Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

 65 Persen DAS Bedadung Kritis, Berpotensi Banjir

S
Penulis: Safitri❯
PEDULI LINGKUNGAN: Luh Putu Suciati, Ketua Program Studi PSDAP UNEJ, menyerahkan secara simbolis bibit pohon matoa kepada Abdurahman, Kepala Desa Sucopangepok.
PEDULI LINGKUNGAN: Luh Putu Suciati, Ketua Program Studi PSDAP UNEJ, menyerahkan secara simbolis bibit pohon matoa kepada Abdurahman, Kepala Desa Sucopangepok.
JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebanyak 65 persen daerah aliran Sungai Bedadung berada dalam kondisi kritis akibat erosi berat. Salah satu penyebab erosi adalah penebangan hutan dan alih guna lahan yang masif, terutama di daerah hulu DAS Bedadung. Hal itu berdasarkan data yang dihimpun dari penelitian dengan metode geographic information system (GIS) oleh Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Air Pertanian (PSDAP) Program Pascasarjana Universitas Jember.

Jika kondisi ini dibiarkan, maka berpotensi terjadi bencana banjir, erosi, sedimentasi, dan longsor, terutama di daerah hilir. Untuk mengatasi kondisi ini, mahasiswa Program Studi PSDAP Universitas Jember menanam 3000 bibit pohon di tiga dusun di Desa Sucopangepok, Kecamatan Jelbuk, kemarin (23/12).

Fauzan Mas’udy, ketua panitia kegiatan, mengatakan bahwa pemilihan Desa Sucopangepok sebagai lokasi penanaman pohon karena termasuk dalam hulu DAS Bedadung, dengan kondisi kemiringan lahan yang mencapai 40 persen. Selain itu, menjadi salah satu lokasi hulu DAS Bedadung yang menyuplai air melalui Sungai Bedadung ke berbagai daerah pertanian di Jember.

“Harusnya hulu DAS yang kemiringannya mencapai 40 persen wajib ditetapkan sebagai daerah konservasi agar pasokan air terjaga, serta meminimalkan longsor dan erosi,” jelas Fauzan, mahasiswa PSDAP Universitas Jember angkatan tahun 2017. Dia menyebut, kegiatan itu dalam rangka memperingati Hari Tanam Pohon Sedunia

Program Studi PSDAP menggandeng perangkat desa, petani, dan tokoh masyarakat Desa Sucopangepok untuk menanam 3000 bibit tanaman buah dan kayu keras di lahan seluas lima hektare. Yakni di Dusun Krajan, Lengkong, dan Gujuran. Bibit tanaman tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Mulai dari pohon durian, jambu, sirsak, matoa, kelengkeng, dan lainnya. “Sebelum melakukan penanaman bibit pohon, kami memberikan pelatihan teknik penanaman pohon di lahan DAS bagi petani yang disampaikan oleh Eko Gatot dari Forum DAS Sampean, dan materi mengenai konservasi DAS oleh dosen Faperta Unej, Marga Mandala,” terangnya.

Kepala Desa Sucopangepok Abdurahman menambahkan, lahan DAS di desanya berubah karena petani memilih untuk menanam pohon sengon yang lebih cepat dipanen. “Dalam jangka waktu empat tahun sudah bisa dipanen, tapi akibatnya lahan DAS jadi gundul saat sengon dipanen. Akibatnya, beberapa kali desa kami dilanda banjir kala musim hujan,” tuturnya.

Wawan Sujarwo, Ketua Himpunan Mahasiswa PSDAP, menyebut, Desa Sucopangepok adalah salah satu hulu DAS Bedadung selain daerah Arjasa, Kemuning, Klungkung, Rembangan, dan Bacem di Jember. Mengingat pentingnya posisi Desa Sucopangepok, maka mahasiswa PSDAP Universitas Jember secara berkala memberikan pembinaan bagi petani setempat. “Seperti pelatihan menjaga DAS, diskusi, dan membagikan bibit tanaman buah dan kayu keras,” pungkasnya.

 

Advertisement
Advertisement

Artikel Terkait

Perda LP2B Jadi Landasan Penyesuaian RTRW, Dorong Kepastian Hukum Pemanfaatan Lahan

Perda LP2B Jadi Landasan Penyesuaian RTRW, Dorong Kepastian Hukum Pemanfaatan Lahan

Pemerintah daerah, lanjutnya, juga memfasilitasi dukungan bibit kopi dan pembiayaan untuk mendukung pengembangan tanaman masyarakat.

Dorong Keseimbangan Kebijakan Tembakau di Bondowoso, 874 Titik Iklan Rokok Terdeteksi Dekat Sekolah

Dorong Keseimbangan Kebijakan Tembakau di Bondowoso, 874 Titik Iklan Rokok Terdeteksi Dekat Sekolah

Tim peneliti berharap hasil kajian tersebut dapat menjadi masukan bagi Pemkab Bondowoso dalam menyusun kebijakan sektor tembakau yang lebih terukur.

Perda Lahan Pertanian Berkelanjutan Disahkan, Bondowoso Klaim Perkuat Perlindungan Lahan Pangan

Perda Lahan Pertanian Berkelanjutan Disahkan, Bondowoso Klaim Perkuat Perlindungan Lahan Pangan

Hamid berharap, perda tersebut nantinya tidak hanya menjadi produk hukum, tetapi benar-benar menjadi pedoman dalam pelaksanaan kebijakan perlindungan kawasan pertanian pangan di Bondowoso.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer