyu Wicaksono. Ketiga nama tersebut juga dikenal sebagai dalang yang cukup trengginas.

Reporter : Winardyasto

Fotografer : Istimewa

Editor : Mahrus Sholih